Empat Tingkatan Manusia dalam Memahami Perintah dan Larangan Syariat
- 16 Sep 2026 08:45 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Pemahaman terhadap syariat Islam menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Sebab, menjalankan agama tidak hanya berkaitan dengan mengetahui perintah, tetapi juga memahami berbagai larangan yang harus dihindari.
Ustaz Akh. Masturi, Penyuluh Agama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menjelaskan, setidaknya terdapat empat kondisi manusia dalam menerima dan memahami syariat. Pertama, orang yang mengetahui perintah sekaligus mengetahui larangan. Kondisi ini dinilai lebih ideal karena seseorang memahami apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan.
“Orang yang mengetahui perintah dan larangan memiliki bekal untuk menjalankan agama secara lebih utuh,” ujar ustadz Masturi saat di Mutiara Pagi RRI, Rabu, 16 September 2026.
Menurutnya, pengetahuan tersebut tetap harus dilanjutkan dengan pengamalan. Mengetahui kewajiban tidak akan memberikan manfaat secara optimal apabila seseorang tidak berusaha melaksanakannya. Demikian pula memahami larangan harus diikuti dengan upaya meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan syariat.
Tingkatan kedua adalah orang yang mengetahui perintah, tetapi tidak mengetahui larangan. Ustaz menilai, kondisi tersebut dapat membuat seseorang hanya berfokus pada berbagai amalan yang harus dilakukan, tanpa memahami batasan perbuatan yang perlu dihindari.
“Sementara tingkatan ketiga merupakan orang yang mengetahui larangan, tetapi tidak mengetahui perintah. Mereka mungkin berhati-hati terhadap berbagai perbuatan yang dianggap dosa, namun belum memahami kewajiban yang harus ditunaikan. Padahal, kehidupan beragama membutuhkan keseimbangan antara menjalankan perintah dan menjauhi larangan,” imbuhnya.
Adapun tingkatan keempat adalah orang yang tidak mengetahui perintah dan tidak mengetahui larangan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan pengetahuan agama melalui belajar kepada sumber dan guru yang terpercaya. Dengan ilmu yang memadai, seorang muslim diharapkan mampu membedakan perkara yang diperintahkan, dilarang, maupun yang diperbolehkan.
Ia menegaskan, belajar syariat hendaknya tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Ilmu agama semestinya menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku, sehingga seseorang tidak hanya mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga berusaha menjalankan kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....