Cinta kepada Rasul Jangan Salah Arah, Pahami Batasan Syariat
- 18 Agt 2026 08:54 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk ibadah dan penghormatan, salah satunya dengan memperbanyak selawat. Namun, ekspresi kecintaan tersebut tetap memiliki batasan agar tidak keluar dari tuntunan syariat Islam.
Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Qumri Rahman, S.Pd, menjelaskan dalam perspektif tasawuf, ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW memiliki tingkatan. Salah satunya hudur, yaitu kondisi ketika hati menghadirkan ingatan kepada Nabi dalam keadaan sadar.
Setelah hudur, terdapat kondisi yang dalam penjelasan tasawuf disebut huflah atau ghaflah, yakni keadaan ketika seseorang semakin larut dalam kecintaan dan ingatannya kepada Nabi hingga perhatian terhadap lingkungan sekitarnya mulai berkurang. Kondisi tersebut menggambarkan tingkat penghayatan batin seseorang dalam mengekspresikan rasa cinta.
Meski demikian, Qumri menegaskan, tingginya rasa cinta kepada Rasulullah SAW tidak berarti seseorang dapat mengabaikan batasan syariat. Ekspresi kecintaan tetap harus dilakukan dengan cara yang memiliki dasar dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
“Ketika kita mengekspresikan rasa cinta kepada anak atau istri, tentu ada caranya. Begitu juga ketika mengekspresikan rasa cinta kepada Nabi, ada caranya,” ujar Qumri saat berdialog pada Selasa 18 Agustus 2026.
Menurutnya, selawat merupakan bentuk kecintaan yang sangat baik kepada Rasulullah SAW. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan adab, kesopanan, serta gerakan dan perilaku yang tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
Qumri mengingatkan, penggunaan istilah tertentu tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi benar secara agama. Substansi dari tindakan tersebut tetap harus dilihat, termasuk gerakan, tujuan, serta dasar rujukannya.
Ia menilai umat Islam perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada praktik yang secara istilah terlihat berbeda, tetapi secara substansi memiliki bentuk yang sama dengan tindakan yang sebelumnya dianggap tidak sesuai dengan syariat.
“Tidak bisa kalau seperti itu, karena harus ada dasar dan rujukannya. Inilah batasan syariat yang harus kita perhatikan,” katanya.
Qumri menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan syariat yang dibawa beliau. Rasulullah SAW merupakan pembawa syariat, sehingga kecintaan tidak cukup hanya diungkapkan melalui perasaan, tetapi juga diwujudkan melalui ketaatan.
“Karena Nabi adalah pembawa syariat, maka bentuk ekspresi cinta kepada Nabi adalah menjalankan syariat Nabi,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila suatu bentuk ekspresi keagamaan tidak memiliki dasar rujukan yang jelas atau justru bertentangan dengan syariat, umat Islam sebaiknya menghindarinya. Hal tersebut penting agar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak diwujudkan melalui tindakan yang berlawanan dengan tuntunan beliau.
Dengan demikian, mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang kuatnya ekspresi perasaan, tetapi juga tentang kesediaan mengikuti ajaran yang dibawa beliau. Semakin besar kecintaan kepada Rasul, semestinya semakin kuat pula komitmen untuk menjaga adab dan batasan syariat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....