Kebakaran Hutan Kaltim Berulang, Mitigasi Dinilai Mendesak
- 15 Sep 2026 14:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap musim kemarau di Kalimantan Timur dinilai perlu diantisipasi melalui langkah pencegahan yang lebih serius dan terencana, karena fenomena tersebut berkaitan erat dengan datangnya musim kering serta aktivitas manusia di kawasan yang telah mengalami degradasi hutan. Hal itu mengemuka dalam podcast The Voice of Tropical Rainforest bersama Kepala UPTD KPHP Telake, Sahar Alhaq, dan Kepala Pusat Studi dan Rehabilitasi Hutan Tropis (Pusrehut) Universitas Mulawarman, Dr. Ibrahim.
Dalam podcast tersebut, pembahasan kebakaran hutan dibagi dalam tiga aspek, yakni kondisi kebakaran yang terjadi saat ini, kerugian ekonomi akibat kerusakan hutan, serta upaya mitigasi dengan penekanan pada pencegahan. Pembahasan difokuskan pada kondisi di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, yang masih menghadapi ancaman kebakaran ketika memasuki periode kemarau.
Sahar Alhaq mengatakan, kebakaran hutan sebenarnya bukan fenomena yang sulit diperkirakan. Menurutnya, hubungan antara musim kemarau dan potensi kebakaran semestinya menjadi dasar bagi pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan tindakan preventif sebelum kebakaran terjadi.
“Seharusnya paling tidak upaya mitigasi, upaya preventif harus segala dilakukan karena tahun depan akan terjadi. Dan pasti kita bisa meramalkan karena kita sudah juga mengontek BMKG, ada data BMKG, ada SIPOMI,” ujarnya dikutip Selasa 15 September 2026.
Sahar menjelaskan, salah satu persoalan di lapangan berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan masyarakat. Di wilayah kerjanya, titik api banyak ditemukan pada kawasan yang memiliki aktivitas manusia, seperti kebun dan lokasi yang sering dilewati untuk berkebun maupun berburu. Sementara itu, hutan primer yang masih memiliki ekosistem relatif baik dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terbakar.
Pemantauan titik panas atau hotspot juga tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran. Sahar menerangkan bahwa satelit membaca tingkat panas pada suatu lokasi, sehingga setiap informasi hotspot perlu diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan atau ground check. Dalam proses tersebut, Masyarakat Peduli Api (MPA) memiliki peran penting karena berada dekat dengan kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran.
Selain persoalan kebakaran, kerusakan hutan juga membawa dampak ekologis dan ekonomi dalam jangka panjang. Dr. Ibrahim menjelaskan bahwa hutan hujan tropis tersusun atas tiga komponen utama, yakni tanah, vegetasi, dan iklim mikro. Ketika hutan terbakar, sejumlah unsur penting dalam ekosistem ikut hilang dan karbon yang tersimpan dalam biomassa dapat dilepaskan ke atmosfer.
“Hutan hujan tropis itu dibangun oleh tiga komponen utama. Tanah itu sendiri, vegetasi, dan micro klimat. Jadi kemana sebenarnya kehilangan dari unsur hara yang ada? Dari satu sisi memang meningkat dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang kita kehilangan dari unsur hara itu,” ucap Ibrahim.
Menurut Ibrahim, kebakaran juga dapat mengubah kondisi tanah dan mengganggu organisme yang berperan dalam menjaga kesuburan tanah. Dalam jangka pendek, pembakaran dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara sehingga hasil pertanian dapat meningkat. Namun, efek tersebut tidak berlangsung lama karena unsur hara dapat tercuci oleh curah hujan yang tinggi, sementara pembakaran berulang dapat menghambat proses pemulihan alami dan mendorong terbentuknya lahan kritis.
Karena itu, penanganan kebakaran hutan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Podcast tersebut menekankan pentingnya memperkuat pencegahan, termasuk meningkatkan peran masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran. Sahar menyebut salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memberikan bibit secara gratis kepada masyarakat untuk ditanam di sekitar pekarangan sebagai bagian dari upaya mencari alternatif agar masyarakat tidak melakukan pembakaran.
Upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah. Kondisi hutan, tanah, dan ekosistem di Kalimantan Timur memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lain, sehingga pendekatan penanganan dan pemulihan tidak dapat diseragamkan. Ketersediaan tenaga ahli juga dinilai penting untuk menentukan metode penghitungan kerugian serta strategi pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....