Tradisi Babako di Minangkabau

  • 20 Jun 2025 21:35 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Dalam program Pesona Antar Komunitas Minang yang disiarkan RRI Pro 4 Samarinda, dengan pengisi acara Uda Men, Uni Aziar, dan Uni Yet berbagi wawasan mendalam tentang tradisi Babako yaitu sebuah warisan budaya Minangkabau yang sarat makna dalam prosesi pernikahan.

Tradisi ini, yang juga dikenal sebagai Babaki oleh masyarakat di kampung-kampung Minang, masih dilestarikan hingga kini. “Babako berasal dari kata “bako” yang merujuk pada keluarga dari pihak ayah”, sebut Uda Men.

Uda Men menjelaskan dalam struktur adat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, posisi bako memiliki peran khusus dan penting, terutama dalam pernikahan.

Babako adalah prosesi di mana keluarga bako dari mempelai wanita baik saudara kandung ayah laki-laki maupun perempuan membawa hantaran simbolis ke rumah calon pengantin.

“Biasanya yang dibawa itu seperti beras kuning, daun sirih, pakaian adat, perhiasan, makanan tradisional seperti ayam singgang”, sebut Uni Aziar.

Tradisi ini tidak hanya menandakan dukungan keluarga ayah terhadap pernikahan, tetapi juga merupakan ikrar emosional dan bentuk kasih sayang yang nyata kepada mempelai wanita, atau yang mereka sebut sebagai anak bako. Sebaliknya, anak dari garis keluarga istri ayah disebut sebagai anak pisang atau anak pusako.

Uda Men menjelaskan prosesi Babako biasanya dimulai dengan arak-arakan keluarga bako menuju rumah mempelai, membawa hantaran sambil diiringi oleh rebana atau nyanyian adat khas Minang. Sesampainya di rumah mempelai, dilakukan upacara siraman beras kuning, sebagai lambang penyucian dan harapan baik bagi rumah tangga baru.

“Habis tuh biasanya dilanjutkan dengan penyampaian petuah dari orang tua dan tetua adat seperti nasihat-nasihat moral, spiritual, dan sosial sebagai bekal dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan sakinah”, tambah Uni Yet.

Tradisi Babako menyimpan berbagai nilai penting pertama perwujudan kasih sayang yang menunjukkan bahwa keluarga ayah tidak lepas tangan dalam urusan rumah tangga anak. Kemudian pengukuhan silaturahmi yaitu mempererat hubungan antar keluarga besar. “Dan terakhir pelestarian adat untuk mempertahankan identitas Minangkabau yang kaya nilai gotong royong dan saling menghormati”, sebut Uda Men.

Uda Men mengatakan meski zaman telah berubah, Babako masih dipraktikkan di berbagai wilayah di Sumatera Barat, termasuk dalam versi yang lebih sederhana. Keluarga Minang tetap menjaga nilai dan makna Babako sebagai simbol identitas budaya yang hidup dan fleksibel dalam mengikuti perkembangan zaman.

Tradisi Babako adalah refleksi mendalam dari nilai-nilai budaya Minangkabau mulai dari cinta keluarga, penghargaan terhadap leluhur, hingga penguatan ikatan sosial. Dalam prosesi ini, keluarga ayah hadir bukan sekadar memberi, tetapi juga menjadi bagian dari doa dan harapan untuk kehidupan baru yang akan dijalani mempelai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....