Jejak Kuburan Kusta, Menghapus Warisan Stigma
- 03 Mar 2026 21:18 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Barisan kendaraan roda dua dan roda empat mengular di sebuah tanjakan di sudut Kota Singaraja. Mesin motor yang saya kendarai terpaksa dimatikan. Macet mendadak membuat laju perjalanan terhenti. Di atas kepala, langit biru seperti enggan menampakkan panasnya. Matahari hanya mengintip seperempat, terhalang rimbun pohon asem berusia ratusan tahun yang berdiri kokoh di kiri kanan jalan.
Di balik teduhnya pepohonan itu, masyarakat Bali Utara, tepatnya Buleleng, Bali menyebut kawasan ini dengan satu nama yang sarat makna, Kuburan Kembar.
Pandangan saya kemudian tertuju pada gundukan tanah di sisi kiri jalan. Bentuknya tak beraturan, seolah menyimpan cerita yang lama terpendam. Dari jarak sekitar empat meter, tampak dua tempat kremasi berdiri berdampingan. Tak jauh dari sana, dua wadah untuk memandikan jenazah juga terlihat jelas, meski sederhana.

Inilah Kuburan Kembar. Dua area pemakaman yang berdiri berseberangan. Salah satunya diperuntukkan khusus bagi pengidap penyakit menular, termasuk kusta. Kusta (lepra/morbus hansen) adalah penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan Mycobacterium leprae , terutama menyerang kulit, saraf tepi, mukosa hidung, dan mata. Proses pemakaman dan kremasinya dilakukan terpisah dari masyarakat pada umumnya, sebuah penanda sejarah tentang bagaimana ruang, jarak, dan stigma pernah mengambil peran dalam tradisi kematian di tanah Bali Utara.
Di sudut sejarah sosial masyarakat Buleleng, tersimpan kisah tentang perlakuan berbeda terhadap penderita penyakit menular. Pemimpin Desa Adat Buleleng, I Nyoman Sutrisna, membenarkan pada masa lalu terdapat pemisahan area pemakaman bagi penderita kusta da penyakit menular lainnya.

Menurutnya, kebijakan itu lahir bukan semata karena aturan adat, melainkan dipengaruhi ketidaktahuan masyarakat tentang penyakit tersebut. Pada masa itu, kusta dipandang sebagai penyakit berbahaya dan menular tanpa pemahaman medis yang memadai.
“Iya benar dipisahkan. Jika di setra (kuburan) Buleleng, tempatnya tersendiri, itu dimanfaatkan dulu,” ujarnya.
Stigma bahwa kusta adalah penyakit kutukan berkembang sekitar awal abad ke-20. Ketakutan kolektif membuat para penderitanya kerap dijauhkan dari kehidupan sosial. Mereka tidak hanya mengalami pengucilan dalam pergaulan, tetapi juga diasingkan ke lokasi-lokasi khusus yang dikenal sebagai leprosarium.
Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Provinsi Bali, pada tahun 1957 Pemerintah Provinsi Bali mengambil langkah tegas dengan mengumpulkan seluruh penderita kusta ke enam lokasi leprosarium yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Pada masa itu, pendekatan kesehatan masyarakat masih menitikberatkan pada pemisahan fisik sebagai cara utama memutus rantai penularan. Para penderita hidup terpisah dari keluarga dan komunitasnya, membangun kehidupan baru dalam batas-batas leprosarium. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menetap hingga akhir hayat di sana.
Puluhan tahun berlalu sejak kebijakan pengumpulan penderita kusta diberlakukan, jejaknya masih terasa dalam ingatan sebagian keluarga penyintas. Taufik (83) menjadi saksi hidup bagaimana penyakit yang dahulu kerap dianggap sebagai kutukan itu mengubah arah perjalanan keluarganya. Ia bukanlah penyintas, melainkan kakak dari Amang, adik yang pernah divonis menderita kusta dan harus menjalani masa-masa penuh ujian.
Bersandar di kursi tua beralaskan bantal tipis, Taufik menatap ruang yang kini terasa lebih lengang. Di sanalah dulu Amang kerap duduk. Ingatannya kembali pada momen pertama ketika sang adik divonis mengidap kusta, kabar yang saat itu terasa seperti petir di siang bolong bagi keluarga mereka.
“Dia anak yang sehat dulu, setelah menikah ia mencari nafkah dengan mengumpulkan barang bekas, dan menjualnya sebagai rombengan,” ujar Taufik saat diwawancarai RRI.
Saat itu mereka tak benar-benar memahami apa penyebab kusta. Yang ia ingat hanyalah perubahan perlahan pada tubuh sang adik. Bercak di kulit yang semula dianggap gangguan biasa tak kunjung hilang. Rasa kebas mulai menjalar di beberapa bagian tubuh, membuat aktivitas Amang kian berat.
Di tengah rutinitasnya sebagai pengumpul barang bekas, Amang diam-diam bergulat dengan kondisi yang semakin tak menentu. Pekerjaan yang dulu dijalaninya dengan ringan mulai terasa menguras tenaga.
“Awalnya bercak putih menjadi merah, tidak sembuh. Tapi dia masih bekerja, mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Karena tida kunjung sembuh akhirnya dibawa ke dokter dan dibilang Kusta,” lanjutnya.
Hingga akhirnya diagnosis kusta. Kabar tersebut bukan hanya mengguncang secara fisik, tetapi juga menghantam psikologis keluarga. Mereka kembali dihadapkan pada bayang-bayang stigma lama yang pernah begitu kuat melekat di tengah masyarakat.
Pengobatan demi pengobatan terus dilakukan. Namun sekitar 50 tahun silam, sistem layanan dan metode terapi belum berkembang seperti sekarang. Akses terbatas, informasi minim, dan stigma masih begitu kuat. Dalam kondisi itu, Amang lebih banyak menjalani hari-harinya dalam sunyi. Penyakit tersebut perlahan merusak tangan serta jari-jari kakinya, menyisakan keterbatasan fisik yang tak mudah diterima.
“Dia yang tidak berani keluar rumah, berobat terus, tapi penyakitnya sudah terlanjur menyebar ke tangan dan kakinya,” kata Taufik.
Bagi Taufik, masa itu adalah periode paling berat. Ia melihat adiknya tak hanya berjuang melawan sakit, tetapi juga melawan rasa terasing. Aktivitas yang dulu dijalani dengan tenaga penuh kini harus dilakukan dengan sisa kemampuan yang ada. Setiap langkah menjadi lebih lambat, setiap gerakan membutuhkan usaha lebih besar.
Babak baru penanganan kusta di Indonesia mulai terbuka setelah masa kemerdekaan. Perkembangan ilmu kedokteran mengubah cara pandang terhadap penyakit yang selama puluhan tahun diselimuti ketakutan itu. Pada dekade 1980-an, World Health Organization memperkenalkan terapi kombinasi atau multi drug therapy (MDT), metode pengobatan yang terbukti efektif menekan dan menyembuhkan kusta. Sejak saat itu, kusta tak lagi dipahami sebagai kutukan, melainkan infeksi yang dapat ditangani secara medis.
Perubahan tersebut berdampak langsung pada kebijakan pemerintah. Sistem pengasingan yang sebelumnya dianggap solusi perlahan ditinggalkan. Layanan pengobatan kusta diintegrasikan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk Puskesmas.
Di tengah perubahan itulah Taufik tetap setia berada di sisi adiknya. Ia mendampingi Amang menjalani pengobatan, mengantar kontrol rutin, hingga memastikan obat diminum sesuai anjuran. Bagi Taufik, proses penyembuhan bukan sekadar soal terapi medis, tetapi juga tentang menjaga harapan agar sang adik tak merasa sendirian menghadapi penyakitnya.
Taufik menjadi saksi perjalanan panjang itu, dari masa ketika stigma begitu kuat mencengkeram, hingga masa ketika pengobatan bisa diakses tanpa pengasingan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana adiknya bertahan.
“Saya bersyukur melihat dia berjuang melawan penyakitnya, akhirnya itu lah yang membuat saya turut memberikan edukasi kepada warga di kampung untuk tidak lagi memberi stigma pada penderita kusta, karena kusta kini dapat disembuhkan,” ucapnya.
Hingga lima tahun lalu, Amang akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kepergiannya bukan lagi dalam sunyi pengucilan seperti kisah-kisah masa lampau, melainkan di tengah keluarga yang mendampingi dengan setia.
Nada serupa ditegaskan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Buleleng, dr. I Wayan Parna Arianta, MARS. Ia memastikan, kusta bukan penyakit kutukan. Di era sekarang, penanganannya sudah jelas dan terukur, skrining masif digencarkan untuk deteksi dini, pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) tersedia gratis, bahkan kemoprofilaksis diberikan untuk mencegah penularan pada kontak erat.
“Secara medis, kusta itu bisa disembuhkan. Obatnya tersedia gratis dan penanganannya jelas. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menyebutnya sebagai penyakit kutukan, Yang berbahaya hari ini bukan lagi bakterinya, tetapi stigma. Selama masyarakat masih takut dan mengucilkan, maka perjuangan kita belum selesai,” Uarnya Parna Arianta.
Meski kerap dianggap sebagai penyakit masa lalu, jejak kusta masih nyata hingga hari ini. Secara global, penyakit ini tetap menjadi persoalan kesehatan dengan hampir 200.000 kasus baru setiap tahun menurut World Health Organization (WHO).

Di tingkat nasional, Indonesia masih menempati peringkat ketiga dunia, tertinggi di Asia Tenggara, dalam jumlah kasus baru. Pada 2023, tercatat 12.798 kasus baru. Sebaran tertinggi ditemukan di sejumlah provinsi seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua. Lebih lanjut, Wayan Parna Arianta, menegaskan upaya menuju zero kusta tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan skrining yang masif untuk menemukan kasus sejak dini, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas, serta kolaborasi lintas sektor.
“Untuk mencapai zero kusta, kuncinya ada pada deteksi dini, disiplin minum obat sampai selesai, dan kerja sama semua pihak tenaga kesehatan, pemerintah, serta masyarakat. Tanpa itu, eliminasi hanya akan menjadi slogan,” ujarnya.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan, sepanjang 2024 ditemukan 14.698 kasus baru kusta. Lebih dari 90 persen merupakan tipe Multi Basiler (MB), jenis yang lebih menular dan berisiko menimbulkan kecacatan bila terlambat ditangani. Dari jumlah tersebut, 1.420 kasus terjadi pada anak-anak, dan 869 pasien sudah mengalami disabilitas saat pertama kali terdeteksi.
Memasuki 2025, hingga 31 Agustus kembali tercatat 5.474 kasus baru. Sebanyak 489 di antaranya terjadi pada anak, sementara 287 pasien telah mengalami disabilitas saat diagnosis ditegakkan. Rangkaian angka ini menegaskan bahwa kusta belum sepenuhnya terkendali, tantangan terbesar kini terletak pada deteksi dini, kepatuhan pengobatan, dan pencegahan kecacatan sebelum terlambat.
Sementara itu di Buleleng, Bali wilayah beriklim tropis yang juga memiliki kerentanan terhadap penyakit menular, upaya deteksi dini terus digencarkan untuk menemukan kasus baru sedini mungkin.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, S.Ked., M.A.P, menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa bekerja sendiri dalam mendukung target eliminasi kusta. Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat, terutama di wilayah yang pernah ditemukan kasus, menjadi kunci utama.
“Kami terus mendorong deteksi dini dan mengajak semua pihak, terutama di daerah yang pernah ditemukan kasus, untuk aktif melakukan pemantauan. Eliminasi kusta hanya bisa tercapai jika ada kerja sama dan kesadaran bersama,” katanya.
Pemerintah Indonesia terus mempercepat langkah eliminasi Penyakit Tropis Terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs), khususnya kusta dan filariasis, dengan target bebas pada 2030. Melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, strategi deteksi dini, pengobatan massal, serta kolaborasi lintas sektor terus diakselerasi di berbagai wilayah endemis.
Selain intervensi medis, pemerintah juga menempatkan edukasi dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat sebagai pilar penting. Edukasi difokuskan pada penyampaian informasi yang benar tentang penularan dan pengobatan, sementara literasi kesehatan diarahkan agar masyarakat mampu mengenali gejala sejak dini, memahami pentingnya kepatuhan minum obat, serta tidak lagi terjebak dalam stigma.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta merupakan penyakit infeksi bakteri yang dapat disembuhkan, bukan kutukan atau penyakit turunan. Ia mengajak seluruh elemen bangsa memiliki komitmen bersama untuk menghentikan penularannya.
“Masa kita mau mencari kusta terus dan mewariskannya ke anak cucu kita? Let’s put a commitment before we die. Eliminate kusta,” tegasnya.
Dengan penguatan skrining, pengobatan yang tepat dan tuntas, serta penghapusan stigma sosial, pemerintah berharap target eliminasi dapat segera tercapai, sehingga generasi mendatang terbebas dari dampak penyakit yang sesungguhnya bisa dicegah dan disembuhkan ini.
Kuburan Kembar itu berdiri sebagai penanda zaman, mengingatkan pada masa ketika ketakutan melampaui pengetahuan, dan jarak diyakini sebagai satu-satunya cara untuk melindungi diri.
Kini, ilmu kedokteran telah melangkah jauh. Kusta dapat disembuhkan, obat tersedia, dan pengobatan bisa diakses tanpa pengasingan. Namun sejarah menyisakan pelajaran penting, yang kerap bertahan paling lama bukanlah penyakitnya, melainkan stigma yang mengikutinya.
Kuburan kusta mungkin telah menjadi jejak masa lalu. Tetapi stigma bisa tetap hidup jika dibiarkan. Sebab pada akhirnya, kesembuhan bukan hanya soal obat, melainkan juga tentang diterima kembali sebagai manusia yang utuh.