Strategi Usaha Batik Tulis Madura Menembus Pasar Nasional

  • 02 Okt 2026 11:13 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Menjaga eksistensi bisnis batik tulis UMKM memerlukan formulasi strategi harga dan pemasaran yang tepat serta adaptif.
  • Penentuan harga jual batik tulis sangat bergantung pada tingkat kerumitan proses membatik, kualitas kain, teknik pewarnaan, dan durasi pengerjaan.
  • Produk batik tulis Madura ditawarkan dengan rentang harga yang luas, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp10 juta per lembar.

RRI.CO.ID, Pamekasan - Menjaga eksistensi bisnis batik tulis skala UMKM membutuhkan formulasi strategi harga dan pemasaran yang tepat serta adaptif. Pelaku usaha Batik Tulis Madura, Muhammad Aufal Fresky, menyebutkan bahwa penentuan harga jual sangat bergantung pada tingkat kerumitan proses membatik, kualitas kain, teknik pewarnaan, dan durasi pengerjaan.

“Produk yang ditawarkan memiliki rentang harga yang cukup luas, mulai dari Rp200 ribu hingga mencapai Rp10 juta per lembar,” katanya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional, Aufal menerapkan pendekatan promosi langsung (face-to-face) serta memperkuat jejaring kemitraan. Ia aktif memperkenalkan keunggulan ragam motif khas Madura seperti Serat Kayu, Junjung Derajat, dan Burung Mata Perkutut kepada para tamu dan peneliti yang berkunjung ke daerahnya.

“Langkah ini didukung pula oleh program kemitraan bersama BUMN seperti PLN yang turut mendongkrak volume produksi harian,” ucapnya, menambahkan.

Di sisi lain, media sosial seperti TikTok dan Instagram menjadi pilar utama dalam membangun persepsi positif serta menarik minat calon pembeli luar daerah. Unggahan video autentik yang menampilkan proses pembuatan batik dari awal hingga akhir berhasil menggerakkan rombongan wisatawan dan instansi dari berbagai kota untuk datang berkunjung.

“Pendekatan digital ini terbukti ampuh menjembatani pemasaran tradisional menuju pasar modern yang lebih inklusif,” ujarnya.

Aufal berharap geliat industri batik nasional dapat terus tumbuh positif sehingga berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup para perajin di daerah. Menurutnya, rasa cinta terhadap budaya Nusantara harus dibuktikan melalui tindakan nyata, baik melalui pembelian produk lokal maupun kampanye di media sosial. Sinergi antara pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah menjadi fondasi penting demi menjamin keberlanjutan warisan budaya batik Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....