25 Tahun PDA Kubar: Yurang dan Ismail Thomas Kenang Dedikasi Para Pendiri

  • 23 Jul 2026 15:35 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Di balik perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat tersimpan kisah panjang perjuangan para tokoh adat yang membangun sebuah rumah bersama bagi seluruh etnis di Bumi Tanaa Purai Ngeriman. Perjalanan seperempat abad itu dikenang sebagai buah dari pengorbanan, kebersamaan, dan komitmen menjaga adat serta persatuan masyarakat.

Ketua Presidium Dewan Adat Kutai Barat, Yurang, mengatakan keberadaan PDA hingga hari ini tidak lepas dari jasa para pendiri yang sejak awal bertekad membangun lembaga adat sebagai perekat keberagaman di Kutai Barat.

"Dua puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di balik usia seperempat abad ini terdapat perjuangan, pengorbanan, kebersamaan, dan semangat untuk menjaga marwah adat di Kabupaten Kutai Barat," ujarnya pada peringatan HUT ke-25 PDA di Kompleks Lamin Taman Budaya Sendawar, Barong Tongkok, Selasa 21 Juli 2026.

Yurang mengisahkan, cikal bakal Presidium Dewan Adat dimulai pada masa persiapan tahun 1999. Saat itu almarhum Yustinus Dullah dipercaya memimpin proses pembentukan organisasi hingga terlaksananya Kongres Pertama pada 2001. Kongres tersebut kemudian menetapkan almarhum F.V. Munthi sebagai Ketua Presidium Dewan Adat pertama yang meletakkan fondasi organisasi.

Estafet kepemimpinan selanjutnya kembali diemban almarhum Yustinus Dullah selama dua periode, 2006–2016. Di bawah kepemimpinannya, pembinaan masyarakat adat, pelestarian seni budaya, serta penguatan persatuan antaretnis terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.

Menurut Yurang, perjalanan PDA juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sejak awal berdiri. Ia secara khusus mengapresiasi peran Bupati Kutai Barat pertama almarhum Rama Alexander Asia bersama Ismail Thomas yang saat itu menjabat Wakil Bupati, hingga dukungan yang terus berlanjut pada masa kepemimpinan Bupati Frederick Edwin.

"Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam perjalanan panjang Presidium Dewan Adat, yaitu dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Kami menyampaikan penghargaan kepada Bapak Ismail Thomas yang sejak awal memberikan perhatian besar terhadap keberadaan Presidium Dewan Adat, serta kepada Bupati Frederick Edwin yang terus mendukung kebangkitan lembaga adat ini," katanya.

Yurang menilai dukungan pemerintah menjadi salah satu alasan PDA mampu kembali bangkit setelah sempat mengalami masa vakum hampir sepuluh tahun. Baginya, keberadaan organisasi adat hari ini merupakan hasil perjuangan para pendahulu yang harus terus dijaga.

"Kami berdiri hari ini karena perjuangan para pendahulu. Warisan pengabdian mereka menjadi semangat bagi kami untuk terus menjaga adat, memperkuat persatuan, dan melestarikan budaya daerah," ucapnya.

Sementara itu, Bupati Kutai Barat periode 2006–2016, Ismail Thomas, mengenang lahirnya Presidium Dewan Adat sebagai hasil gagasan bersama pada masa pemerintahan almarhum Rama Alexander Asia. Menurutnya, tujuan utama pembentukan PDA adalah menghadirkan satu wadah yang dapat menaungi seluruh etnis di Kutai Barat.

"Saya mengusulkan agar dibentuk Presidium Dewan Adat supaya seluruh etnis di Kutai Barat memiliki rumah bersama. Akhirnya enam etnis utama, yaitu Tonyoi, Benuaq, Bahau, Oheng, Kenyah, dan Melayu, dapat terwakili dalam satu lembaga," katanya.

Ismail mengatakan semangat itu kemudian diwujudkan melalui pembangunan enam Lamin Etnis di kawasan Taman Budaya Sendawar sebagai simbol persatuan dalam keberagaman. Menurutnya, keberadaan PDA bukan hanya menjaga adat istiadat, tetapi juga menjadi benteng toleransi yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat Kutai Barat.

"Enam lamin ini menjadi bukti bahwa seluruh etnis memiliki tempat yang sama. Toleransi harus terus dipertahankan karena dari kebersamaan itulah kekuatan masyarakat Kutai Barat dibangun," ujarnya.

Memasuki usia ke-25 tahun, Yurang dan Ismail Thomas berharap semangat para pendiri terus diwariskan kepada generasi muda. Mereka ingin Presidium Dewan Adat tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh etnis, sekaligus menjadi pilar pelestarian budaya, penguat persatuan, dan mitra pemerintah dalam mewujudkan Kutai Barat yang semakin maju, harmonis, dan beradat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....