Sosok Azhari Idris Mengawal Industri Hulu Migas di Kalimantan dan Sulawesi
- 15 Mei 2026 14:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) merupakan tulang punggung energi nasional yang memiliki risiko tinggi, modal besar, dan teknologi tinggi. Mengelola sektor ini, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul), memerlukan dedikasi, komunikasi intensif, dan manajemen risiko yang profesional. Hal inilah yang menjadi fokus utama Azhari Idris selama menjabat sebagai Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi.
Dalam wawancara bersama RRI, Azhari memaparkan tugas utamanya adalah memastikan kegiatan operasi produksi dan eksplorasi perusahaan hulu migas di wilayah Kalsul berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
"Tugas kami adalah menjaga agar produksi terus meningkat dan menahan laju penurunan produksi. Kami memastikan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dapat beroperasi dengan baik, memitigasi kendala sosial, perizinan, hingga tumpang tindih lahan, khususnya di Kalimantan Timur yang bersinggungan dengan sektor batubara dan perkebunan," ujar Azhari pada Jumat, 15 Mei 2026.
"Kantor Sepi" demi Memastikan Operasi Aman
Salah satu pendekatan unik yang diterapkan Azhari adalah memaksimalkan fungsi pengawasan di lapangan. Ia menyebutkan, dari 55 pekerja di kantor perwakilan, sebagian besar waktu mereka habiskan di lapangan.
"Setiap hari di kantor saya maksimal hanya 5-10 orang. Yang lain berkeliling di area kerja Kalimantan-Sulawesi. Kami harus memastikan setiap barel minyak dan gas yang keluar bermanfaat, serta tidak ada gangguan sosial," katanya.
Komunikasi dengan stakeholder, mulai dari pemerintah daerah (provinsi hingga desa), media, serta organisasi adat, dijalin erat. Hal ini bertujuan untuk mencapai coexistence (hidup berdampingan) antara industri dan masyarakat lokal.
"Industri ini sudah ada di Kalimantan-Sulawesi lebih dari 50 tahun, dan mungkin 50 tahun ke depan. Kita harus membangun komunikasi persaudaraan agar industri ini bisa beroperasi jangka panjang," ujar Azhari.
Manajemen Risiko dan Potensi Masa Depan
Terkait risiko, Azhari menegaskan meskipun industri migas memiliki risiko teknis dan keamanan yang tinggi, pihak-pihak profesional bekerja keras untuk memitigasinya hingga mendekati zero tolerance terhadap kecelakaan kerja.
Menatap masa depan, Azhari optimistis dengan potensi migas di Kalimantan dan Sulawesi. Ia menyoroti potensi besar di wilayah lepas pantai Makassar yang masuk kategori kelas dunia, serta pengembangan di Mahakam dan area transisi darat-laut. Bahkan, SKK Migas aktif berkolaborasi untuk mengelola potensi sumber daya di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Anugerah Tuhan berupa potensi hidrokarbon ini harus kita jaga dan rawat bersama agar menjadi keberkahan, bukan kemudaratat, agar energi ini terus menopang bangsa," katanya kepada RRI.
Akhir Masa Jabatan dan Komitmen Berbagi Ilmu
Wawancara ini juga menjadi penanda berakhirnya masa tugas Azhari Idris sebagai Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul. Ia akan mengemban tugas baru sebagai Vice President di Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas di Jakarta sebelum memasuki masa purnabakti.
Menutup perbincangan, Azhari menyampaikan niatnya untuk terus berkontribusi bagi negara setelah tidak lagi aktif di industri migas.
"Saya ingin menyelesaikan studi PhD saya dan berencana mengajar kembali di daerah kelahiran saya di Aceh. Negara sudah memberikan banyak hal kepada saya, sekarang saatnya saya kembali dan berkontribusi melalui ilmu pengetahuan," katanya menutup perbincangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....