Etika Bermedia Sosial Diuji Kasus Viral Nakes Threads

  • 11 Agt 2026 15:00 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Viral di media sosial tidak hanya memperlihatkan cepatnya informasi menyebar, tetapi juga menguji cara masyarakat menggunakan ruang digital. Polemik komentar sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, di platform Threads menjadi salah satu contoh satu komentar dapat berkembang menjadi persoalan etik dan profesionalisme.

Kasus tersebut bermula dari unggahan Yurizal di Threads pada 22 Juli 2026. Ia mengeluhkan telah menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Unggahan itu kemudian mendapat beragam tanggapan, termasuk komentar dari sejumlah akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan yang dinilai bernada merendahkan serta tidak menunjukkan empati. Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian publik dan organisasi profesi.

Peristiwa ini menjadi pengingat kebebasan berpendapat di media sosial tetap membutuhkan etika. Sebelum menekan tombol kirim, pengguna perlu mempertimbangkan apakah komentarnya berdasarkan fakta, tidak menyerang pribadi, tidak mempermalukan orang lain, dan tidak memperkeruh keadaan. Kritik terhadap pelayanan atau kebijakan tetap dapat disampaikan, tetapi sebaiknya diarahkan pada persoalan, bukan penghinaan terhadap orang yang menyampaikan keluhan.

Khusus bagi tenaga kesehatan, batas profesional tersebut menjadi semakin penting. Melansir laman Kementerian Kesehatan RI, jauh sebelumnya juga telah mengingatkan agar tenaga kesehatan yang aktif di media sosial harus mampu membawa diri, memperhatikan aturan perundang-undangan, etika masyarakat, serta etika profesi. Konten maupun aktivitas digital tenaga kesehatan juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan profesional.

Etika bermedia sosial pada dasarnya dapat dimulai dari langkah sederhana: membaca secara menyeluruh sebelum berkomentar, memeriksa informasi, menghindari kata-kata yang merendahkan, menghormati privasi, serta menahan diri ketika emosi sedang tinggi. Jika menemukan unggahan yang dianggap bermasalah, pengguna juga tidak harus ikut menyerang. Pilihan yang lebih bijak adalah menyampaikan kritik secara proporsional, melaporkan konten melalui kanal yang tersedia, atau menggunakan mekanisme pengaduan resmi.

Kasus viral nakes di Threads juga menunjukkan komentar di ruang digital tidak selalu berhenti pada percakapan antarpengguna. Jejak digital dapat dibaca oleh masyarakat luas dan bahkan berdampak pada reputasi serta proses etik seseorang. Dalam kasus Yurizal, sejumlah pihak terkait telah mengambil langkah penanganan, sementara keluarga almarhum kemudian meminta agar persoalan tersebut tidak lagi menjadi bahan pembahasan di ruang publik karena masih berada dalam suasana duka.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar informasi dan gagasan, bukan tempat melampiaskan kemarahan. Setiap pengguna memiliki tanggung jawab menjaga percakapan tetap manusiawi. Ketika berbeda pendapat, kritik boleh disampaikan; ketika menemukan kesalahan, koreksi dapat diberikan. Namun, keduanya tetap perlu dilakukan dengan empati, fakta, dan penghormatan terhadap martabat orang lain. Kasus viral nakes di Threads menjadi pelajaran bahwa sebelum berkomentar, penting bertanya kepada diri sendiri: apakah komentar ini benar, perlu, dan pantas disampaikan? Penulis Marga Rahayu Katim Pemberitaan RRI Samarinda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....