Mengenal Fenomena Cinta Monyet dan Pentingnya Peran Keluarga
- 05 Feb 2026 10:38 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Fenomena cinta monyet atau puppy love kerap dialami oleh remaja sebagai bagian dari proses pendewasaan. Perasaan cinta yang muncul biasanya terasa sangat intens, dipenuhi kekaguman dan emosi menggebu-gebu. Meski terlihat serius bagi pelakunya, hubungan semacam ini umumnya bersifat sementara. Ciri-cirinya antara lain rasa berdebar, mudah cemburu, dan terus memikirkan seseorang hingga berlebihan.
Cinta monyet sering didasari oleh obsesi dan harapan yang tidak realistis. Remaja cenderung membangun gambaran ideal tentang hubungan, tanpa memahami secara penuh dinamika yang sebenarnya. Meski begitu, fenomena ini tetap merupakan bagian alami dari tumbuh kembang anak, terutama ketika mereka mulai merasakan ketertarikan emosional dan fisik.
Dalam proses memahami cinta, Psikolog asal Samarinda Ridha Wahyuni menekankan pentingnya “tangki cinta” atau love tank, yaitu kapasitas emosional seseorang untuk menerima dan memberi kasih sayang. “Semakin tangki cinta itu penuh, maka semakin baik juga kepercayaan diri seorang anak, baik laki-laki ataupun perempuan,” ujarnya. Ketika seorang anak merasa dicintai dan aman dalam lingkungannya, mereka akan lebih mampu membangun hubungan yang sehat di masa depan.
Peran orang tua dan keluarga pun menjadi faktor kunci dalam pembentukan pandangan anak tentang cinta dan hubungan. Ridha menyebut bahwa hubungan harmonis antara orang tua merupakan “warisan terbaik” untuk anak. Keharmonisan itu memberi contoh nyata bagaimana komunikasi, kasih sayang, dan penyelesaian konflik yang sehat terjadi dalam keluarga. “Makanya jangan pernah salah memilih pasangan,” ucapnya, dikutip pada Kamis, 5 Februari 2026.
Ridha juga menambahkan, keluarga adalah satu-satunya ruang yang dapat dipilih oleh seseorang dalam hidupnya. “Kita tidak pernah bisa memilih lahir dari siapa dan melahirkan siapa. Satu-satunya keluarga yang bisa kita pilih adalah dimulai dari memilih pasangan. Jadi pastikan untuk memiliki pasangan yang baik,” katanya. Pemilihan pasangan yang tepat akan memengaruhi kualitas kehidupan keluarga yang dibangun di masa depan.
Contoh yang diberikan orang tua menjadi model utama bagi anak dalam memahami cinta. Anak cenderung meniru cara orang tuanya berkomunikasi, memperlihatkan kasih sayang, hingga menghadapi konflik. Proses meniru ini akan terbawa hingga mereka dewasa dan membangun rumah tangganya sendiri. Karena itu, kehadiran teladan yang baik dalam keluarga sangat penting bagi keberlangsungan generasi berikutnya.
Melalui pemahaman tentang cinta monyet dan pola hubungan keluarga, remaja dapat tumbuh dengan lebih siap dalam menjalani hubungan dewasa. Sementara bagi orang tua, memberikan lingkungan yang aman, harmonis, dan penuh kasih sayang menjadi investasi jangka panjang yang akan membentuk karakter dan kemampuan anak dalam membangun hubungan yang sehat di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....