Benarkah Kurang Minum Bisa Meningkatkan Risiko Batu Ginjal?

  • 16 Sep 2026 08:49 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Minum air putih mungkin terlihat seperti kebiasaan sederhana, tetapi kecukupan cairan memiliki kaitan penting dengan kesehatan ginjal. Salah satu masalah yang sering dikaitkan dengan kurangnya asupan cairan adalah batu ginjal. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), batu ginjal terbentuk ketika kadar mineral tertentu dalam urine cukup tinggi hingga membentuk material padat seperti kristal. Salah satu cara penting untuk membantu mencegahnya adalah mencukupi asupan cairan, terutama air.

Lalu, bagaimana kurang minum dapat berkaitan dengan terbentuknya batu ginjal? Ketika tubuh kekurangan cairan, jumlah urine dapat berkurang sehingga urine menjadi lebih pekat. Dalam kondisi tersebut, mineral pembentuk batu seperti kalsium, oksalat, atau asam urat dapat memiliki konsentrasi lebih tinggi sehingga lebih mudah membentuk kristal. Air yang cukup membantu mengencerkan urine dan meningkatkan aliran urine sehingga mineral tersebut lebih mudah dikeluarkan dari tubuh.

Hubungan antara asupan cairan dan batu ginjal juga didukung oleh pedoman medis. Pedoman European Association of Urology (EAU) menyebutkan bahwa peningkatan asupan air dapat menurunkan risiko kekambuhan batu ginjal. Untuk orang yang sudah pernah mengalami batu ginjal, pedoman tersebut merekomendasikan asupan cairan yang cukup untuk menghasilkan volume urine lebih dari 2,5 liter per hari, dengan air sebagai pilihan utama. Angka ini merupakan target pencegahan bagi kelompok tertentu, bukan berarti setiap orang harus memaksakan minum sebanyak itu.

Namun, kurang minum bukan satu-satunya penyebab batu ginjal. Faktor lain juga berperan, termasuk pola makan tinggi garam, konsumsi protein hewani tertentu, kelebihan berat badan, kondisi metabolisme, riwayat keluarga, serta jenis batu yang pernah terbentuk sebelumnya. Karena itu, seseorang yang jarang minum memang dapat memiliki salah satu faktor risiko, tetapi tidak tepat mengatakan bahwa setiap orang yang kurang minum pasti akan mengalami batu ginjal.

Selain batu ginjal, kekurangan cairan yang berat juga dapat memberikan tekanan pada fungsi ginjal. National Kidney Foundation menjelaskan bahwa dehidrasi berat dapat mengurangi aliran darah dan nutrisi menuju ginjal sehingga dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Kekurangan cairan juga dapat berkontribusi terhadap infeksi saluran kemih dan pembentukan batu karena urine menjadi lebih pekat.

Lantas, berapa banyak air yang sebenarnya harus diminum? Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang karena kebutuhan cairan dipengaruhi aktivitas, cuaca, kondisi tubuh, makanan, usia, dan kondisi kesehatan. NIDDK menyebutkan bahwa banyak tenaga kesehatan merekomendasikan sekitar enam hingga delapan gelas berukuran 8 ons per hari untuk orang sehat, tetapi kebutuhan dapat berbeda dan orang dengan penyakit tertentu, seperti gagal ginjal atau gagal jantung, justru mungkin perlu membatasi cairan sesuai anjuran dokter.

Jadi, benarkah kurang minum dapat meningkatkan risiko batu ginjal? Ya, kekurangan cairan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko, terutama karena membuat urine lebih pekat, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Menjaga kecukupan cairan, membatasi asupan garam secara berlebihan, dan menerapkan pola makan seimbang dapat membantu menurunkan risiko. Jika seseorang mengalami nyeri tajam di pinggang atau perut bagian bawah, darah dalam urine, sulit buang air kecil, atau keluhan saluran kemih lainnya, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan tidak sebaiknya hanya mengandalkan penambahan minum air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....