Takdir Sudah Tertulis, Mengapa Manusia Tetap Bertanggung Jawab atas Dosanya?
- 13 Jul 2026 08:08 WIB
- Sumenep
RRI, CO, ID, Sumenep : Keimanan kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini setiap Muslim. Meski demikian, masih banyak yang bertanya, jika seluruh perjalanan hidup manusia telah tertulis di Lauh Mahfuz, apakah dosa yang akan dilakukan di masa depan juga sudah tercatat? Pertanyaan ini sering memunculkan keraguan tentang keadilan Allah dan tanggung jawab manusia atas setiap perbuatannya.
Dalam ajaran Islam, Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi. Pengetahuan-Nya yang sempurna membuat seluruh ketetapan hidup manusia telah tercatat. Namun, pencatatan tersebut bukan berarti Allah memaksa manusia melakukan dosa. Sebaliknya, Allah memberikan akal, hati, dan kehendak sehingga setiap orang dapat memilih antara jalan kebaikan dan keburukan. Karena memiliki pilihan itulah manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amalnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep Ustaz Hamidi, hadis tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak diperintahkan untuk menebak isi takdir, melainkan untuk terus berusaha melakukan kebaikan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang telah Allah tetapkan baginya. Oleh karena itu, menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat atau meninggalkan kewajiban merupakan pemahaman yang keliru.
"Selama seseorang masih memiliki kesempatan memilih, ia tetap berkewajiban mengambil jalan yang diridai Allah" ujarnya saat berdialog di Mutiara Pagi Sabtu, 11 Juli 2026.
Memahami takdir dengan benar juga akan melahirkan sikap husnuzan, yaitu berprasangka baik kepada Allah. Seorang Muslim meyakini bahwa setiap ketetapan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang terasa berat, mengandung hikmah yang mungkin belum mampu dipahami saat itu. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur tanpa merasa sombong. Sebaliknya, saat menghadapi ujian atau pernah terjerumus dalam dosa, ia tidak berputus asa karena yakin Allah selalu membuka pintu tobat bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya.
Sikap husnuzan juga mendorong seseorang untuk tidak mudah menyalahkan takdir atas kesalahan yang dibuatnya. Ia memilih untuk mengakui kekhilafan, memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan terus memohon petunjuk kepada Allah. Dengan cara itulah keimanan kepada takdir menjadi kekuatan yang membangun optimisme, bukan alasan untuk menyerah atau membenarkan kemaksiatan.
Pada akhirnya, keyakinan bahwa segala sesuatu telah tertulis di Lauh Mahfuz seharusnya membuat seorang Muslim semakin dekat kepada Allah, bukan sebaliknya. Takdir adalah rahasia Allah, sedangkan ikhtiar adalah kewajiban manusia. Dengan terus beramal, memelihara husnuzan kepada Allah dan bertanggung jawab atas setiap pilihan, seorang Muslim akan menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang, penuh harapan serta selalu berusaha meraih rida-Nya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....