Gua Tapak Raja dan Asa Ekonomi Warga di Sekitar IKN
- 14 Sep 2026 11:14 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara - Gua Tapak Raja di Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, tidak lagi sekadar mengandalkan keindahan gua dan kawasan hutan. Di tengah pertumbuhan Ibu Kota Nusantara, destinasi ini sedang diarahkan menjadi bagian dari ekosistem wisata yang menghubungkan alam, masyarakat, UMKM, budaya, dan ekonomi kreatif.
Bagi masyarakat Desa Wonosari, perjalanan Gua Tapak Raja menjadi destinasi wisata tidak berlangsung dalam waktu singkat. Kepala Desa Wonosari Kasiyono mengatakan, potensi tersebut mulai dikembangkan bersama pemuda desa sejak 2016, ketika akses menuju kawasan gua masih sangat terbatas.
“Yang pertama saya jadi Kepala Desa tahun 2016 melihat ada potensi wisata di desa kami. Bersama teman-teman pemuda saya mencoba mengembangkan ini,” kata Kasiyono dikonfirmasi rri Senin 14 September 2026.
Saat itu, masyarakat membangun jalan setapak secara bertahap. Jalan menuju kawasan gua kemudian diperkuat menggunakan dana desa hingga akhirnya pada 2022 Gua Tapak Raja mulai dibuka sebagai kawasan wisata.
Pengembangan tersebut kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai sektor swasta, pemerintah daerah hingga kementerian. Dukungan itu membuat kawasan wisata perlahan memiliki fasilitas yang sebelumnya belum tersedia.
“Alhamdulillah ada beberapa sarana-prasarana yang sudah kita siapkan mulai dari tempat parkir, ada pujasera, Kafe Tapak Raja, susur goa, wahana flying fox,” ujar Kasiyono.
Saat ini, kawasan yang telah digarap mencapai sekitar lima hektare. Konsep yang dikembangkan bukan hanya wisata untuk melihat gua, tetapi wisata berbasis alam, lingkungan, dan edukasi.
Selain itu daya tarik utama Gua Tapak Raja berada pada bentang alamnya. Formasi batuan, stalaktit, vegetasi hutan, serta keberadaan kelelawar menjadikan kawasan tersebut memiliki potensi sebagai wisata edukasi lingkungan.
Kasiyono menyebut terdapat sekitar 10 jenis kelelawar yang menghuni kawasan gua. Dua jenis merupakan pemakan serangga, sedangkan delapan lainnya merupakan pemakan buah.
Vegetasi di kawasan tersebut juga memiliki karakter tersendiri. Menurut Kasiyono, kawasan hutan Gua Tapak Raja didominasi pohon ficus, selain berbagai tumbuhan dan fauna lainnya.
Data Kementerian Pariwisata melalui Jadesta juga mencatat Gua Tapak Raja sebagai atraksi wisata Desa Wisata Wono Sari. Desa wisata tersebut masuk 500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 dan saat ini berstatus desa wisata berkembang.
Di dalam profil Jadesta, Gua Tapak Raja disebut memiliki stalaktit dan stalagmit serta suasana alam yang masih terjaga. Desa wisata ini juga memiliki sejumlah fasilitas seperti area parkir, kafetaria, jalur jungle tracking, kamar mandi, kios suvenir, tempat makan, outbound, dan tempat ibadah.
Sejarah Gua Tapak Raja juga menjadi bagian dari daya tariknya. Gua tersebut dikenal masyarakat dengan nama Gua Bea dan memiliki cerita yang berkaitan dengan tokoh adat serta praktik pertapaan masyarakat pada masa lalu. Di salah satu lorong gua juga terdapat bentuk yang diyakini menyerupai jejak kaki manusia.
Artinya, Gua Tapak Raja memiliki tiga lapisan daya tarik sekaligus, yakni alam, edukasi lingkungan, dan cerita sejarah masyarakat setempat.
Letak Gua Tapak Raja menjadi semakin penting setelah Sepaku menjadi kawasan IKN. Desa Wonosari berada sekitar 30 kilometer dari kawasan IKN berdasarkan keterangan Kasiyono.
Jarak tersebut membuat Wonosari berada dalam jalur yang berpotensi menangkap pergerakan wisatawan yang datang ke Nusantara.
Kasiyono merasakan perubahan itu setelah pembangunan IKN berkembang. Menurutnya, sebagian orang yang datang ke IKN kemudian melanjutkan perjalanan ke Gua Tapak Raja dan kawasan Desa Wonosari.
“Dengan adanya Ibu Kota Nusantara memang sangat berdampak. Banyak pengunjung yang datang ke IKN itu sebagian mampir ke Gua Tapak Raja atau di desa kami, desa wisata kami,” ucapnya.
Kondisi tersebut bukan sekadar asumsi. OIKN sendiri menempatkan Gua Tapak Raja sebagai salah satu destinasi wisata yang dapat dikunjungi masyarakat di kawasan IKN, bersama Gunung Parung, Sungai Hitam Bekantan, Mangrove Mentawir, dan Bukit Bangkirai.
Bahkan, pada Maret 2026 OIKN mencatat lebih dari 352 ribu orang mengunjungi KIPP Nusantara selama periode 18–29 Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya arus masyarakat yang datang ke Nusantara, meskipun angka tersebut merupakan kunjungan ke KIPP dan bukan jumlah wisatawan Gua Tapak Raja.
Di sinilah peluang bagi desa-desa di sekitar IKN menjadi penting. Pengunjung yang datang ke KIPP tidak harus berhenti di kawasan inti. Jika tersedia informasi, akses, produk wisata, pemandu, kuliner, dan suvenir yang menarik, sebagian pergerakan tersebut dapat diperpanjang menuju destinasi di sekitar Nusantara.
Besarnya potensi pasar tidak otomatis membuat kunjungan selalu meningkat.
Kasiyono mengungkapkan, jumlah pengunjung Gua Tapak Raja pada 2026 mulai mengalami penurunan dibandingkan periode 2023 hingga 2025.
“Walaupun di akhir-akhir ini sudah mulai berkurang, mungkin karena kondisi keuangan yang kurang baik,” ujarnya.
Keterangan tersebut penting karena menunjukkan tantangan destinasi wisata di sekitar IKN tidak hanya soal membangun fasilitas.
Gua Tapak Raja membutuhkan strategi agar wisatawan memiliki alasan untuk datang, tinggal lebih lama, membeli produk lokal, menggunakan jasa pemandu, menikmati kuliner, dan kembali berkunjung.
Dengan kata lain, arus orang ke IKN belum otomatis menjadi arus ekonomi ke desa sekitar IKN.
Rantai ekonominya harus dibangun.
Penguatan rantai tersebut mulai dilakukan OIKN melalui peningkatan kapasitas masyarakat.
Natasha Debora dari Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif OIKN mengatakan, pihaknya tidak hanya mendokumentasikan destinasi wisata di sekitar IKN.
“Kami juga sudah melaksanakan sertifikasi pemandu ekowisata. Kami mengajak teman-teman Pokdarwis dari sekitar sini, ada yang dari Gunung Parung, kemudian ada teman-teman warga Sepaku,” kata Natasha.
Peserta mendapatkan pelatihan selama beberapa hari dan kemudian mengikuti proses sertifikasi melalui lembaga yang terakreditasi.
“Selain mengembangkan fasilitas daya tarik wisatanya, kami juga mengembangkan sumber daya manusianya,” ujarnya.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan destinasi wisata tidak berhenti pada infrastruktur fisik.
Pemandu menjadi bagian penting karena wisata alam seperti Gua Tapak Raja membutuhkan orang yang mampu menjelaskan sejarah, lingkungan, jalur perjalanan, hingga menjaga keselamatan wisatawan.
Program peningkatan kapasitas tersebut juga bukan hal baru. Pada Oktober 2024, OIKN bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Universitas Terbuka, dan Pemerintah Desa Wonosari melatih 25 pemuda dari berbagai desa di kawasan IKN sebagai pemandu ekowisata. Para peserta dipersiapkan untuk mendampingi wisatawan, termasuk ke Gua Tapak Raja.
Pengembangan ekosistem wisata kemudian diperluas ke sektor ekonomi kreatif.
Natasha mengatakan OIKN menjalankan pelatihan bagi pelaku usaha kreatif melalui program Kumpul dan Mapan.
Kumpul lebih diarahkan pada pengembangan pemasaran digital, branding, serta desain kemasan produk. Sementara Mapan berfokus pada pencatatan keuangan dan operasional bisnis.
“Jadi, kita mengembangkan skill bisnis dari pelaku usaha kreatif yang ada di sekitar IKN,” kata Natasha.
Masing-masing program telah melibatkan sekitar 30 UMKM. Pendampingan juga tidak berhenti pada pelatihan karena OIKN membantu menghubungkan pelaku usaha dengan instansi terkait untuk pendaftaran HAKI.
Bagi desa wisata, aspek ini penting.
Wisatawan yang datang ke Gua Tapak Raja bukan hanya membutuhkan atraksi. Mereka juga membutuhkan makanan, minuman, suvenir, transportasi lokal, pemandu, tempat istirahat, hingga produk khas yang dapat dibawa pulang.
Semakin banyak kebutuhan wisatawan yang dipenuhi masyarakat lokal, semakin besar pula peluang uang yang dibelanjakan wisatawan berputar di desa.
Ekonomi kreatif di sekitar IKN juga diarahkan untuk membangun identitas produk.
OIKN bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Tepa Selira untuk mengembangkan motif batik yang dapat menjadi ciri khas IKN.
Menurut Natasha, para pengrajin dikumpulkan untuk menggali gagasan mengenai motif yang dapat merepresentasikan IKN. Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar dan dikembangkan secara digital.
Pengembangan tersebut akan dilanjutkan melalui pelatihan teknik membatik.
Di sekitar delineasi IKN, terdapat sejumlah produk wastra yang juga menjadi perhatian, termasuk Batik Semoy dan ecoprint.
Dengan demikian, pengembangan wisata tidak berhenti pada objek alam seperti gua. Wisatawan nantinya dapat diarahkan untuk mengenal produk budaya dan kerajinan masyarakat sekitar.
OIKN juga mengembangkan aspek kebudayaan melalui pelatihan bagi pengajar tari di sekolah-sekolah sekitar delineasi IKN.
Natasha mengatakan, salah satu hasilnya adalah tari kreasi Harmoni Nusantara yang diajarkan kepada siswa. Para peserta pelatihan kemudian dilibatkan dalam kegiatan peringatan 17 Agustus.
Langkah ini memperlihatkan bahwa ekosistem wisata IKN mulai dibangun dengan pendekatan yang lebih luas.
Wisatawan tidak hanya diajak melihat gedung pemerintahan atau ruang publik di KIPP, tetapi juga diperkenalkan dengan kehidupan masyarakat, kesenian, kerajinan, kuliner, dan bentang alam di sekitarnya.
OIKN sendiri menyebut pengembangan pariwisata berbasis komunitas diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga lingkungan dan budaya lokal.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana wisatawan mengetahui keberadaan destinasi tersebut.
Natasha mengatakan OIKN tengah mendokumentasikan berbagai daya tarik wisata di sekitar IKN untuk dimasukkan ke dalam fitur pariwisata aplikasi IKNOW.
“Jadi nanti ketika mengunjungi IKN, teman-teman juga bisa melihat ada daya tarik wisata apa saja selain IKN,” katanya.
Menurut dia, fitur pariwisata tersebut juga akan menyediakan informasi mengenai paket wisata yang dapat dilakukan ketika masyarakat berkunjung ke IKN.
Pengembangan tersebut sejalan dengan data resmi OIKN. Portal Satu Data OIKN kini telah menyediakan dataset mengenai destinasi wisata di IKN, termasuk titik koordinat, jarak, dan waktu tempuh. Portal yang sama juga memiliki dataset akumulasi pengunjung IKN 2025/2026.
Artinya, pengembangan pariwisata IKN mulai diarahkan bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui data dan sistem informasi.
Dari sisi destinasi, Gua Tapak Raja sebenarnya sudah memiliki sejumlah modal.
Jadesta mencatat keberadaan fasilitas seperti kafetaria, jungle tracking, area parkir, kios suvenir, outbound, tempat makan, serta sejumlah atraksi lain di Desa Wisata Wono Sari. Desa ini juga telah masuk 500 Besar ADWI 2024.
Pada 2024, Pemerintah Desa melaporkan pendapatan Gua Tapak Raja telah mencapai sekitar Rp120 juta hingga April tahun tersebut. Saat itu, pengelola juga menyebut tiket masuk Rp10 ribu per orang dan adanya produk makanan, minuman, serta aksesori yang dijual UMKM masyarakat setempat.
Data tersebut menunjukkan bahwa destinasi wisata sudah menghasilkan aktivitas ekonomi. Tantangannya sekarang adalah mempertahankan dan memperluas manfaat tersebut ketika pola kunjungan wisata berubah.
Pengalaman Gua Tapak Raja juga memberikan pelajaran bagi pengembangan pariwisata di sekitar IKN.
OIKN sebelumnya mengembangkan Authentic Hiking Gunung Parung sebagai ekowisata berbasis masyarakat. Program itu tidak hanya menawarkan pengalaman alam dan budaya, tetapi juga meningkatkan kapasitas SDM lokal, menciptakan peluang ekonomi, dan memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan destinasi.
Pola tersebut relevan untuk Wonosari.
Gua Tapak Raja tidak cukup hanya dikenal sebagai gua yang indah. Pengunjung perlu mendapatkan pengalaman yang lengkap, mulai dari informasi sejarah, pemandu, susur gua, edukasi kelelawar dan ekosistem, kuliner lokal, hingga produk UMKM.
Dengan begitu, perjalanan wisatawan tidak selesai ketika keluar dari gua.
Ada transaksi ekonomi yang tertinggal di desa.
Di balik peluang ekonomi tersebut terdapat tanggung jawab yang tidak kalah penting, yaitu menjaga kawasan.
OIKN pada 2024 pernah menyebut kebutuhan pengembangan infrastruktur Gua Tapak Raja, termasuk listrik dan air. OIKN juga melihat potensi kawasan bekas tambang di sekitar destinasi untuk mendukung pengembangan ekowisata.
Kawasan Wonosari bahkan telah dikembangkan dengan pendekatan ekowisata yang mencakup wisata alam, seni budaya, pertanian dan perkebunan, olahraga lintas alam, serta kuliner. Pengembangan lahan bekas tambang juga diarahkan menjadi bagian dari ruang ekowisata.
Karena itu, peningkatan jumlah wisatawan harus diikuti kemampuan pengelola menjaga daya dukung lingkungan.
Gua, kelelawar, vegetasi, sumber air, jalur hutan, dan kawasan sekitar bukan sekadar latar untuk foto. Semuanya merupakan aset utama yang membuat wisata tersebut memiliki nilai.
Kasiyono sejak awal melihat keberadaan IKN sebagai peluang bagi Wonosari untuk berkembang sebagai desa wisata.
Dalam pemberitaan ANTARA pada 2023, ia menyebut masyarakat perlu memiliki kesadaran wisata karena aktivitas sehari-hari seperti pertanian dan perkebunan juga dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi. (ANTARA News)
Gagasan itu kini mendapat konteks baru.
Nusantara bukan hanya membangun kawasan pemerintahan. Pemerintah juga sedang membentuk ekosistem kota yang membutuhkan ruang rekreasi, budaya, ekonomi kreatif, UMKM, dan destinasi alam.
Bagi Wonosari, posisi tersebut merupakan peluang sekaligus pekerjaan besar.
Peluangnya adalah arus masyarakat menuju IKN dapat menjadi pasar baru.
Pekerjaannya adalah memastikan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan kota baru tersebut.
Kasiyono berharap Gua Tapak Raja dapat terus berkembang sebagai wisata alam dan edukasi. Sementara OIKN mulai menyiapkan sisi lainnya melalui penguatan pemandu, budaya, UMKM, produk kreatif, serta digitalisasi informasi wisata.
Jika seluruh bagian itu berjalan bersama, Gua Tapak Raja tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi karena lokasinya dekat dengan IKN.
Destinasi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal masyarakat di sekitar Nusantara sekaligus ruang tempat manfaat ekonomi pembangunan IKN dirasakan langsung oleh desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....