Pentingnya Menumbuhkan Cinta Membaca Sejak Dini

  • 04 Feb 2026 18:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Pegiat literasi sekaligus pengurus Samarinda Read Aloud dan profesional public speaker, Hesti Suci Mawarni, menekankan pentingnya menumbuhkan cinta membaca pada anak sejak usia dini melalui pengalaman membaca yang menyenangkan, salah satunya lewat kegiatan membaca nyaring (read aloud).

Berdasarkan pengalamannya berinteraksi langsung dengan anak-anak dalam kegiatan membaca nyaring, Hesti menyebut respons yang paling sering ditunjukkan anak adalah tatapan mata. 

“Yang pertama, tidak bisa bohong, adalah tatapan mata. Ketika kita membacakan nyaring sebuah buku, biasanya anak-anak itu memberikan tatapan yang saya artikan sebagai tatapan takjub atau tatapan cinta,” ujarnya dalam obrolan STP Pro 2 Samarinda Rabu, 4 Febuari 2026.

Menurut Hesti, anak-anak menunjukkan rasa penasaran terhadap isi buku, baik melalui ilustrasi maupun cerita yang dibacakan. Namun, durasi fokus setiap anak berbeda-beda, tergantung pada kebiasaan mereka berinteraksi dengan buku.

“Durasi tatapan itu berbeda-beda setiap anak, karena tergantung apakah dia sudah terbiasa atau belum terbiasa dengan buku,” katanya.

Ia menuturkan, rasa cinta terhadap buku tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh dari kebiasaan. “Namanya cinta itu tumbuh dari kebiasaan. Sama seperti kita ingin akrab dan mengenal sesuatu, pasti harus mencari tahu dulu,” katanya.

Anak yang belum terbiasa dibacakan buku, lanjutnya, tetap menunjukkan ketertarikan awal, namun mudah teralihkan. 

“Anak yang sebelumnya tidak pernah tahu buku dan tidak pernah dibacakan, biasanya akan terpanah dan memberi tatapan cinta, tapi durasinya singkat. Setelah itu fokusnya bisa hilang karena belum seseru itu dan belum secinta itu,” ujarnya.

Sebaliknya, anak yang sudah terbiasa akan menunjukkan perhatian lebih lama. “Kalau yang sudah terbiasa, dia bisa memberikan tatapan yang lebih lama,” katanya, menambahkan.

Hesti juga mengungkapkan, setelah kegiatan membaca nyaring selesai, anak-anak kerap menunjukkan respons lanjutan dengan meminta kegiatan tersebut diulang. 

“Biasanya setelah selesai dibacakan buku, anak-anak akan refleks bertanya, ‘Ada lagi enggak? Mau lagi, mau lagi buku apa?’ Itu benar-benar tanda cinta, karena kalau cinta pasti minta berulang,” katanya.

Respons positif tersebut, menurut Hesti, menjadi penyemangat bagi para pegiat literasi untuk terus mengampanyekan membaca nyaring kepada keluarga dan masyarakat luas. Ia menilai pengalaman menyenangkan saat membaca dapat menjadi kenangan berharga bagi anak.

“Pengalaman menyenangkan itu yang membuat anak mau mengulang lagi. Ketika punya kenangan indah, pasti mau baca lagi, mau beli buku lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, upaya menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga remaja. 

“Itu yang ingin kita lakukan untuk generasi bangsa. Bagaimana menciptakan pengalaman menyenangkan dalam membaca buku, karena dari situlah cinta membaca tumbuh,” katanya, menakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....