Mengetuk Pintu Harapan, Petugas PKH Sampang Merajut Mimpi Sekolah Rakyat

  • 24 Jun 2026 23:08 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang – Di lorong-lorong desa yang lengang, langkah para pendamping PKH terus bergema. Mereka datang bukan sekadar membawa daftar nama dari pre list DTSEN, melainkan membawa secercah cahaya bagi anak-anak yang hampir kehilangan masa depan.

Rohman Rohim, anggota tim PKH Kecamatan Jrengik, menuturkan kisah yang menyayat hati.

BACA JUGA: Merajut Asa Pelita Bangsa di Tengah Keterbatasan

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan sering kali menjadi kemewahan yang terbuang. Anak-anak miskin ekstrem, sebagian terlantar, sebagian putus sekolah, seakan tak lagi punya ruang untuk bermimpi,” ucapnya lirih dalam program Sampang Menyapa, Rabu 24 Juni 2026.

Selama satu setengah bulan, perjalanan itu menjadi semacam ziarah kecil, mengetuk pintu rumah, merajut dialog dengan orang tua, membujuk anak-anak yang semangat belajarnya telah padam. Mereka datang bukan hanya membawa program, melainkan amanah besar menjalankan UUD 1945 pasal 34, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

BACA JUGA: Waka Kurikulum SRT 51 Bangkalan Cetak Harapan Baru Pendidikan Anak Istimewa

“Sesuai arahan Menteri Sosial, Sekolah Rakyat didesain sebagai jaring pengaman terakhir bagi mereka yang benar-benar kehilangan akses Pendidikan,” kata Rohman dalam perbincangan itu.

Di Sampang, angka itu begitu mencengangkan: 49.000 anak rentan dan putus sekolah tersebar di 14 kecamatan. Tim PKH hadir sebagai jembatan, mengajak mereka kembali ke jalur pendidikan. Hingga kini, baru 51 calon siswa SD yang bersedia bergabung dari kuota 90 orang.

BACA JUGA: Lahan SRT 51 Bangkalan Rampung Dibebaskan Kini Proses Pemadatan

“Anak-anak dari keluarga paling miskin sekalipun tidak boleh berkecil hati. Melalui penjangkauan ini, kami berkomitmen mengawal mereka mendapatkan kesempatan kedua. Mereka akan dibekali kemandirian, peluang pekerjaan, hingga kesempatan menuju perguruan tinggi. Ini ikhtiar memutus rantai kemiskinan, jadi kami tidak berhenti meyakinkan, mereka harus kembali ke bangku sekolah,” ujar Rohman penuh keyakinan.

Meski antusias di tingkat SD belum maksimal, semangat itu tidak pernah surut. “Memang tidak mudah bagi orang tua melepas buah hati di bawah usia 12 tahun untuk sekolah model asrama. Tapi semua membutuhkan waktu, mereka juga butuh keyakinan. Semoga setelah pembelajaran berjalan, keraguan itu luruh, dan lebih banyak anak berani merajut masa depan,” tambahnya.

Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah pintu kedua bagi anak-anak yang hampir kehilangan masa depan. Di sana, mereka bukan hanya diajak membaca dan berhitung, tetapi juga dibekali kemandirian, peluang kerja, bahkan kesempatan menuju perguruan tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....