FPPL dan Bank Sampah Unmul Edukasi Pengelolaan Sampah

  • 09 Feb 2026 17:25 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Persoalan sampah dan lingkungan saat ini menjadi perhatian serius pemerintah di berbagai daerah termasuk di Kota Samarinda, karena kaitannya dengan risiko bencana seperti banjir. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program Kentongan Pro 1 RRI Samarinda pada Selasa, 3 Februari 2026. Dialog ini menghadirkan Ketua Forum Pemuda Peduli Lingkungan (FPPL) Kecamatan Sungai Pinang, Nurdin, serta Direktur Bank Sampah Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda, Ananda Bayu Saputra.

Dalam pembahasan tersebut Ketua FPPL Kecamatan Sungai Pinang, Nurdin menegaskan bahwa persoalan banjir di perkotaan tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sampah dan perubahan perilaku masyarakat. Rendahnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan masih menjadi tantangan bersama, sehingga dibutuhkan peran berbagai pihak, termasuk komunitas pemuda dan lembaga pendidikan.

Nurdin menjelaskan, Forum Pemuda Peduli Lingkungan di Sungai Pinang ini terbentuk berawal dari diskusi sederhana para relawan yang memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan di Samarinda. Dari obrolan tersebut lahir gagasan membentuk forum yang mampu menggerakkan masyarakat dan pemuda agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan pencegahan bencana.

Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah masih rendahnya rasa memiliki terhadap lingkungan. “Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan ini masih sangat rendah. Karena itu kami terus berupaya mempengaruhi generasi muda dan masyarakat agar lebih peduli, sebab lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Nurdin dalam dialog tersebut.

FPPL sendiri telah melakukan berbagai kegiatan, antara lain bermitra dengan Balai Wilayah Sungai untuk pembersihan dan perawatan sungai, bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dalam kegiatan pencegahan dan pascabanjir, serta terlibat dalam program penanaman dan edukasi lingkungan bersama Dinas Lingkungan Hidup. Upaya tersebut menunjukkan bahwa peran komunitas pemuda cukup strategis dalam membangun kesadaran masyarakat.

Sementara itu, Ananda Bayu Saputra memaparkan bahwa Bank Sampah Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman berdiri sejak 2023 dan diresmikan pada 2024 ini, tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga sebagai pusat edukasi tentang pemilahan sampah dari sumbernya. Hingga 2026, jumlah nasabah yang terlibat telah mencapai lebih dari 300 orang.

Bayu menegaskan, edukasi menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah. “Trend sampah tidak akan pernah hilang karena setiap hari kita menghasilkan sampah. Karena itu pengelolaan harus dimulai dari sumbernya, dan edukasi menjadi hal yang paling penting,” ucapnya.

Kegiatan bank sampah tersebut tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum melalui program sosialisasi di lingkungan RT, sekolah, hingga kerja sama dengan berbagai komunitas dan mitra. Bahkan, sejumlah program inovatif seperti penukaran sampah bernilai dengan tabungan atau emas mulai diperkenalkan sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat.

Dalam dialog itu juga mengemuka pentingnya kolaborasi antara komunitas, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha. Tantangan seperti keterbatasan fasilitas pengangkutan sampah dan belum optimalnya sistem pengelolaan di tingkat unit masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Melalui dialog Kentongan RRI Samarinda ini, para narasumber sepakat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari mitigasi bencana. Kesadaran masyarakat, peran pemuda, dan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan aman dari risiko bencana di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....