Membaca Buku Fisik Lawan Stimulus Digital Instan

  • 04 Feb 2026 19:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Di tengah gempuran konten digital berdurasi singkat yang semakin masif, pegiat literasi sekaligus pengurus Samarinda Read Aloud dan profesional public speaker, Hesti Suci Mawarni, menegaskan gerakan membaca dan membaca nyaring (read aloud) justru semakin relevan, terutama bagi anak dan remaja.

Hesti menilai kebiasaan mengakses konten cepat melalui gawai telah memengaruhi cara kerja otak. Menurutnya, masyarakat kini terbiasa dengan stimulus instan. 

“Otak kita sudah sangat dipengaruhi dengan kecepatan tayangan. Di era digital, kalau tidak suka kita bisa skip, kalau tidak tertarik kita bisa ganti tontonan. Iklan pun bisa dilewati,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Hesti, berpotensi membuat seseorang menjadi lebih mudah bosan dan kurang tangguh dalam menghadapi tantangan di dunia nyata. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kembali pada aktivitas membaca buku.

“Ketika kita kembali ke buku, kita membacanya per kata, per kalimat, per paragraf, mencari makna dan ide pokoknya. Kadang kita ulang lagi, baca lagi, memunculkan kenangan, membuat prediksi cerita. Dari situ kita belajar menenangkan diri,” katanya.

Menurut Hesti, membaca buku menjadi penyeimbang di tengah derasnya stimulus instan dunia digital. Proses tersebut membantu anak dan remaja membangun ketangguhan mental saat menghadapi persoalan hidup.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan anak muda dalam gerakan membaca dan read aloud. Hesti mengungkapkan bahwa di Samarinda sudah ada beberapa komunitas yang digawangi pemuda di bawah usia 30 tahun dan aktif membacakan buku, bahkan pernah berkolaborasi dengan Samarinda Read Aloud. Namun, dari sisi jumlah, keterlibatan tersebut dinilai masih belum sebanding dengan besarnya populasi generasi muda di Indonesia.

“Maka itu, mari kita para pemuda, para keluarga, bahkan para lansia, kembali ke buku. Buku itu benar-benar penting, terlebih di era digital,” katanya.

Terkait pilihan media bacaan, Hesti menegaskan bahwa buku fisik dan buku digital pada dasarnya merupakan soal selera. Namun, jika berbicara mengenai kebutuhan tubuh manusia, ia menilai buku fisik memiliki keunggulan lebih.

“Buku fisik melibatkan sensori, bagaimana kita menyentuh, merawat, dan memegang buku. Ketika kita melihat huruf-hurufnya langsung, interaksinya lebih terasa. Ketika bingung, tangan refleks menunjuk,” ujarnya.

Hesti menekankan bahwa interaksi langsung dengan buku fisik sangat penting untuk mendukung perkembangan sensori dan otak, terutama pada anak-anak dan remaja. Meski buku digital bisa menjadi alternatif ketika buku fisik tidak tersedia, kebiasaan membaca sama sekali tidak boleh ditinggalkan.

Ia mendorong masyarakat untuk memulai membaca tanpa terbebani, dengan langkah kecil seperti membaca satu paragraf atau satu halaman terlebih dahulu. Menurutnya, yang terpenting adalah memulai kebiasaan membaca sehingga budaya literasi dapat tumbuh secara bertahap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....