Berkah Ibu Usaha Tahu Rumahan Dengan Resep Turun - Temurun

  • 12 Mei 2025 09:36 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Siapa yang tak mengenal tahu? Makanan yang satu ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Rasanya yang lezat, mudah ditemukan di pasar maupun tempat makan, serta harganya yang terjangkau membuat tahu digemari oleh semua kalangan.

Kali ini, kita akan mengintip langsung proses pembuatan tahu di Kota Samarinda, tepatnya di Jalan Dr. Sutomo Gang 7. Di sana terdapat industri tahu rumahan bernama “Berkah Ibu” milik Bapak Edy Purnomo. Meski dijalankan di tempat yang sederhana, usaha ini sudah berdiri sejak lama dan menjadi warisan turun-temurun dari keluarganya.

"Usaha ini sudah turun-temurun ya, dari Mbah, ke Ibu, lalu ke saya. Jadi sebenarnya saya ini cuma meneruskan saja," ujar Pak Edy saat diwawancarai oleh RRI Samarinda dalam program Feature Pro 4.

Dengan bahan dasar berupa kedelai pilihan, Pak Edy menjelaskan proses pembuatan tahu dimulai dari perendaman kedelai selama sekitar satu jam. Setelah mengembang, kedelai digiling dan diayak untuk diambil sarinya. Sari kedelai tersebut kemudian direbus hingga mendidih, lalu masuk ke proses pengentalan. Setelah mengental, adonan tahu dipres dalam cetakan yang telah disiapkan.

“Biasanya sehari menggunakan 100 kg kedelai. Setiap ember tahu yang sudah jadi dijual seharga Rp90.000, dan dalam sehari bisa memproduksi lebih dari 30 ember,” jelasnya.

Pak Edy mengaku tak ingin mengubah cita rasa tahu warisan keluarganya. Ia pun selalu terlibat langsung dalam proses produksi, dibantu oleh dua orang pegawai. Namun, perjalanan usahanya tak selalu mulus. Fluktuasi harga kedelai sering menjadi tantangan tersendiri.

"Kalau harga kedelai naik terus, ya mau tidak mau ukuran tahu dikurangi. Satu ember isinya juga dikurangi, karena pelanggan tidak mau kalau harganya dinaikkan lagi," ungkap Pak Edy.

Selain menghadapi tantangan harga bahan baku, limbah dari pembuatan tahu juga menjadi perhatian. Limbah cair tahu dapat mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan karena dapat menimbulkan bau tak sedap dan merusak ekosistem perairan. Namun, di tempat Pak Edy, limbah tersebut dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak.

“Limbah tahu ini dijadikan pakan ternak seperti kambing, sapi, dan kalau yang agak lama biasanya untuk ternak babi, nanti 2 atau 3 hari ada orang yang akan ambil limbah ini,” jelasnya.

Meski usahanya sudah bertahan puluhan tahun, Pak Edy merasa perhatian pemerintah terhadap pelaku usaha kecil seperti dirinya masih kurang. Ia berharap ada subsidi atau bantuan dari pemerintah, khususnya untuk pembelian kedelai, agar industri tahu rumahan bisa terus berkembang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....