Ciri-Ciri Orang Beruntung dalam Pandangan Islam
- 02 Nov 2025 14:55 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Suasana pagi di Samarinda kembali terasa teduh dengan lantunan salam dan tausiyah yang menyejukkan hati dari program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda, edisi Sabtu (1/11/2025). Mengangkat tema “Ciri-Ciri Orang Beruntung”, program ini menghadirkan Ustaz Abdullah Syakir dari Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda sebagai narasumber. Beliau menyampaikan uraian mendalam tentang makna keberuntungan sejati menurut pandangan Islam, bukan sekadar keberhasilan duniawi semata.
Di awal tausiyahnya, Ustaz Abdullah mengajak seluruh pendengar untuk memulai hari dengan bersalawat dan bersyukur atas nikmat kehidupan yang masih diberikan Allah SWT. “Keberuntungan sejati dimulai dari hati yang sehat, jiwa yang tenang, dan pandangan yang penuh syukur,” ujarnya. Ia menegaskan, keberuntungan menurut Islam bukanlah sekadar soal harta, jabatan, atau popularitas, melainkan seberapa dekat seseorang dengan Allah dan seberapa besar manfaatnya bagi sesama.
Merujuk pada kitab Nashihul ‘Ibad,* Ustaz Abdullah menyebutkan bahwa ada sebelas tanda orang yang beruntung. Ciri pertama adalah sifat zuhud terhadap dunia. Namun ia menegaskan, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia atau menolak rezeki, melainkan menjadikan harta sebagai sarana menuju ridha Allah, bukan tujuan utama hidup. “Kita boleh kaya, tapi jangan sampai kekayaan itu menenggelamkan hati kita dari mengingat Allah,” katanya.
Ciri kedua orang beruntung adalah kecintaan terhadap akhirat. Setiap langkah, pekerjaan, dan aktivitasnya diniatkan sebagai ibadah. “Ketika niat kita lurus karena Allah, maka semua aktivitas bernilai ibadah,” katanya. Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat modern yang lebih akrab dengan gawai ketimbang Al-Qur’an. Padahal, menurutnya, rumah yang jarang dibacakan Al-Qur’an diibaratkan Rasulullah SAW sebagai kuburan, yang gelap, tanpa cahaya keberkahan.
Selanjutnya, orang beruntung adalah mereka yang menjaga lisan. Di era media sosial, kata Ustaz Abdullah, mudah sekali seseorang tergelincir dalam dosa ghibah dan fitnah. “Bicara seperlunya, jangan berlebihan. Orang yang sempurna akalnya akan sedikit bicara,” ujarnya. Ia mengibaratkan, “Drum kosong akan berbunyi nyaring, tapi drum berisi air tak bersuara, begitulah perbedaan antara orang bijak dan orang yang banyak bicara tanpa makna.”
Ciri berikutnya adalah menjaga shalat lima waktu. Menurutnya, shalat bukan hanya kewajiban, tetapi kunci keberuntungan hidup. Ia juga mengingatkan bahwa meninggalkan shalat dapat memicu perilaku kasar, mudah marah, dan hilangnya rasa hormat dalam keluarga.
Selain itu, orang beruntung juga menjauhi perkara haram, bahkan yang samar-samar (subhat). Ustaz Abdullah memberi contoh sederhana, yaitu: mengambil makanan dalam hajatan tanpa izin tuan rumah, meskipun hanya sedikit, tetap tergolong perbuatan tidak baik. Ia juga menyinggung bahaya sifat malas, banyak tidur, dan lemahnya keyakinan yang dapat menjauhkan manusia dari keberkahan hidup.
Ciri lainnya adalah memiliki teman-teman yang saleh. Teman yang baik akan memengaruhi perilaku dan membimbing pada kebaikan. “Bersanding dengan penjual minyak wangi akan ikut harum, tapi dekat dengan penjual ikan asin akan ikut amis,” ujarnya, berumpama. Ia menegaskan pentingnya mencari lingkungan yang baik karena kebutuhan pada ulama dan orang saleh tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat, ketika manusia kelak kebingungan memohon sesuatu kepada Allah.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Abdullah mengingatkan dua ciri terakhir dari orang beruntung, yakni sifat tawadhu (rendah hati) dan dermawan. Ia menegaskan bahwa kesombongan bisa lahir dari jabatan, kekayaan, atau ilmu, dan semuanya harus dijaga dengan kerendahan hati. Program Mutiara Pagi pun diakhiri dengan doa agar para pendengar menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung, yang hidupnya membawa manfaat di dunia dan berbahagia di akhirat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....