Ambara Cita Perluas Akses Literasi Ramah Disabilitas Samarinda

  • 24 Jan 2026 12:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah dinamika kehidupan sosial yang terus bergerak, kehadiran komunitas menjadi ruang penting bagi tumbuhnya kepedulian, kreativitas, dan gerakan perubahan dari akar rumput. Komunitas tidak lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi juga menjadi wadah berbagi, bertumbuh, dan memberi makna bagi lingkungan sekitar, terutama dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan.

Salah satu komunitas yang hadir membawa semangat tersebut adalah Komunitas Ambara Cita, sebuah komunitas sosial-edukatif yang digerakkan oleh anak-anak muda dengan fokus pada literasi dan pendidikan inklusif. Komunitas ini diperkenalkan dalam program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Samarinda, Kamis 22 Januari 2026, dengan menghadirkan Founder sekaligus Ketua Umum Ambara Cita, Lismia Nabila, S.Pd., Gr., serta Sekretaris komunitas, Nur Aisyah, S.Sos.

Ambara Cita lahir dari kegelisahan akan menurunnya kemampuan kognitif anak-anak, khususnya dalam kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung. Keresahan tersebut semakin terasa ketika pendirinya terlibat langsung dalam pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan metode belajar berbeda dan pendekatan yang lebih manusiawi.

“Berawal dari kegelisahan sebagai pendidik melihat kemampuan literasi anak yang menurun, terutama anak-anak berkebutuhan khusus, saya merasa perlu menghadirkan ruang belajar yang lebih menyenangkan dan inklusif,” ujar Lismia Nabila, Founder Komunitas Ambara Cita.

Komunitas ini pertama kali dirintis di Lampung pada Maret 2025, sebelum akhirnya berkembang dan dibentuk kembali di Kota Samarinda seiring penugasan pendirinya sebagai aparatur sipil negara. Meski terbilang baru berdiri di Samarinda, Ambara Cita menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dengan dukungan berbagai elemen masyarakat.

Ambara Cita mengusung konsep inklusivitas, tidak hanya untuk anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi juga terbuka bagi semua kalangan yang ingin belajar dan berkontribusi. Melalui pendekatan literasi yang ramah anak, komunitas ini berupaya menciptakan proses belajar yang aman, menyenangkan, dan bermakna.

Sekretaris Komunitas Ambara Cita, Nur Aisyah, menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat untuk terlibat cukup tinggi. Saat ini, Ambara Cita telah memiliki sekitar 30 relawan dari berbagai latar belakang usia dan profesi, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga. “Relawan datang dengan semangat kebermanfaatan. Ilmu yang mereka miliki ingin dibagikan untuk orang lain tanpa melihat latar belakang disabilitas atau non-disabilitas,” katanya.

Selain relawan umum, Ambara Cita juga melibatkan penyandang disabilitas sebagai bagian dari komunitas, termasuk teman tuli dan pendamping juru bahasa isyarat. Hal ini menjadi wujud nyata dari prinsip inklusi yang dipegang teguh oleh komunitas tersebut dalam setiap aktivitasnya.

Dalam dialog tersebut, para narasumber juga menyoroti pentingnya peran guru pendamping khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak tidak hanya mengalami perkembangan akademik, tetapi juga peningkatan kemampuan sosial dan kepercayaan diri.

Ke depan, Ambara Cita menargetkan diri sebagai gerakan literasi sukarela yang peduli dan berdaya, dengan visi menjembatani harapan anak-anak melalui pendidikan yang lebih bermakna. Melalui semangat kolaborasi dan empati, komunitas ini diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh bersama bagi anak-anak dan remaja di Kota Samarinda, sekaligus menguatkan nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....