Budaya Berbagi di Madura Dinilai Menghadapi Krisis Empati

  • 14 Sep 2026 12:27 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Budaya berbagi dan empati masyarakat Madura dinilai menghadapi tantangan serius. Nilai tersebut sebelumnya kuat melalui tradisi gotong royong, long nolongi dan ottosan. Dosen Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Matroni, menyebut masyarakat kini mengalami krisis empati.

“Krisis empatik atau krisis berbagi, tetapi yang tidak krisis itu menerima dan meminta,” ujar Sekjen Pusat Studi Budaya Madura UPI Sumenep ini di Kita Indonesia Pro 1 RRI Sumenep, Kamis, 10 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kajian serius untuk memahami perubahan perilaku masyarakat. Empati merupakan keadaan mental dan psikologis seseorang yang berkaitan dengan kepedulian.

Matroni menilai nilai berbagi sebenarnya memiliki hubungan erat dengan ajaran agama. Dalam Islam, zakat menunjukkan adanya perintah untuk memberi kepada orang lain.

Nilai tersebut kemudian berkembang dalam kehidupan masyarakat Madura melalui berbagai tradisi sosial. Gotong royong, long nolongi dan ottosan menjadi bentuk nyata kepedulian tersebut.

Ia menilai penguatan karakter berbagi membutuhkan pendidikan secara holistik dan universal. Berbagai pengetahuan perlu diproses menjadi karakter empati dan berbagi.

Menurutnya, karakter berbagi tidak dapat dibentuk secara instan dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan berkelanjutan diperlukan agar kesadaran berbagi tumbuh secara alami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....