Smartani Goes to School: Menanam Masa Depan dari Halaman Sekolah
- 08 Jun 2026 10:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi Kota Bontang sebagai kota industri, terdapat sebuah paradoks yang menarik untuk dicermati. Kota dengan tingkat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang tinggi itu masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Ketergantungan tersebut bukan sekadar persoalan distribusi bahan makanan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, kualitas gizi masyarakat, hingga masa depan generasi muda.
Dalam konteks itulah program Smartani Goes to School yang digagas Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang layak mendapat perhatian lebih. Program ini bukan sekadar proyek bercocok tanam di lingkungan sekolah, melainkan sebuah upaya transformasi sosial yang menghubungkan pendidikan, ketahanan pangan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi keluarga dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Selama ini, pendidikan sering kali terjebak pada capaian akademik yang diukur melalui angka dan dokumen administratif. Sementara itu, tantangan kehidupan nyata yang dihadapi anak-anak semakin kompleks. Mereka tumbuh di era digital yang serba instan, jauh dari proses produksi pangan yang sesungguhnya. Banyak anak mengenal sayuran di rak supermarket, tetapi tidak memahami bagaimana tanaman itu tumbuh dan sampai ke meja makan.
Melalui Smartani Goes to School, sekolah berupaya mengembalikan pengalaman belajar yang kontekstual dan membumi. Anak-anak tidak hanya mempelajari teori pertanian, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses menanam, merawat, hingga memanen hasil tanaman. Di sinilah pendidikan menemukan maknanya sebagai proses pembentukan karakter dan keterampilan hidup.
Pilihan menggunakan teknologi hidroponik sebagai basis budidaya juga menunjukkan bahwa pertanian tidak lagi identik dengan lahan luas dan pekerjaan tradisional. Pertanian modern justru menawarkan pendekatan yang lebih efisien, inovatif, dan relevan dengan kondisi perkotaan. Anak-anak diperkenalkan pada konsep teknologi pangan sejak dini, sekaligus memahami pentingnya efisiensi penggunaan air dan pemanfaatan ruang yang terbatas.
Lebih jauh lagi, program ini memiliki potensi besar dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Ketahanan pangan keluarga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan makanan, tetapi juga oleh pengetahuan dan kebiasaan mengonsumsi pangan bergizi. Ketika anak-anak terbiasa menanam sayuran sendiri, mereka akan lebih mengenal nilai gizi makanan yang dikonsumsi. Kesadaran tersebut dapat menular kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Yang menarik, Smartani Goes to School tidak berhenti pada aspek edukasi dan kesehatan. Program ini juga dirancang untuk membangun kemandirian ekonomi. Hasil panen dapat menjadi sumber pendapatan yang mendukung keberlanjutan kegiatan sekolah tanpa bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah. Model pembiayaan melalui kemitraan dan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menunjukkan bahwa kolaborasi multipihak dapat menjadi solusi dalam membangun program yang berkelanjutan.
Tiga sekolah percontohan yang dipilih DKP3 juga menunjukkan pendekatan yang adaptif. Setiap sekolah diberikan model pengembangan sesuai karakteristik dan kondisi lahannya. Pendekatan ini penting karena keberhasilan sebuah program tidak selalu ditentukan oleh keseragaman, melainkan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan potensi lokal.
Namun demikian, keberhasilan Smartani Goes to School tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana hidroponik atau dukungan pendanaan. Faktor yang paling menentukan adalah komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga dunia usaha. Program ini harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.
Di tengah ancaman perubahan iklim, fluktuasi harga pangan, dan tantangan ketahanan pangan global, langkah yang dilakukan Kota Bontang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Sekolah bukan hanya tempat mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk generasi yang memahami pentingnya pangan, lingkungan, dan keberlanjutan hidup.
Menanam kangkung di halaman sekolah mungkin terlihat sederhana. Namun dari aktivitas sederhana itu sesungguhnya sedang ditanam sesuatu yang jauh lebih besar: kesadaran, karakter, kemandirian, dan harapan akan masa depan yang lebih tangguh. Jika dijalankan secara konsisten, Smartani Goes to School bukan hanya menghasilkan sayuran untuk dikonsumsi, melainkan juga melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....