Selembar Kain Batik, Energi yang Menggerakkan Kehidupan

  • 04 Okt 2026 17:06 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Sentra Batik Tulis Tanjung Bumi berlokasi di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, hanya berjarak sekitar 50 meter dari laut lepas.
  • Moh Tarib (64 tahun) dan istrinya Rusmidah (54 tahun) adalah pengrajin batik yang menyambut kunjungan dengan ramah dan bersedia berbagi pengalaman mereka.
  • Lokasi pesisir pantai di Tanjung Bumi menciptakan kondisi iklim tropis yang panas, yang memengaruhi lingkungan kerja pengrajin batik tradisional.

RRI.CO.ID, Bangkalan – Sekitar pukul 11.20 WIB, matahari sedang terik-teriknya ketika saya tiba di Sentra Batik Tulis Tanjung Bumi, Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Desa ini hanya berjarak sekitar 50meter dari laut lepas. Udara pesisir terasa panas ketika saya memasuki kediaman Moh Tarib (64) dan istrinya, Rusmidah (54). Keduanya menyambut dengan senyum ramah dan mempersilakan saya duduk di teras rumah.

Sejumlah botol air minum meniral, mangga yang telah dikupas disajikan diatas piring, keripik, dan sejumlah suguhan tersaji. Namun, perhatian saya segera beralih pada aktivitas yang berlangsung di sekitar rumah.

Beberapa lembar kain batik terlihat terhampar. Di sisi kiri rumah, dua orang pembatik duduk menghadap kain putih. Canting berada di tangan mereka. Perlahan, malan ditorehkan mengikuti pola yang telah dibuat.

Salah seorang di antaranya adalah Suryaningsih (52). Sejak kecil, ia telah belajar membatik. Kini, keterampilan itu menjadi bagian dari kesehariannya.

Sambil tetap berkonsentrasi pada kain di hadapannya, Suryaningsih menjelaskan proses malan. Tangannya nyaris tidak berhenti. Canting dicelupkan ke dalam malan yang telah dicairkan, kemudian diangkat dan ditiup dengan hati-hati sebelum ujungnya kembali menyentuh permukaan kain.

Gerakannya terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian. Malan harus mengalir dengan pas agar membentuk garis sesuai pola yang telah dibuat.

Saya pun bertanya, apakah tangannya tidak terasa panas ketika harus berulang kali berhadapan dengan malan yang dipanaskan.

Suryaningsih menjawab sambil tetap fokus pada kain putih yang sedang dimalan.

“Ya, panas sedikit karena sudah terbiasa. Sudah pekerjaan setiap hari,” ucapnya saat ditemui. Kamis, 1 Oktober 2026.

Rusmidah (54) sedang memproses pembersihan malan di kain yang sebelumnya melalui tahapan proses pewarnaan dengan cara dicelup ke air yang mendidih di dalam tong

Di hadapannya, malan terus mencair di dalam wajan kecil yang diletakkan di atas kompor. Suhunya harus dijaga. Terlalu panas membuat malan menjadi terlalu encer, sementara jika terlalu dingin, malan akan lebih sulit mengalir dari canting.

Aroma khas malan pun segera memenuhi udara. Tajam dan menyengat, bercampur dengan panas matahari yang terasa semakin terik. Namun, Suryaningsih tetap melanjutkan pekerjaannya.

Dan ketika satu tangan sibuk menorehkan malan, tangan-tangan lain di halaman rumah mulai mengerjakan tahapan berikutnya.

Rusmidah bersama putrinya, Dewi Sinta (24), mengerjakan proses pewarnaan. Kain yang telah melalui proses pencantingan dicelupkan ke dalam larutan pewarna, kemudian diangkat dan ditiriskan.

Kain itu kembali dicelup. Diangkat. Ditiriskan. Proses tersebut dilakukan hingga warna yang diinginkan benar-benar melekat pada kain.

Setelah pewarnaan selesai, pekerjaan belum berakhir. Malan yang sebelumnya berfungsi melindungi bagian-bagian tertentu pada kain harus kembali dihilangkan dengan cara di celupkan ke tong diatas kompor dengan air mendidih.

Suryaningsih bukan pembatik yang baru mengenal canting dalam beberapa tahun terakhir. Ia sudah belajar membatik sejak duduk di kelas lima sekolah dasar.

“Mulai SD kelas lima sudah belajar batik. Terus SMP, SMA, belajar batiknya terus,” tuturnya.

Di tangannya, kain polos terlebih dahulu diberi gambar atau pola. Setelah itu, bagian-bagian tertentu diisi dengan malan.

“Kalau isian, isi ini kain polos. Kain polos terus dilukis. Sudah dilukis, terus dipakai isian. Iya, pakai malan. Terus sudah malan, langsung proses diwarnai,” jelasnya.

Harga kain pun beragam, bergantung pada jenis dan tingkat kesulitan pengerjaannya. Menurut Suryaningsih, ada kain yang dibanderol sekitar Rp200 ribu, Rp340 ribu, hingga Rp500 ribu.

Ia bahkan mengenali jenis kain berdasarkan tingkat pengerjaannya.

“Nomor satu elar, nomor dua jempol, yang nomor tiga ini yang murah,” ujarnya sambil menjelaskan jenis kain yang sedang dikerjakannya.

Meski telah puluhan tahun menjalani pekerjaan tersebut, bukan berarti proses membatik selalu mudah. Rasa lelah tetap menjadi bagian dari kesehariannya.

“Cuma kesulitannya ngantuk, capek, kalau duduk seperti ini ditambah angin sepoi-sepoi,” katanya sambil tersenyum.

Suryaningsih (52) di temani rekannya sedang konsentrasi proses malan pada kain putih yang sudah di gambar sebelumnya

Di rumah itu, tradisi membatik ternyata bukan hanya menjadi pekerjaan Rusmidah. Sang suami, Moh Tarib, juga tumbuh dari lingkungan yang sejak lama akrab dengan batik tulis.

Kini, aktivitas membatik di lingkungan tersebut melibatkan puluhan perajin. Mereka mengerjakan bagian yang berbeda-beda, mulai dari menggambar pola hingga proses membatik.

“Sekarang sekitar 50 lebih, yang gambar-gambar, yang lain-lain, yang batik-batik,” kata Moh Tarib.

Yang menarik, tradisi itu juga masih melibatkan generasi muda. Sebagian perajin bahkan masih duduk di bangku sekolah. Sepulang sekolah, mereka kembali membantu mengerjakan batik.

“Ada yang muda. Ada yang masih SMP. Nanti pulangnya dari sekolah kerja itu,” ujarnya.

Di tengah perjalanan mengembangkan batik tulis tersebut, dukungan dari berbagai pihak juga turut dirasakan. Moh Tarib menyebut PHE WMO sebagai salah satu pihak yang memberikan pembinaan, termasuk pelatihan dan kesempatan mengikuti pameran.

“Alhamdulillah, dari dulu sudah. Ini juga binaannya PHE WMO. Banyak bantuan-bantuan juga, termasuk pelatihan dan diikutkan pameran di Jakarta,” ujarnya.

Di tengah aktivitas membatik yang berlangsung di rumahnya, Rusmidah tidak hanya dikenal sebagai pengrajin. Ia juga dipercaya menjadi Ketua UMKM Batik Tulis Tanjung Bumi.

untuk jenis batik tertentu, proses pewarnaannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Salah satu yang terkenal adalah batik gentongan.

Rusmidah menjelaskan, kain untuk batik gentongan dapat melalui proses perendaman selama berbulan-bulan. Ada yang direndam selama sekitar 40 hari, bahkan hingga 60 hari atau dua bulan, tergantung proses yang dilakukan.

“Kalau gentongan ini mahal. Kita proses selesai itu sampai satu tahun, satu kain,” katanya.

Kain direndam dalam gentong, menggunakan bahan-bahan pewarna alami yang menurut Rusmida telah digunakan sejak zaman orang-orang terdahulu.

“Ada yang 40 hari, ada yang 60 hari, dua bulan. Direndam di dalam gentong,” jelasnya.

Proses panjang itulah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas batik gentongan Tanjung Bumi.

Namun, bagi Rusmida, keistimewaan batik gentongan bukan semata-mata karena kain direndam dalam gentong.

“Gentongan itu bukan awet warnanya. Ada khas sendiri,” ujarnya.

Kekhasan itu juga tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan dan kebiasaan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Rusmida mengaku dirinya merupakan generasi ketiga dalam keluarga yang meneruskan tradisi tersebut.

“Saya generasi ketiga,” katanya.

Dalam proses pembuatan batik tradisional, ia juga masih mengenal sejumlah pantangan yang dipercaya oleh sebagian perajin. Salah satunya berkaitan dengan kondisi orang yang terlibat dalam proses pengerjaan maupun orang yang datang melihat proses tersebut.

Menurut Rusmidah, ada kepercayaan bahwa orang yang sedang menstruasi sebaiknya tidak ikut dalam proses tertentu.

“Kalau yang bikin harus betul-betul apa namanya, suci. Tidak menstruasi. Lewat pun ada orang menstruasi mau lihat, itu tidak diperbolehkan, karena menyebabkan proses pewarnaan rusak,” tuturnya.

Melihat potensi tersebut, sejak 2004 PHE WMO mulai melakukan pembinaan terhadap kelompok UMKM Batik Tulis Tanjung Bumi di Desa Macajah melalui Program Pemberdayaan Nelayan Pesisir.

Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pelatihan membatik, peningkatan kualitas produk, bantuan sarana produksi, hingga penguatan pemasaran.

Dewi Sinta (24) sedang memproses menghilankan malan yang membandel dikain batik yang sudah di warnai dengan cara di plorot

Pasarnya pun semakin luas. Selain dijual di Bangkalan dan sejumlah toko batik, produk Tanjung Bumi dipasarkan melalui media sosial, marketplace, serta berbagai pameran, termasuk INACRAFT 2025. Bahkan, batik tersebut telah menjangkau Malaysia melalui jaringan masyarakat Madura.

Hal tersebut juga menjadi bagian dari upaya PHE WMO dalam mengembangkan Batik Tulis Tanjung Bumi. Manager Comrel & CID Regional 4, Rahmat Drajat, mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin.

“Program Pemberdayaan Batik Tulis Tanjung Bumi menjadi upaya kami mengintegrasikan pelestarian budaya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin keterampilan membatik terus diwariskan kepada generasi berikutnya dan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pengrajinnya,” ujar Rahmat.

Menurutnya, pendampingan dilakukan melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, dukungan sarana produksi hingga perluasan akses pasar.

“Kami mendorong perempuan dan ibu rumah tangga untuk semakin produktif dan mandiri. Ketika budaya tetap lestari dan pada saat yang sama mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di situlah keberlanjutan program dapat terwujud,” katanya

Sementara itu, Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur, Sigit Dwi Aryono, mengatakan pemberdayaan Batik Tulis Tanjung Bumi merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program sosial yang berkelanjutan.

“Pengembangan Batik Tulis Tanjung Bumi merupakan bagian dari komitmen kami dalam pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian warisan budaya,” ujar Sigit.

Menurutnya, pendampingan tidak semestinya membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi justru mendorong kelompok semakin mandiri.

“Kami berharap pendampingan ini mampu membangun kapasitas dan kemandirian kelompok, sehingga Batik Tanjung Bumi terus berkembang, memiliki akses pasar yang semakin luas, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

Suryaningsih (52) di temani Miftah Reporter RRI sedang konsentrasi proses malan pada kain putih yang sudah di gambar sebelumnya

Dari sisi pemerintah daerah, perkembangan batik Tanjung Bumi juga dinilai menunjukkan arah positif.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Bangkalan, Mohammad Rasuli, mengatakan produk batik Tanjung Bumi semakin beragam dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

“Perkembangan UMKM batik di Kabupaten Bangkalan, khususnya sentra batik Tanjung Bumi, menunjukkan hal yang positif. Produk batiknya beragam dan memiliki nilai ekonomi tinggi,” ungkap Rasuli.

Saat ini, terdapat sekitar 150 pelaku UMKM batik yang telah terdata di Kabupaten Bangkalan. Namun, menurut Rasuli, pemasaran digital para perajin masih banyak mengandalkan WhatsApp dan jaringan pembeli secara langsung.

“Di sisi lain, peluang pasar terus terbuka melalui pameran, berbagai event batik, dan promosi di media sosial,” ucapnya.

Pemerintah daerah, kata Rasuli, terus mendorong peningkatan kualitas produk melalui pelatihan dan penguatan keterampilan pembatik, pengembangan desain dan motif, serta peningkatan kualitas bahan baku.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuat batik Bangkalan, khususnya Batik Tanjung Bumi, semakin mampu bersaing sekaligus mempertahankan kekhasan budaya yang menjadi identitasnya.

Di halaman rumah, pekerjaan lain berlangsung. Dewi Sinta, perempuan yang masih berusia 24 tahun, terlihat lihai menangani kain batik.

Di tangannya, proses pewarnaan memasuki salah satu tahapan penting. Ia sedang memastikan malan yang digunakan untuk menutup bagian tertentu pada kain tetap bekerja sebagaimana mestinya.

“Sekarang lagi melihat malannya yang bandel, enggak mau turun sendiri,” katanya sambil memperhatikan kain yang sedang dikerjakan.

Dalam tahapan tersebut, air panas juga digunakan untuk membantu proses pelorotan malan.

“Harus pakai air mendidih,” jelas Dewi Sinta.

Setelah malan berhasil dilepaskan melalui proses pelorotan, kain kemudian dibersihkan dan dijemur.

“Kalau sudah dilorot, langsung dijemur,” kata perempuan ber paras cantik itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....