Kafe Klasik: Dari Hobi Nongkrong ke Ruang Edukatif Mahasiswa
- 09 Mei 2026 20:56 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Bangkalan - Sabtu malam, 9 Mei 2026, sekitar pukul 19.30 WIB, suasana di Jalan Raya Telang, Desa Telang, Kamal Bangkalan, tepat di lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), begitu semarak. Parkiran penuh kendaraan, mahasiswa hilir mudik mencari tempat duduk. Dari dapur, aroma kopi dan minuman sehat menyeruak, membuat siapa pun yang melintas ingin segera mampir.
Di kursi-kursi yang disiapkan, mahasiswa tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing, ada yang belajar kelompok, berdiskusi tugas, hingga sekadar bersantai sambil menggulir layar ponsel.
BACA JUGA: Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok
Lampu sorot menambah hangat suasana, ditemani alunan musik akustik yang membuat malam terasa tenang. Di lantai dua, kelompok mahasiswa terlihat serius mengerjakan tugas kuliah, sementara sebagian lainnya hanya bercengkerama ringan.

Di tengah keramaian itu, sang pemilik kafe, M. Sodiq Ramadani (45), tampak berkeliling memantau karyawannya. Senyum ramah para pelayan mengiringi setiap pesanan yang diantar ke meja, kopi, jus, hingga makanan ringan.
“Saya memang suka nongkrong. Dulu hampir tiap hari ke Surabaya hanya untuk duduk di kafe. Setelah punya kafe sendiri, rasanya lebih enak. Nongkrong di tempat sendiri, sambil lihat ramai customer,” ujarnya sambil memantau parkiran sepeda motor di halaman kafenya.
BACA JUGA: Dari SPG ke Owner Laundry Berkat KUR BRI
Sodiq bukanlah orang baru dalam dunia kerja. Sebelum membuka kafe, ia pernah berkecimpung sebagai jurnalis dan kontraktor. Namun kecintaannya pada budaya nongkrong membuatnya bermimpi memiliki tempat sendiri. Lokasi di dekat kampus dipilih karena dinilai strategis, mayoritas pengunjung adalah mahasiswa, dengan persentase hingga 75 persen.
“Orang umum ada juga, tapi kecil. Mayoritas memang mahasiswa,” katanya.
BACA JUGA: Irza: Dari Kampus ke Kandang, Merintis Ternak Kambing dengan KUR BRI
Perjalanan usaha ini tidak lepas dari dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Sodiq mengajukan pinjaman hingga Rp500 juta untuk memperkuat fasilitas dan pelayanan.

“Prosesnya tidak ribet. Setelah survei lokasi, Alhamdulillah langsung cair. KUR ini sangat membantu, bunganya juga kecil sekali,” ungkapnya.
Dana itu digunakan untuk melengkapi interior, mesin kopi, serta fasilitas pendukung agar mahasiswa merasa nyaman.
BACA JUGA: Dukungan BRI Menguatkan Wisata Desa Brilian Lontar Sewu
“Bangunan sudah ada, usaha sudah jalan. Tapi untuk meningkatkan pelayanan, juga fasilitas, saya butuh tambahan modal. Di situlah KUR BRI jadi solusi,” kata pria kelahiran Sumenep itu.
Sodiq mengaku pernah mengajukan KUR sebelumnya untuk usaha jual-beli minyak goreng dengan pinjaman Rp5 juta. Namun kali ini, pinjaman lebih besar diberikan untuk mendukung operasional kafe.
“Alhamdulillah, prosesnya enak. Saling support antara pengusaha dan perbankan,” ujarnya.
Cafe Klasik kini mempekerjakan enam karyawan. Menunya pun disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, kopi, jus, makan ringan dan minuman sehat dengan harga ramah kantong.
“Kafe ini dikenal sebagai kafe edukatif. Rata-rata mahasiswa datang untuk belajar kelompok. Nongkrong ada, tapi lebih banyak yang serius mengerjakan tugas,” jelas Sodiq.
Karyawan senior, Zahri, yang juga penanggung jawab kafe usai menghantar pesanan, mengaku betah bekerja.
“Selain suasana nyaman, pekerjaan ini juga menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Saya merasa tenang di sini,” katanya.
Cafe Klasik berdiri sejak Maret 2021, tepat di masa pandemi COVID-19 gelombang kedua. Tantangan besar di awal tidak membuat Sodiq mundur. Justru ia melihat peluang, mahasiswa tetap membutuhkan ruang belajar yang nyaman, dengan harga terjangkau.
“Menu kami relatif sama dengan kafe lain, tapi kami tekankan minuman sehat. Itu yang membedakan,” ujarnya.
Meski baru beberapa tahun berjalan, Cafe Klasik berkembang pesat. Sodiq berencana membuka cabang di daerah lain, bahkan sempat merencanakan di Malang sebelum pandemi menghalangi.
“Insya Allah nanti akan kita kembangkan lagi. Tidak hanya di Telang, tapi juga di daerah lain,” katanya penuh semangat.
Baginya, KUR bukan sekadar modal usaha, melainkan pintu peluang.
“Program pemerintah ini harus dimanfaatkan. Dengan modal kecil, kita bisa membuka usaha, memberi lapangan kerja, dan menginspirasi anak muda,” pesannya sebelum meng akhir perbincangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....