Batik Zahro: Mengukir Cerita Alam dan Budaya

  • 24 Okt 2025 08:17 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Dikutip dari pemaparan Owner Batik Zahro, Iin Endah Prianti, nama Batik Zahro diambil dari kata Zahro yang bermakna bunga, simbol keindahan dan pertumbuhan. Ia berharap Batik Zahro dapat memberikan makna keindahan melalui hasil karya batik yang terus tumbuh dan mekar seiring perkembangan zaman yang modern.

Nama Zahro juga terinspirasi dari nama putrinya, Zahrotus Sitta, yang berarti “bunga yang disenangi banyak orang dalam konteks kebaikan.” Batik Zahro berdiri pada tahun 2017, di masa ketika batik Balikpapan mulai berkembang pesat. Iin berharap, kehadiran Batik Zahro dapat turut melestarikan batik melalui penciptaan motif-motif terbaru yang dinamis, selaras dengan perkembangan industri batik di Kota Balikpapan.

Dalam proses produksinya, Batik Zahro berkolaborasi dengan pengrajin lokal Balikpapan, baik pada tahap mencanting maupun pewarnaan batik. Kolaborasi juga dilakukan dengan penjahit lokal untuk produk seragam sekolah, seragam dinas, hingga dengan fashion designer lokal untuk lini ready to wear dan fashion collection. Workshop Batik Zahro berlokasi di Kelurahan Teritip, tempat seluruh proses dilakukan mulai dari desain motif, mencanting, mewarnai, fiksasi hingga melorod.

Batik Zahro memproduksi batik pewarna sintetis dan batik pewarna alam yang ramah lingkungan sebagai wujud nyata dari gerakan sustainable fashion. Setiap karya diproduksi dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara seimbang.

Bagi Batik Zahro, membatik bukan sekadar menggambar di atas kain. Setiap karya memiliki arti dan filosofi mendalam karena dibuat dengan sepenuh hati.

Beberapa motif batik unggulan di antaranya:

Tree of Life, menggambarkan pohon kelapa dan tunas muda kelapa sebagai simbol daya guna, semangat tumbuh, dan akar kehidupan yang kokoh, disandingkan dengan pohon pakis yang selalu hadir dalam motif Batik Zahro.

Buah Nipah Balikpapan, terinspirasi dari tanaman khas pesisir dan obor kilang minyak sebagai identitas kota Balikpapan.

Kopi Dayak Borneo, menampilkan pohon kopi jenis Liberika yang tumbuh di wilayah Balikpapan, melambangkan kehangatan dan semangat modern bagi para pencinta kopi.

Selain menghasilkan batik, Batik Zahro juga menciptakan kriya berupa Bros Daun Kelubut ikon souvenir Kota Balikpapan yang dibuat dari batu alam Kalimantan dan payet Jepang premium.

Dalam perjalanannya, Batik Zahro turut memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya para ibu di wilayah Teritip, untuk belajar membatik sebagai upaya melestarikan warisan budaya nusantara. Program pelatihan juga diberikan kepada Dharma Wanita Kota Balikpapan, dan kini telah terbentuk kelompok batik yang aktif berkarya.

Kolaborasi terbaru dilakukan bersama mahasiswa KKN Universitas Mulawarman Angkatan 51 Tahun 2025, yang menciptakan motif Batik Khas Teritip serta menyusun Roadmap Eduwisata Batik di Kelurahan Teritip. Inisiatif ini diharapkan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Balikpapan, khususnya Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian serta Dinas Pariwisata, agar dapat terus berkembang.

Rencana pengembangan ini juga selaras dengan komitmen Batik Zahro dalam memberdayakan komunitas PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) binaan DP3AKB Kota Balikpapan sebagai pelaku kreatif dalam kegiatan membatik, guna membantu peningkatan ekonomi dan kemandirian perempuan lokal.

Produk Batik Zahro dapat diperoleh di Galeri Dekranasda Dome, Galeri Dekranasda Bandara Sepinggan, Lobby Hotel Novotel, Galeri ARMI di Jl. MT. Haryono, serta Galeri Batik Zahro di Kelurahan Teritip.

Batik Zahro juga dapat dipesan melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, Shopee, dan PaDI UMKM dengan nama akun “Batik Zahro.” (Gita Rahayu Syah Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....