Membaca di Samarinda Masih Sebatas Kewajiban Sekolah

  • 04 Feb 2026 19:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Pegiat literasi sekaligus pengurus Samarinda Read Aloud dan profesional public speaker, Hesti Suci Mawarni, menilai budaya literasi di Kota Samarinda masih menghadapi tantangan besar. Menurutnya, membaca belum menjadi kebiasaan utama dalam kehidupan masyarakat, melainkan masih dipandang sebagai kewajiban belajar di sekolah.

“Kalau kita membahas literasi di kota kita tercinta ini, tentu membaca itu belum menjadi sebuah kebiasaan. Masih banyak yang menomorduakan buku dan kegiatan membaca,” ujar Hesti saat menjadi narasumber dalam obrolan Sudut Tanya Podcast Pro 2 Samarinda, Rabu 4 febuari 2026.

Ia menegaskan, kondisi tersebut bertolak belakang dengan hakikat manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat. “Padahal manusia itu fitrahnya adalah pembelajar sepanjang hayat, dan salah satu cara belajar adalah dengan membaca. Jadi membaca itu adalah pondasi,” katanya.

Hesti menilai, jika ingin membangun generasi bangsa yang berkualitas dan bertumbuh menjadi generasi emas, maka budaya membaca harus kembali digiatkan. “Kalau mau generasi bangsa itu baik, yuk kita giatkan lagi membaca buku,” ujarnya.

Menurut Hesti, salah satu tantangan utama adalah bagaimana mengenalkan buku agar masyarakat tertarik dan mau membaca secara berkelanjutan. Ia menyebut membaca nyaring (read aloud) sebagai salah satu cara efektif. 

“Bagaimana supaya mau kenal buku, tertarik, mau terus membaca, dan mengambil manfaat dari buku? Salah satunya dengan membaca nyaring,” ujarnya.

Ia mendorong agar kebiasaan membaca dimulai dari lingkungan terdekat, seperti dari diri sendiri dan keluarga. Menurutnya, peran orang tua, guru, hingga remaja sangat penting dalam membangun ekosistem literasi melalui kegiatan membacakan buku dan bertukar pikiran, sebuah praktik yang dinilainya masih jarang ditemui di Samarinda.

Menurutnya, selama ini membaca masih dipersepsikan sebagai kewajiban akademik semata. Dalam pandangan masyarakat, kegiatan membaca buku kerap dikaitkan dengan tugas sekolah, bukan sebagai kebutuhan belajar sepanjang hayat.

Pandangan tersebut, menurutnya, perlu diubah agar membaca dipahami sebagai bagian dari proses belajar seumur hidup. Ia juga menyinggung soal persepsi harga buku yang kerap dianggap mahal. 

“Membeli buku sering kali terasa terpaksa, karena dari segi harga memang lumayan. Tapi kalau kita memahami makna dari harga sebuah buku, tentu itu sepadan,” ujarnya.

Sebagai penutup, Hesti menekankan bahwa proses pengenalan terhadap buku menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kebiasaan membaca. Ketika seseorang sudah mengenal dan merasakan manfaat membaca, akan muncul ketertarikan untuk membeli buku dan membaca secara berulang, hingga buku menjadi bagian dari keseharian.

Ia berharap perubahan sudut pandang terhadap membaca dapat mendorong tumbuhnya budaya literasi di Samarinda, sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban sekolah semata, melainkan menjadi kebutuhan dan kebiasaan utama dalam kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....