Dulu Gersang, Kini Menghijau: Kisah Petani Bangkalan Bersama Pertamina
- 03 Okt 2026 18:55 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Wartawan RRI melakukan perjalanan ke Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan pada pukul 08.45 WIB dengan perjalanan sekitar satu setengah jam dari Kota Bangkalan.
- Kondisi pemandangan sepanjang perjalanan didominasi oleh tanah tegalan yang kering dan tidak produktif, tersebar di kedua sisi jalan dengan jalanan yang berdebu.
- Sebagian besar lahan pertanian di wilayah tersebut tampak dibiarkan tanpa tanaman, menunjukkan indikasi permasalahan pertanian atau musim kemarau yang berkepanjangan.
RRI.CO.ID, Bangkalan - Pukul 08.45 WIB ketika saya tiba di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Matahari mulai terasa menyengat. Udara panas menyambut perjalanan yang telah ditempuh sekitar satu setengah jam dari Kota Bangkalan.
Sepanjang perjalanan, pemandangan yang saya temui nyaris seragam. Tanah tegalan terbentang di kanan dan kiri jalan. Sebagian tampak kering, sebagian lainnya dibiarkan tanpa tanaman dan jalanan berdebu.
Bagi petani yang mengandalkan lahan tadah hujan, musim seperti ini berarti lebih dari sekadar panas. Ketika hujan tak kunjung turun, tanah harus menunggu. Sebagian lahan terpaksa dibiarkan menganggur hingga musim penghujan tiba.
Panas yang menyengat membuat perjalanan terasa semakin panjang. Namun, suasana berubah ketika saya tiba di kawasan Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera.
Seorang pria mengenakan paci hitam, kaos lengan panjang berwarna merah dengan logo Pertamina PHE WMO, dan sarung serta bersandal japit menyambut saya dengan senyum ramah.
Dialah Marnawi (35tahun), Ketua Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera.
“Silakan, mari duduk dulu di sini, naik ke atas” katanya sambil mempersilakan saya menuju balai pertemuan yang berdiri kokoh dengan bahan kayu dengan sejumlah suguhan hasil tani, ada kacang tanah tebus, umbi-umbian, jagung rebus dan lainnya. Kamis, 1 Oktober 2026.

Saya mengikuti langkahnya menuju sebuah saung yang berada di sebelah jalan Desa area pertanian. Dari tempat itu, mata saya justru tertuju pada sesuatu yang tidak banyak saya temui sepanjang perjalanan.
Tanaman semangka menjalar di atas tanah. Buah-buahnya mulai membesar, sebagian tinggal menunggu beberapa hari untuk dipanen.
“Itu semangkanya sebentar lagi panen, pohon tomatnya baru mulai belajar berbuah,” ujar Marnawi sambil menunjuk are tanaman yang menghijau.
Tak jauh dari semangka, tanaman tomat yang baru berumur sekitar satu bulan mulai mengeluarkan bunga. Bunga-bunga kecil berwarna putih terlihat di antara daun. Sebagian tanaman bahkan sudah mulai menghasilkan buah.
Gambas pun tumbuh merambat. Buahnya bergelantungan di antara dedaunan yang rimbun. Di bawah matahari pagi yang semakin tinggi, warna hijau itu terasa seperti kesejukan.
Pemandangan tersebut membuat saya kembali mengingat perjalanan sebelumnya. Hanya beberapa waktu lalu saya melihat tegalan-tegalan kering. Kini, di hadapan saya, tanaman justru tumbuh subur.
Marnawi bukan seorang petani sejak awal. Ia mengaku pernah bekerja sebagai kuli kasar di luar negeri. Dunia pertanian baru benar-benar ia kenal setelah kembali dan mulai terlibat dalam kegiatan kelompok tani mulai tahun 2019 lalu.
“Awalnya saya tidak tahu apa-apa soal bertani. Saya sebelumnya kerja kuli kasar di luar negeri. Alhamdulillah, bisa panen itu sudah luar biasa, karena saya benar-benar tidak ada dasar dalam bertani,” ujarnya, mengenang awal dirinya menekuni pertanian.
Bagi Marnawi, panen bukan hanya tentang berapa kilogram hasil yang berhasil dikumpulkan. Ada kebanggaan ketika sesuatu yang ditanam dengan tangan sendiri akhirnya bisa dipetik.
Tetapi sebelum sampai pada tahap itu, ia dan anggota kelompoknya harus melewati berbagai persoalan. Salah satunya adalah pasar. Marnawi masih mengingat bagaimana hasil panen pertama mereka tidak mudah diterima oleh Masyarakat.
“Kata orang, sayur dari Bangkalan rasanya beda. Bahkan ketika kami kasih sampel gratis, tetap ditolak,” kenangnya.
Penolakan itu datang ketika mereka mencoba membuka pasar untuk hasil pertanian lokal. Harga pun belum berpihak. Tomat lokal kala itu hanya dihargai sekitar Rp3.000 per kilogram, sementara tomat dari Jawa bisa mencapai Rp6.000 per kilogram.

Namun, Marnawi tidak memilih berhenti. Ia membawa sendiri hasil panen dari satu warung ke warung lainnya. Menawarkan, memberi sampel, dan membiarkan pemilik warung mencoba sendiri.
“Kalau ternyata tidak busuk, bolehlah jadi langganan,” katanya waktu itu kepada para pedagang di pasar Tanjung Bumi.
Bukan proses yang instan. Tetapi dari sana, hasil pertanian mereka mulai menemukan jalannya sendiri menuju konsumen.
Cerita tentang sulitnya menembus pasar ternyata tidak hanya dirasakan Marnawi.
Di kelompok tani itu, ada Fathorrosi (22Tahun), anggota yang juga merasakan pahitnya ketika hasil jerih payah di kebun belum tentu diterima oleh pasar.
Nada suaranya berubah ketika ia mengingat masa itu. Hasil panen sudah ada di tangan. Sayuran sudah ditanam dan dirawat. Tetapi ketika tiba waktunya menjual, persoalan baru justru dimulai.
Ia ikut menawarkan hasil panen secara langsung. Bahkan tidak jarang memberikan sampel secara cuma-cuma agar calon pembeli mau mencoba. Namun, penolakan tetap datang.
“Yang paling pahit itu awal-awal di pemasaran mas,” ujarnya.
Ia terdiam sejenak, seolah kembali mengingat bagaimana hasil yang telah ditunggu-tunggu justru tidak menemukan pembeli.
“Yang pas nawarin gratis itu saya. Ya, kayak mau nangis, Mas. Sudah ditolak,” kenangnya.
Pasar Tanjung Bumi menjadi salah satu tempat mereka mencoba menjual hasil pertanian. Tetapi pengalaman awal tidak selalu mudah. Bagi petani, menanam ternyata bukan satu-satunya pekerjaan.
Setelah benih tumbuh, bunga muncul, dan buah mulai matang, masih ada pertanyaan yang harus dijawab, ke mana hasil panen akan dibawa?
Pertanyaan sederhana itu menjadi salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi.
Cerita yang hampir sama juga dirasakan Muhtarom (24tahun), anggota Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera. Ia mengaku memulai pertanian dari nol.
“Dulu di sini hanya jagung dan kacang saat musim hujan. Tanah gersang membuat orang tak percaya bisa menanam sayur. Tapi program Eco Edufarming dari PHE WMO membuka jalan,” ucapnya.
Bagi Muhtarom, perubahan tidak hanya terlihat dari jenis tanaman yang kini tumbuh. Ada pengetahuan baru yang ikut tumbuh bersama tanaman.
Ia belajar dari sesama anggota kelompok, pendamping, dan pengalaman langsung di lahan. Dari sana, ia mulai melihat bahwa lahan yang selama ini dianggap biasa saja ternyata memiliki potensi.
“Potensi pertanian itu besar. Saya yakin ini bisa jadi masa depan desa,” katanya.
Menjelang siang, matahari mulai tepat berada di atas kepala. Bayangan pepohonan semakin pendek. Panas yang sejak pagi terasa ringan mulai menyengat kulit.
Marnawi kemudian mengajak saya menyusuri lahan bersama dua anggota kelompok tani lainnya.
Kami berjalan pelan di antara barisan tanaman yang menghijau. Langkah kami sesekali terhenti ketika Marnawi menunjukkan tanaman yang tumbuh di hadapan kami.
“Ini yang sebentar lagi kita panen,” katanya sambil menunjuk buah semangka yang mulai membesar.
Beberapa langkah kemudian, saya sampai di tanaman tomat. Bunga-bunga kecil terlihat di antara rimbunnya daun, sementara buah-buah muda mulai bermunculan.
“Tomat ini masih muda, tapi sudah mulai banyak buahnya,” ujar Marnawi di bawah terik matahari.
Di lokasi yang sama tanaman gambas tumbuh merambat. Buah-buahnya bergelantungan di antara sulur dan daun yang memenuhi para-para.
“Kalau gambas, ini sudah mulai banyak yang bisa dipetik,” katanya.
Dua anggota kelompok tani yang berjalan bersama saya ikut memperhatikan kondisi tanaman. Sesekali mereka melihat daun dan buah, memastikan tanaman tetap tumbuh dengan baik dan tidak kena penyakit.
Di titik inilah program Eco Edufarming PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) hadir sebagai bagian dari perjalanan Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), pendampingan tidak hanya diarahkan pada kegiatan menanam, tetapi juga bagaimana masyarakat memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Menariknya, cerita Eco Edufarming di Desa Bandang Dajah justru bermula dari air.
Program ini merupakan pengembangan dari HIPAM yang telah dijalankan PHE WMO sejak sekitar 2007–2008 untuk membantu di sejumlah desa. Setelah menjangkau sekitar empat hingga lima desa, termasuk Bandang Dajah, PHE WMO melihat masih adanya potensi air yang belum banyak dimanfaatkan.
Pada 2019, bersama Universitas Trunojoyo Madura (UTM), PHE WMO melakukan studi geolistrik untuk memetakan cadangan air. Hasilnya menunjukkan potensi cadangan air yang cukup besar, sementara pemanfaatannya oleh masyarakat masih relatif kecil.
PHE WMO melanjutkan melakukan social mapping untuk melihat persoalan sekaligus potensi masyarakat. Dari pemetaan tersebut, ditemukan sejumlah tantangan, mulai dari tingkat pendidikan, fenomena brain drain atau keluarnya tenaga produktif dari desa, hingga kebutuhan buah dan sayuran yang masih banyak dipasok dari luar Jawa.
Pada 2020, program pertanian mulai dikembangkan. Namun, membawa pertanian ke Bandang Dajah bukan perkara mudah. Lahan yang ada kering dan didominasi tanah merah. Tak sedikit masyarakat yang meragukan apakah sayuran bisa tumbuh di sana.

“Dulu ketika awal memulai proses kami cukup diremehkan oleh masyarakat sekitar. Mana mungkin menanam pertanian, jelas-jelas tidak ada tanaman dan gersang,” kata Marnawi seambil tersenyum tipis.
Keraguan itu kemudian dijawab melalui proses. PHE WMO membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, kepala desa, tenaga pendidik, serta para penggerak lokal. Kepercayaan dibangun perlahan, hingga lahan yang semula kering mulai dicoba ditanami dan perlahan berubah hijau.
Bagi Rahmat Drajat, Manager Comrel & CID Regional 4 PHE WMO, proses tersebut memang membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak awal.
“Kelompok ini sebenarnya kami libatkan mulai dari awal perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan yang paling penting evaluasi,” ujarnya.
Pendampingan pun dilakukan secara rutin. Tim PHE WMO turun ke lapangan untuk melihat perkembangan sekaligus mendengarkan keluhan, tantangan, dan masukan para petani.
“Setiap dua minggu atau satu bulan, kami selalu melakukan pendampingan. Apa yang menjadi keluhan mereka, apa yang menjadi tantangan mereka, apa yang menjadi masukan mereka, itu yang kami dengarkan,” jelasnya.
Evaluasi juga dilakukan secara berkala dengan melibatkan jajaran manajemen pada tingkat yang lebih tinggi.
“Artinya, pendampingan yang kami lakukan tidak hanya sebatas di awal, pertengahan maupun akhirnya. Tetapi di setiap proses mereka berjalan dalam satu tahun itu kami rutin melakukan pendampingan,” kata Rahmat.
Semangat serupa disampaikan Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur, Sigit Dwi Aryono. Ia mengatakan, Regional Indonesia Timur berkomitmen menjalankan program berkelanjutan dalam kerangka Environmental, Social & Governance (ESG), khususnya melalui hubungan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Harapannya, kami dapat menjalankan peran semaksimal mungkin sebagai pendukung ketersediaan energi negeri, di sisi lain juga menumbuhkan kemandirian bagi masyarakat lokal,” ucap Sigit.
Perjalanan program ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Bandang Dajah. Kepala Desa Moh. Asir, mengatakan sejak awal dirinya melihat pertanian sebagai kegiatan yang memiliki potensi untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Namun, perjalanan program tersebut sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda.
“Waktu itu memang sempat vakum karena Covid-19. Kemudian pada 2021 kami kembali melanjutkan,” ujar Moh. Asir.
Ketika program kembali berjalan, ia mengaku langsung mengajak kelompok tani untuk meneruskan kegiatan pertanian tersebut.
“Saya langsung menawarkan lagi kepada kelompok tani untuk melanjutkan program pertanian ini. Karena menurut saya, pertanian ini sangat positif dan bisa menggerakkan perekonomian desa,” ucapnya.
Menjelang siang, matahari semakin tinggi. Panas mulai terasa menyengat ketika Marnawi mengajak saya berjalan menyusuri lahan bersama dua anggota kelompok tani lainnya.
Langkah kami perlahan menyusuri barisan tanaman yang menghijau. Sesekali Marnawi berhenti. Ia menunjuk tanaman yang ada di hadapan kami, lalu menjelaskan bagaimana mereka merawatnya.
“Kalau yang ini semangka, sebentar lagi sudah bisa dipanen,” katanya sambil memegang buah yang mulai membesar di antara daun yang menjalar.
Di sisi lain, tanaman tomat tampak mulai berbunga. Beberapa buah kecil terlihat menggantung di antara daun.
“Tomatnya ini baru sekitar satu bulan. Sudah mulai berbunga dan sebagian sudah ada buahnya,” jelas Marnawi.
Saya memperhatikan tanaman itu lebih dekat. Di tengah udara yang semakin panas, daun-daun hijau justru terlihat segar.
Marnawi kemudian menunjukkan selang-selang kecil yang terpasang di sekitar tanaman.
“Ini penyiramannya pakai sistem tetes. Jadi air langsung ke tanaman, tidak disiram begitu saja,” ia menjelaskan.
Ia menceritakan cara tersebut menjadi salah satu upaya kelompok tani menghemat penggunaan air, terutama ketika kemarau datang dan kebutuhan air menjadi semakin penting.
Di atas para-para, tanaman gambas tumbuh merambat. Buah-buahnya bergelantungan di antara sulur dan daun yang rimbun.
“Kalau gambas ini sudah mulai bisa dipetik,” kata Marnawi.
Ia kemudian menunjuk ke bagian lain dari lahan, penggunaan cocopeat atau serabut kelapa sebagai salah satu media tanam.
“Cocopeat ini membantu menjaga kelembapan. Jadi air yang diberikan ke tanaman bisa lebih dimanfaatkan,” katanya.
Di luar lahan, beberapa tegalan masih tampak kering dan menunggu hujan. Namun di tempat saya berdiri, semangka tumbuh, tomat mulai berbuah, dan gambas bergelantungan.
Bukan berarti kemarau tidak sampai ke tempat ini. Panasnya sama. Mataharinya sama. Tanah di sekitarnya pun sama-sama menghadapi musim kering.
Marnawi dan para anggota kelompok tani tidak sekadar menunggu hujan datang. Mereka mencoba mengatur air yang tersedia, menghemat penggunaannya, dan memanfaatkan teknologi yang mereka miliki.
Bagi Marnawi, menjaga tanaman tetap hidup di musim kemarau bukan perkara mudah. Tetapi setiap kali melihat tanaman tumbuh, ada kepuasan tersendiri.
“Kalau tanamannya bisa tumbuh seperti ini, kita senang. Berarti usaha kita tidak sia-sia,” kata Marnawi dengan senyum myakinkan.
Perlahan, hasil panen kelompok tani mulai menunjukkan perubahan. Jika pada awalnya mereka hanya berharap bisa kembali modal, kini permintaan dari masyarakat mulai meningkat.
“Kalau awal-awal panen, pendapatan masih rendah. Bisa kembali modal saja sudah untung,” ungkap Marnawi.
Seiring waktu, sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam mulai dikenal warga Bandang Dajah dan sekitarnya. Bahkan, permintaan dari pasar juga semakin banyak.
“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai banyak peminatnya. Kalau panennya bagus dan tidak ada kendala, hasilnya bisa sampai Rp50 juta sampai Rp60 juta,” katanya.
Tanaman yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari timun, kacang panjang, tomat, gambas, semangka, dan melon. Pada musim tertentu mereka juga menanam cabai, kangkung, terong, hingga kacang tanah.
Pemilihan tanaman disesuaikan dengan musim dan perkiraan harga saat panen.
“Kita lihat tanaman apa yang bulan ini ditanam, bulan depan panen, dan kira-kira harganya bagus. Itu yang kita tanam,” kata Marnawi menceritakan kisah sebagai petani yang saat ini menjadi percontohan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....