Belajar Mengelola Konflik Dalam Hubungan
- 05 Feb 2026 10:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Banyak anak muda beranggapan bahwa jika saat sendiri sudah merasa bahagia, maka hubungan percintaan seperti pacaran harus menghadirkan kebahagiaan yang lebih besar. Namun kenyataannya, dinamika hubungan tidak selalu berjalan seindah harapan. Psikolog asal Samarinda Ridha Wahyuni membagikan pengalaman pribadinya sebelum dan setelah menikah, yang menunjukkan, hubungan justru sering kali menjadi ruang belajar baru bagi kedua pasangan.
Menurut Ridha, ekspektasi hubungan harus selalu membawa perasaan senang dapat membuat anak muda lupa bahwa konflik adalah bagian alami dari interaksi manusia. Saat menjalani hubungan, gesekan dan ketidaksepahaman adalah hal yang wajar terjadi. Justru, ia menekankan bahwa konflik tertentu dapat memberi ruang bagi pasangan untuk berkembang. “Konflik dalam kehidupan sosial diperlukan karena dengan konflik kita jadi lebih tahu cara seseorang menyelesaikan permasalahannya seperti apa,” ujarnya dikutip RRI pada Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, konflik tidak selamanya menandakan hubungan yang tidak sehat. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan mengelola situasi tersebut. Dalam kehidupan berpasangan, ketidaksempurnaan dan perbedaan pandangan merupakan bagian dari perjalanan yang harus dipahami bersama. Hubungan yang baik bukan yang bebas konflik, melainkan yang mampu mengelola konflik dengan bijak.
Ridha menegaskan, setiap pasangan memiliki cara atau “resep” masing-masing dalam menyelesaikan masalah. Tidak ada satu metode yang berlaku untuk semua hubungan, karena karakter, pengalaman, dan pola komunikasi setiap pasangan berbeda. “Masing-masing pasangan punya resep atau dapurnya sendiri. Misal saya dengan suami mencoba untuk menarik diri dulu. Kalau ada api kan tidak mengguyur dengan api juga, tapi kita mencoba menarik diri untuk meredam, lalu ketika sudah sama-sama kepala dingin baru kita ngobrol,” ucapnya.
Pendekatan menarik diri sejenak, menurut Ridha, dapat membantu pasangan menghindari keputusan impulsif atau kata-kata yang melukai perasaan. Memberi ruang untuk menenangkan diri memungkinkan kedua pihak berpikir lebih jernih sebelum kembali berdiskusi. Setelah emosi mereda, pembicaraan dapat dilakukan dengan lebih terarah dan saling memahami.
Selain itu, ia menilai, kemampuan mengenali “bahasa penyelesaian konflik” adalah kunci penting. Setiap pasangan perlu memahami ritme dan pola komunikasi satu sama lain, sehingga cara menyampaikan perasaan dapat diterima dengan baik. Hal ini juga membantu mencegah konflik berulang akibat miskomunikasi.
Dengan memahami bahwa konflik adalah bagian dari proses, anak muda dapat membangun hubungan yang lebih realistis dan dewasa. Alih-alih menghindari konflik atau menuntut hubungan yang selalu mulus, kesiapan untuk berdialog dan mencari titik temu justru menjadi fondasi keberlanjutan hubungan. Melalui manajemen konflik yang sehat, pasangan dapat tumbuh bersama dan memperkuat komitmen mereka di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....