Konferwil I PWNU PBD, Jadi Titik Awal Penataan Organisasi Memasuki Abad Kedua

  • 12 Agt 2026 17:32 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Konferensi Wilayah (Konferwil) I Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Barat Daya menjadi momentum strategis bagi NU untuk memperkuat konsolidasi sekaligus merumuskan arah organisasi memasuki abad kedua. Mengusung tema “Bergerak, Berdayakan Umat Memasuki Abad Ke-2”, Konferwil digelar di Sekretariat PCNU Kabupaten Sorong, Rabu 12 Augustus 2026.

Ketua Panitia Konferwil I PWNU Papua Barat Daya, Aryfudin menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran PCNU dari seluruh wilayah Papua Barat Daya, peserta, serta para tamu undangan.

Menurut Aryfudin, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memilih dan menetapkan kepengurusan, tetapi juga kesempatan memperkuat persatuan serta menyusun langkah strategis NU ke depan.

Ia berharap seluruh rangkaian konferensi berlangsung dalam suasana musyawarah, ukhuwah, dan kekeluargaan sehingga keputusan yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak bagi organisasi, umat, bangsa, dan daerah.

Sementara itu, Ketua PWNU Papua Barat Daya, KH Rofiul Amri, mengatakan hasil utama yang diharapkan dari Konferwil adalah lahirnya kepengurusan yang solid dan mampu menghadirkan manfaat secara nyata bagi masyarakat. “Kita berharap konferwil ini bisa menghasilkan kepengurusan yang solid, yang bisa memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya,” ujarnya.

Rofiul menegaskan, Konferwil tidak boleh berhenti pada agenda pergantian atau penetapan kepengurusan. Setelah forum selesai, NU akan melanjutkan konsolidasi melalui rapat kerja serta program penguatan kader.

Ia juga mengajak seluruh jajaran NU untuk terus memperkuat pengabdian hingga ke tingkat masyarakat. “Terus bergerak, berkhidmat ke bawah. Semangat kita semua,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, H. Faisal Saimima, menyebut Konferwil I memiliki arti penting dalam proses penataan organisasi NU di Papua Barat Daya.

Ia menjelaskan, PWNU Papua Barat Daya merupakan hasil pemekaran dari PWNU Papua Barat. Berdasarkan ketentuan organisasi, kepengurusan hasil pemekaran harus melalui masa percobaan selama dua tahun sebelum dapat ditetapkan secara definitif.

Dengan berakhirnya masa tersebut, Konferwil menjadi salah satu tahapan penting untuk menentukan kepengurusan sekaligus arah organisasi NU Papua Barat Daya. Faisal juga mengapresiasi tingginya partisipasi PCNU, badan otonom, serta dukungan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan Konferwil.

“Untuk Papua Barat Daya, alhamdulillah saya lihat antusiasmenya PCNU, kemudian badan otonom, apalagi dukungan dari pemerintah daerah. Ini merupakan harapan besar kami,” tuturnya.

Ia berharap kepengurusan yang terbentuk mampu memperkuat struktur organisasi hingga tingkat bawah. Menurutnya, kehadiran NU harus dapat dirasakan masyarakat melalui kerja nyata dan program yang berkelanjutan.

Atas terlaksananya Konferwil I PWNU Papua Barat Daya, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya turut mendorong NU agar mengambil peran lebih luas dalam pembangunan daerah.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan ESDM Papua Barat Daya, Suroso, saat membacakan sambutan Gubernur Papua Barat Daya pada pembukaan Konferwil. Gubernur menilai Konferwil pertama tersebut menjadi tonggak baru bagi perjalanan NU di Papua Barat Daya.

“Konferensi ini tentu bukan sekadar agenda organisasi, melainkan tonggak sejarah baru dalam memperkokoh khidmat Nahdlatul Ulama di Tanah Papua, terlebih khusus di Provinsi Papua Barat Daya,” ungkap Suroso saat membacakan sambutan Gubernur.

Menurutnya, keberagaman masyarakat Papua Barat Daya merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Toleransi, persaudaraan, serta penghormatan terhadap adat dan agama dinilai menjadi modal penting dalam membangun daerah.

Karena itu, NU diharapkan tidak hanya berfokus pada bidang keagamaan. Organisasi tersebut juga didorong berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, pembinaan generasi muda, hingga pelestarian budaya.

Suroso menambahkan bahwa Gubernur memaknai tema “bergerak” sebagai dorongan agar NU proaktif menghadapi perubahan, sementara “berdayakan umat” diharapkan dapat diwujudkan melalui upaya membangun masyarakat yang mandiri secara ekonomi, cerdas secara intelektual, dan tangguh secara sosial.

Konferwil I PWNU Papua Barat Daya pun diharapkan menjadi titik awal bagi penguatan organisasi sekaligus memperluas kontribusi NU dalam kehidupan sosial dan pembangunan di provinsi termuda di Tanah Papua tersebut. (Rls)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....