Ikut Tren Boleh, tapi Jangan Sampai Kehilangan Diri
- 13 Agt 2026 07:34 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan You Only Live Once (YOLO) semakin dekat dengan kehidupan remaja di tengah derasnya tren media sosial. Pengurus PIK-R Mata mengingatkan generasi muda agar tidak sekadar mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi mampu mempertimbangkan kondisi diri, risiko, serta dampaknya terhadap masa depan.
Hal itu disampaikan Ketua PIK-R Mata periode 2026–2027, Ach. Syauqoni Dafila, bersama Ketua PIK-R Mata periode 2025–2026, Alexandrea, saat menjadi narasumber dalam acara Jaga Malam Pro2 RRI Sumenep. Dalam obrolan tersebut, keduanya membahas fenomena FOMO dan YOLO yang memiliki sisi positif maupun negatif, bergantung pada cara remaja menyikapinya.
Ach. Syauqoni mengatakan, FOMO pada remaja kerap muncul karena keinginan untuk tidak kalah dari teman sebaya. Kondisi itu dapat membuat seseorang berusaha mengikuti gaya atau kepemilikan orang lain tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kemampuan diri. “Karena dia tidak mau kalah dengan temannya yang lain. Karena dia ingin setara, tetapi tanpa harus melihat keadaan dirinya sendiri,” ujarnya.
Menurut Ach. Syauqoni, mengikuti tren tidak selalu buruk apabila diarahkan pada hal positif, seperti mengikuti perlombaan, mengejar prestasi, atau kegiatan yang mendukung pengembangan diri. Ia menegaskan, remaja tidak perlu merasa tertinggal hanya karena tidak mengikuti setiap tren. “Ketinggalan tren itu bukan berarti tidak keren. Justru harus mempertimbangkan diri sendiri dan mempunyai tanda berkembang, seperti kemandirian,” katanya.
Sementara itu, Alexandrea menilai FOMO berlebihan dapat memicu kecemasan karena seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif ketika remaja memaksakan diri memenuhi keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonominya. “Kita bakalan jadi cemas karena kita menuntut untuk bisa mengikuti,” ujarnya.
Di sisi lain, Alexandrea menyebut YOLO dapat menjadi hal positif jika dimaknai sebagai keberanian mencoba pengalaman baru secara terukur. Namun, prinsip “hidup cuma sekali” bisa menjadi masalah apabila dijadikan alasan untuk mengabaikan risiko dan mengambil keputusan secara impulsif. Karena itu, setiap pilihan tetap perlu dipikirkan matang sebelum dilakukan.
Melalui edukasi dan pendampingan bagi remaja, PIK-R Mata mendorong generasi muda agar lebih kritis menghadapi tren, baik di media sosial maupun lingkungan pergaulan. Mengikuti hal positif dapat menjadi motivasi untuk berkembang, tetapi keputusan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi diri. Tidak mengikuti tren bukan berarti tertinggal, melainkan dapat menjadi pilihan untuk tetap percaya diri dan menjaga masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....