EBIFF 2025 Dorong Ekraf Lewat Kolaborasi Budaya Dunia
- 11 Jun 2025 15:37 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Provinsi Kalimantan Timur kembali bersiap menggelar East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025. Festival budaya tahunan ini akan digelar selama enam hari, 24–29 Juli 2025, dengan mengusung tema "Symphony of The World in East Borneo", sebagai wujud perayaan harmoni budaya global sekaligus penguatan sektor ekonomi kreatif daerah.
Festival ini melibatkan partisipasi internasional dari enam negara Indonesia, India, Korea Selatan, Romania, Rusia, dan Polandia serta kontribusi nasional dari tujuh provinsi, termasuk Bengkulu, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Sementara itu, 10 kabupaten/kota se-Kalimantan Timur juga dipastikan ambil bagian dalam berbagai rangkaian kegiatan.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, A. Khalik, menjelaskan bahwa EBIFF bukan sekadar ajang pertunjukan seni budaya, melainkan momentum penting untuk mendongkrak sektor ekonomi kreatif lokal, khususnya UMKM.
“Kita dampingi terus para pelaku UKM, terutama yang memproduksi makanan khas seperti ilat sapi, keminting, hingga amplang. Kita dorong mereka berinovasi dari sisi varian rasa dan kemasan,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Rabu (11/6/2025).
EBIFF 2025 akan digelar di berbagai titik strategis seperti Halaman Kantor Gubernur, Stadion Gelora Kadrie Oening, Temindung Creative Hub, sekolah-sekolah, dan lokasi wisata seperti Ibu Kota Nusantara serta Pantai Watu Balikpapan.
Lokasi tersebut bukan hanya menghadirkan kirab budaya dan pentas seni, tapi juga menjadi ruang pameran produk ekonomi kreatif, perlombaan, dan edukasi lintas budaya.
Dua hari pameran UMKM unggulan akan digelar pada 27–28 Juli di Halaman Parkir Gelora Kadrie Oening dan Temindung Creative Hub.
Produk lokal seperti teh herbal khas Kaltim, jajanan olahan ikan, hingga suvenir tradisional akan dipamerkan dengan target kunjungan mencapai 10.200 orang. Produk khas daerah bahkan akan dijadikan isian goodie bag tamu internasional, yang tahun lalu berhasil menarik pesanan dari Korea dan Jepang.
“Efek ekonominya terasa. Kami dorong pelaku UMKM untuk menyertakan nomor kontak di kemasan, karena banyak pesanan datang setelah acara. Ini jadi bukti nyata bahwa festival budaya bisa jadi lokomotif pertumbuhan ekonomi rakyat,” kata A. Khalik.
Dukungan juga datang dari sektor transportasi dan akomodasi. Perputaran ekonomi selama EBIFF diproyeksikan meningkat, seiring dengan tingginya mobilitas wisatawan dan peserta yang hadir dari berbagai penjuru dunia. Sinergi antarlembaga, termasuk fasilitasi konferensi pers oleh Diskominfo Kaltim, dinilai penting untuk mendorong publikasi dan antusiasme masyarakat.
EBIFF 2025 diharapkan menjadi ajang yang tidak hanya menguatkan identitas budaya, tetapi juga meneguhkan posisi Kalimantan Timur sebagai pusat ekonomi kreatif yang tangguh dan inklusif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....