Mitos Mistis di Balik Batik Gentongan Tanjung Bumi Bangkalan
- 02 Okt 2026 16:03 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Rusmidah, berusia 64 tahun, adalah pengrajin batik tulis generasi ketiga yang melanjutkan usaha batik keluarganya di Desa Macajeh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan.
- Batik gentongan Tanjung Bumi memiliki keindahan yang tersimpan di balik cerita warisan turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
- Proses membatik yang panjang disertai dengan kepercayaan dan pantangan tradisional yang masih dijaga hingga kini menjadi bagian integral dari batik gentongan.
RRI CO.ID, Bangkalan - Di balik keindahan batik gentongan Tanjung Bumi, tersimpan cerita yang sejak dulu diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan hanya tentang proses membatik yang panjang, tetapi juga kepercayaan dan pantangan yang masih dijaga hingga kini.
Rusmidah, 64 tahun, pemilik batik tulis di Desa Macajeh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha batik keluarganya.
Ia mengatakan, batik gentongan memiliki proses yang berbeda dibandingkan batik pada umumnya. Kain harus melalui tahapan panjang, termasuk direndam di dalam gentong selama puluhan hari.
“Ada yang 20 hari, 40 hari, sampai 60 hari,” kata Rusmidah ditemui RRI.co.id, di kediamannya, Jum'at 2 September 2026.
Untuk menyelesaikan satu kain secara keseluruhan, prosesnya bahkan bisa membutuhkan waktu hingga satu tahun. Lamanya proses inilah yang membuat batik gentongan memiliki nilai dan karakter tersendiri.
Namun, ada cerita lain yang membuat batik gentongan semakin menarik. Di kalangan perajin, terdapat kepercayaan mengenai pantangan yang harus dipatuhi selama proses pembuatannya.
Rusmidah menyebut, perempuan yang sedang menstruasi dipercaya tidak diperbolehkan memasuki atau melihat proses tertentu dalam pembuatan batik gentongan.
Kepercayaan tersebut, menurutnya, masih dipertahankan hingga sekarang. Para perajin meyakini aturan itu sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
Salah satu hal yang juga dipercaya berkaitan dengan proses pewarnaan. Jika prosesnya tidak dilakukan dengan benar, warna kain bisa rusak, tidak cerah, dan akhirnya tidak dapat dijual.
Dahulu, kata Rusmidah bahan pewarna juga banyak memanfaatkan tanaman alami, termasuk mengkudu. Sementara proses perendaman dilakukan menggunakan gentong yang menjadi asal penamaan batik gentongan.
"Selain proses dan kepercayaan itu, batik gentongan membutuhkan banyak tangan terampil. Ada perajin yang menggambar motif, memberikan malam, melakukan pewarnaan, hingga menyelesaikan tahap akhir," ucapnya.
Kain yang sudah selesai pun masih dapat mengeluarkan warna ketika pertama kali dicuci. Menurut Rusmidah, hal tersebut merupakan salah satu karakter dari batik gentongan.
“Kalau dicuci satu kali tetap luntur, jangan kaget,” ujarnya.
Harga batik tulis Tanjung Bumi beragam, bergantung pada motif, ukuran, dan tingkat kerumitannya. Kain dengan motif tertentu dapat dijual hingga puluhan juta rupiah.
Bagi Rusmidah, cerita tentang pantangan dan kepercayaan bukan sekadar kisah masa lalu. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan batik gentongan yang diwariskan keluarganya selama tiga generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....