Pentingnya Literasi Cinta di Era Media Sosial

  • 05 Feb 2026 08:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, media sosial kini menjadi salah satu ruang belajar terbesar bagi anak muda, termasuk dalam memahami dunia percintaan. Informasi yang beredar di berbagai platform dapat dengan mudah diakses, menghadirkan banyak perspektif baru tentang hubungan yang sehat. Psikolog asal Samarinda Ridha Wahyuni menyebut, media sosial memiliki peran signifikan dalam membuka pengetahuan generasi muda agar lebih sadar dan melek literasi, termasuk literasi cinta.

Ridha menjelaskan, kondisi ini berbeda jauh dengan zaman dahulu ketika internet belum hadir. Saat itu ruang pergaulan terbatas dan informasi mengenai hubungan yang sehat cenderung minim. “Kalau di zaman dulu tidak ada internet, jadi ruang terbatas, tidak tahu bagaimana cinta yang sehat dan tidak sehat. Ibaratnya seperti dijodohkan dengan anak tetangga,” ujarnya. Kini, akses informasi yang lebih luas memberi kesempatan bagi anak muda untuk melihat contoh, belajar dari pengalaman orang lain, hingga memahami batasan dalam sebuah hubungan.

Menurut Ridha, masifnya penggunaan media sosial membuat literatur tentang percintaan semakin mudah ditemukan. Mulai dari artikel, video edukatif, diskusi komunitas, hingga konten profesional dari psikolog dapat menjadi rujukan. Hal ini dapat membantu anak muda memahami dinamika hubungan secara lebih rasional, bukan semata berdasarkan perasaan saja.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa hubungan percintaan bukan hanya tentang rasa suka atau perhatian emosional. Ada nilai keberlanjutan yang perlu dipahami sejak awal. “Hubungan itu saling menyayangi dan keberlanjutan. Selain memperhatikan soal cinta-cintaannya saja, kita perlu visi misi ke depannya mau seperti apa,” ucap Ridha. Anak muda perlu mempertimbangkan apakah hubungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.

Visi dan misi ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang dewasa dan bertanggung jawab. Jika kedua pihak memiliki tujuan yang sama, komunikasi cenderung lebih mudah dan hubungan bisa berjalan lebih stabil. Sebaliknya, perbedaan tujuan jangka panjang dapat memicu konflik yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.

Ridha juga mengingatkan, perjalanan masa lalu seseorang kerap memengaruhi hubungan saat ini. Luka emosional yang belum selesai dapat berbenturan dengan visi misi pasangan, sehingga menghambat proses membangun hubungan yang sehat. Ketika kondisi ini terjadi, perlu ada kesadaran untuk menilai ulang apakah hubungan masih layak dilanjutkan.

“Jika visi misi itu saling berbenturan dengan luka masa lalu yang belum selesai, artinya tidak bisa dilanjutkan. Tidak perlu menyakiti satu dan lain pihak,” ujar Ridha. Ia mendorong anak muda untuk lebih bijak menilai hubungan, termasuk memahami kapan harus melanjutkan dan kapan harus berhenti demi kebaikan kedua belah pihak.

Di era media sosial yang begitu dinamis, literasi cinta menjadi bagian penting dalam perjalanan anak muda memahami dirinya dan hubungan yang dijalani. Dengan bekal pengetahuan yang lebih luas, diharapkan generasi sekarang mampu membangun hubungan yang sehat, saling mendukung, dan berdampak positif ke masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....