Menyibak Potensi Objek Destinasi Tujuan Wisata Kota Bontang

  • 03 Nov 2025 19:11 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Kota Bontang di Kalimantan Timur tak hanya dikenal sebagai kota industri migas dan pupuk, tetapi juga menyimpan pesona wisata yang kian memikat. Dari panorama bahari hingga wisata edukasi berbasis industri, Bontang tengah bertransformasi menjadi destinasi yang menawarkan harmoni antara alam, budaya, dan inovasi. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas sadar wisata, potensi Objek Destinasi Tujuan Wisata (ODTW) Bontang kini mulai menyibak wajah baru kota energi yang siap bersaing di panggung pariwisata nasional.

Melalui pogram ‘Jelajah Negeri’ Pro 1 RRI Samarinda edisi Minggu (2/11/2025, hal ini menjadi topik pembahasan bersama narasumber, Bela Indi Sulistio, Wakil Ketua Bidang Advokasi, Humas dan Publikasi BPD PHRI Kaltim sekaligus Ketua Harian BPC PHRI Bontang, serta Eko Satrya, Ketua DPC Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Bontang, yang menyoroti bagaimana Bontang bertransformasi dari kota industri menuju kota wisata berkarakter edukatif. Kedua narasumber sepakat bahwa potensi Bontang bukan sekadar ada, tetapi sudah saatnya dikelola secara terarah dan berkelanjutan.

Menurut Bela Indi Sulistio, potensi wisata Bontang dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: alam, budaya, dan buatan. Dari sisi alam, kota ini diberkahi laut, hutan mangrove, serta tiga sungai yang bisa dikembangkan menjadi wisata petualangan. Dari sisi budaya, Bontang memiliki warisan berharga seperti kampung adat Guntung, kampung budaya Bontang Kuala, hingga ikan bawis yang telah memperoleh sertifikat HAKI dan menjadi ikon kuliner bahari. Sedangkan wisata buatan mencakup mice tourism, sport tourism, serta kawasan rekreasi terpadu seperti Lemper (Lebah Permai) yang berpotensi menjadi daya tarik keluarga.

PHRI, lanjut Bela, turut berperan dalam mendukung pariwisata Bontang melalui peningkatan hospitality di sektor hotel dan restoran. Walau saat ini fasilitas perhotelan Bontang masih di bawah Balikpapan dan Samarinda, upaya mengundang investor hotel berbintang terus dilakukan pemerintah. “Tingkat okupansi hotel sempat fluktuatif di awal tahun, namun tren wisata yang meningkat menunjukkan geliat positif bagi sektor jasa dan akomodasi daerah,” Ucap Bela Indi Sulistio.

Sementara itu, dari perspektif Masata, Eko Satrya menegaskan bahwa pengembangan pariwisata Bontang harus berbasis masyarakat. Ia memperkenalkan strategi “3E” yaitu: Eksplorasi, Ekspos, dan Ekshibisi. Eksplorasi dilakukan untuk menggali potensi wisata yang belum tergarap, ekspos untuk mempromosikan dan membangun kesadaran publik, serta ekshibisi untuk menghadirkan atraksi nyata di lapangan. “Tanpa atraksi, destinasi tidak akan memiliki nilai jual,” ujarnya.

Bontang, lanjut Eko Satrya, memiliki daya tarik kuat di wisata bahari. Aktivitas seperti snorkeling, diving, dan kunjungan ke pulau-pulau eksotis seperti Pulau Beras Basah dan Pulau Segajah menjadi magnet wisatawan. Di sisi lain, keberadaan masyarakat pesisir dengan kampung di atas laut menghadirkan pesona sosial budaya yang unik. Tak kalah penting, Bontang juga menjadi miniatur Indonesia, tempat berbaurnya berbagai suku dari Aceh hingga Papua dalam harmoni multikultural.

Dalam konteks Bontang Pasca Migas, Masata mengambil peran penting mendorong lahirnya wisata industri berbasis edukasi dan pengembangan SDM. Menurut Eko, sektor industri tidak boleh meninggalkan masyarakat begitu saja, melainkan harus mewariskan transfer knowledge agar tercipta dampak berkelanjutan di bidang sosial dan ekonomi. Wisata industri seperti kunjungan edukatif ke kawasan Pupuk Kaltim dan Badak LNG menjadi salah satu wujudnya.

Senada dengan itu, Bela Indi kembali menekankan bahwa keberhasilan pariwisata tak hanya ditentukan oleh daya tarik, tetapi juga aksesibilitas dan infrastruktur. Ia menjelaskan, kemudahan menuju lokasi wisata, keamanan, hingga fasilitas publik seperti musala atau sarana kebersihan, menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsep Sapta Pesona: aman, tertib, bersih, indah, ramah, sejuk, dan kenangan. Pemerintah kini terus berupaya menata kawasan wisata seperti Bontang Kuala dan Pulau Beras Basah, termasuk pemberdayaan UMKM lokal agar ekonomi masyarakat ikut tumbuh.

Perbincangan di program Jelajah Negeri ini menyimpulkan bahwa Bontang kini tengah berdiri di persimpangan penting, antara identitas lama sebagai kota industri dan wajah baru sebagai kota wisata berdaya saing global. Dengan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, Bontang bukan hanya mampu menatap masa depan tanpa migas, tetapi juga menyiapkan diri menjadi ikon wisata edukatif Kalimantan Timur.

Melalui semangat “Salam Pariwisata, Sapta Pesona”, RRI Pro 1 Samarinda menghadirkan dialog ini bukan sekadar untuk memperkenalkan potensi daerah, tetapi juga sebagai inspirasi bagi seluruh pendengar dan masyarakat Indonesia bahwa keindahan dan kemajuan negeri berawal dari kesadaran bersama untuk menjaga dan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....