Kolaborasinergi Pentahelix, Strategi Baru Bontang Hadapi Keterbatasan Anggaran

  • 08 Apr 2026 14:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terjadi di berbagai daerah, termasuk Kota Bontang, menjadi tantangan sekaligus momentum untuk melakukan transformasi arah pembangunan. Kondisi ini mendorong berbagai pihak untuk mencari strategi baru yang lebih adaptif dan berkelanjutan dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Menanggapi hal tersebut, DPC Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Kota Bontang mengusulkan pergeseran fokus pembangunan ke sektor ekonomi kreatif (ekraf). Langkah ini dinilai sebagai solusi strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Ketua MASATA Kota Bontang, Eko Satrya, menilai bahwa kondisi penurunan APBD seharusnya tidak dilihat sebagai hambatan semata. Sebaliknya, situasi ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat inovasi dan kreativitas dalam pembangunan ekonomi lokal.

Menurutnya, program pemerintah daerah perlu diarahkan pada kegiatan yang memiliki dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. “Sisi positif dari menurunnya APBD adalah memaksa kita untuk memprioritaskan program pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Caranya adalah dengan memaksimalkan potensi ekonomi kreatif yang kita miliki,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

MASATA juga mengidentifikasi sebanyak 17 subsektor ekonomi kreatif yang berpotensi dikembangkan di Kota Bontang. Sektor tersebut mencakup bidang kuliner dan fesyen yang telah berkembang, hingga sektor berbasis digital seperti animasi, film, fotografi, serta pengembangan permainan yang memiliki peluang besar di masa depan.

Selain itu, subsektor desain dan arsitektur seperti desain interior, desain produk, hingga Desain Komunikasi Visual (DKV) juga dinilai memiliki potensi besar. Tidak kalah penting, sektor seni dan budaya seperti musik, seni pertunjukan, serta kriya turut menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif yang bisa dioptimalkan.

Untuk mengembangkan seluruh potensi tersebut, MASATA mendorong penerapan strategi “kolaborasinergi” melalui pendekatan pentahelix. Konsep ini menekankan kerja sama antara lima pilar utama, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media yang harus bergerak secara sinergis.

Eko Satrya menegaskan bahwa keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. “Kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru yang inovatif dan berkelanjutan di Kota Bontang,” ucapnya.

Dengan pendekatan tersebut, penurunan anggaran tidak lagi menjadi penghambat pembangunan. Sebaliknya, kondisi ini diharapkan mampu melahirkan peluang baru, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, hingga penguatan struktur ekonomi daerah agar lebih mandiri dan berdaya saing di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....