Pagi Motley, Penyihir Warna dari Bali Utara
- 20 Okt 2022 15:32 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Didirikan di Desa Sembiran yang berada di wilayah Bali Utara pada tahun 2019 silam, Pagi Motley secara konsisten berhasil melakukan pemanfaatan daun tak guna yang disulap menjadi warna ajaib bernilai jual tinggi.
I Made Andika Saputra, founder Pagi Motley, menjelaskan bahwa semua warna yang dipakai di studionya ini merupakan produk asli dari alam.
“Ada lima dasar warna yang dipakai di Pagi Motley, yaitu warna kuning, merah, biru, hitam, dan coklat. Porsi warna merah ini sedikit saya pakai di Pagi Motley karena: karakter warna tidak kuat, tetapi di dalam fashion apabila tidak ada warna merah maka tidak bagus,” tutur Andika pada RRI Singaraja.
Andika menjelaskan bahwa warna kuning ia dapatkan dari daun mangga yang banyak terdapat di Bali Utara. Hitam dari daun ketapang yang banyak ditemui di Bali Utara. Sementara warna coklat berasal dari serabut kelapa yang juga sangat gampang ditemui di wilayah Bali Utara. Biru berasal dari pohon indigo. Sedangkan yang warna merah berasal dari kayu secang.
Dari 5 dasar warna tersebut, Andika beserta timnya melakukan eksperimen dan mencampur warna-warna yang ada hingga bisa mengumpulkan lebih dari 100 warna.
“Kita menciptakan formula yang standar untuk semua customer. Karena market saya melayani fashion designer,” terang pria berusia 37 tahun itu.
Dalam kesempatan yang sama, Andika juga menceritakan awal mula Pagi Motley didirikan 3 tahun silam. Ia tanamkan harapan dan doa agar bisa menghidupkan warna yang ada di Desa Sembiran lewat nama yang ia sematkan untuk studionya.
“Awalnya bernama Studio Pagi, tetapi ternyata terlalu banyak nama yang sama. Karena saya mau menekuni pewarnaan atau pencelupan, saya lantas mengutak-atik nama warna. Ketemu nama Motley yang punya arti full colour (banyak warna). Secara filosofis, saya ingin menghidupkan warna-warna yang ada di Desa Sembiran ini,” ucap Andika.
Saat awal merintis dulu, Andika menyatakan bahwa ia tak memiliki supplier dan memenuhi kebutuhan daun sebagai bahan baku produksi dari hasil pencarian dengan timnya. Namun lama kelamaan proses tersebut dirasa memakan waktu. Pria berdarah Karangasem ini lalu memutuskan untuk melakukan kolaborasi dengan warga sekitar.
“Saat itu saya bilang ke masyarakat sekitar jikalau ada yang punya daun atau saat menebang pohon, boleh silakan dibawa ke Pagi Motley untuk dibeli. Boleh dipotong langsung boleh tidak,” kata Andika.
Andika mengaku metode kolaborasi yang ia terapkan tersebut membuat ia selalu memiliki cukup daun untuk diproduksi. Setiap minggu secara rutin ibu-ibu di desa sekitar akan membawa daunnya untuk dijual di Pagi Motley.
Kemudian secara tekun dan penuh kesabaran, Andika dan tim Pagi Motley akan menggunakan sihirnya dan menyulap dedaunan yang dianggap tak memiliki banyak manfaat itu menjadi kain-kain berwarna ajaib bernilai tinggi.