Cerah Berawan Pagi Mahakam Ulu Mengalir
- 26 Mar 2026 13:45 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pagi itu datang tanpa tergesa, seperti kebiasaan lama yang diwariskan oleh alam kepada wilayah pedesaan di sepanjang aliran Sungai Mahakam, khususnya Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Langit terbuka dalam nuansa cerah berawan, seolah memberi jeda bagi matahari untuk tidak terlalu menyilaukan bumi yang baru saja bangun dari tidurnya. Udara terasa hangat, berkisar di angka dua puluh sembilan derajat Celsius di kawasan Long Iram Kutai Barat Kalimantan Timur, sebuah suhu yang akrab bagi siapa pun yang pernah hidup bersisian dengan sungai besar yang panjangnya menganyam sejarah ini.
Kelembapan mencapai enam puluh tiga persen, membuat udara terasa sedikit berat namun tetap bersahabat. Angin berembus pelan dari arah timur, menyusuri permukaan air yang keruh, membawa aroma khas sungai, campuran antara tanah basah, kayu, dan jejak kehidupan yang terus bergerak.
Di atas permukaan Sungai Mahakam, suara deru kapal motor mulai terdengar. Tidak keras, tetapi cukup untuk menggetarkan pagi yang semula tenang. Kapal-kapal kayu itu, yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai kelotok, menjadi penghubung antara rindu dan kampung halaman. Di dalamnya, para pemudik duduk berdesakan, membawa tas, karung, dan cerita panjang yang belum sempat mereka bagikan.
Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momentum yang kembali menghidupkan arus perjalanan ini. Mereka pulang. Pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali kepada akar, kepada tanah yang pernah membentuk mereka sebelum dunia luar memanggil untuk merantau.
Seorang reporter radio berdiri di salah satu sudut kapal. Tangannya menggenggam alat perekam sederhana, sementara matanya menyapu wajah-wajah yang penuh harap. Ia mencatat, bukan hanya fakta, tetapi juga perasaan yang bergetar di antara para penumpang.
“Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Ini adalah perjalanan waktu.”
Kapal telah berlayar selama dua hari satu malam. Mesin tua yang terus berdengung seolah memiliki napas sendiri. Di malam hari, suara mesin itu menjadi satu-satunya pengingat bahwa mereka masih bergerak, masih menuju sesuatu. Gelap menyelimuti sungai, hanya diterangi oleh lampu kecil di buritan kapal dan langit yang kadang bertabur bintang.
Di siang hari, perjalanan memperlihatkan wajah Mahakam yang lain. Sisi kiri dan kanan sungai menyimpan kampung-kampung kecil yang berdiri dengan sejarah panjangnya masing-masing. Rumah-rumah panggung, perahu yang ditambatkan di tepian, anak-anak yang melambaikan tangan—semuanya menjadi bagian dari lanskap yang tak pernah benar-benar berubah, meski waktu terus berjalan.
Reporter itu kembali berbicara ke dalam alat rekamnya.
“Di sepanjang perjalanan menuju ulu Mahakam, kita tidak hanya menyusuri air, tetapi juga sejarah. Sungai ini pernah menjadi saksi kejayaan kerajaan Kutai, salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Dari sini, peradaban tumbuh, berkembang, dan meninggalkan jejak yang masih terasa hingga hari ini.”
Seorang penumpang tua yang duduk tak jauh darinya tersenyum. Keriput di wajahnya seperti peta yang menyimpan banyak cerita.
“Dulu,” katanya, “sungai ini penuh dengan rakit kayu. Gelondongan besar mengalir dari hulu ke hilir. Itu tahun delapan puluhan. Orang-orang hidup dari hutan, dari kayu, dari sungai.”
Ia berhenti sejenak, menatap air yang kini keruh dan dipenuhi lalu lintas ponton batu bara.
“Sekarang sudah tidak ada lagi,” lanjutnya. “Hanya cerita.”
Memang, pemandangan itu telah berubah. Rakit-rakit kayu yang dahulu menjadi simbol kejayaan ekonomi sungai kini tidak lagi terlihat. Sebagai gantinya, ponton-ponton besar bermuatan batu bara melintas perlahan, namun pasti, menggeser peran sungai dari urat nadi kehidupan menjadi jalur industri.
Kapal kelotok yang membawa para pemudik harus berhati-hati. Gerakan ponton yang besar dapat menciptakan gelombang yang cukup kuat untuk menggoyahkan kapal kecil mereka. Setiap tikungan sungai menjadi tantangan tersendiri.
Namun, bagi para penumpang, perjalanan ini tidak pernah kehilangan maknanya.
Seorang ibu muda memeluk anaknya yang tertidur. Ia telah merantau selama bertahun-tahun ke negeri seberang, bekerja sebagai buruh di kota besar. Mudik menjadi satu-satunya waktu di mana ia bisa kembali menjadi dirinya yang lama—seorang anak dari kampung, seorang saudara, seorang bagian dari keluarga besar.
“Di sana, saya hanya bekerja,” katanya pelan. “Di sini, saya hidup.”
Reporter itu mencatat kalimat itu dengan hati-hati.
Di sisi lain kapal, beberapa pemuda sibuk dengan telepon genggam mereka. Sinyal memang tidak selalu stabil, tetapi teknologi telah mengubah cara mereka menjalani perjalanan ini. Mereka bisa memberi kabar kepada keluarga di kampung, memberitahu posisi mereka, bahkan berbagi foto dan video perjalanan.
“Dulu, orang-orang hanya bisa menunggu,” ujar seorang pria paruh baya. “Sekarang, mereka sudah tahu kita di mana.”
Kemajuan teknologi memang telah menjembatani jarak, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan rasa rindu. Justru, mungkin, membuatnya semakin terasa nyata.
Sungai Mahakam terus mengalir, membawa kapal dan cerita menuju ulu. Namun, tidak semua yang dahulu ada masih bisa ditemukan.
Pesut Mahakam, mamalia air tawar yang menjadi ikon sungai ini, kini hampir tidak pernah terlihat. Dulu, kehadiran mereka menjadi tanda bahwa sungai masih hidup dengan segala keanekaragaman hayatinya.
“Sekarang susah sekali melihat pesut,” kata seorang nelayan yang ikut dalam perjalanan itu. “Air sudah berubah. Banyak aktivitas yang mengganggu habitat mereka.”
Reporter itu menatap air sungai yang berwarna cokelat pekat. Ia mencoba membayangkan bagaimana sungai ini dahulu, jernih, tenang, penuh kehidupan.
Namun, realitas hari ini berbeda.
Di Pelabuhan Ulu Mahakam, yang terletak di kawasan Sungai Kunjang, perjalanan mudik selalu dimulai dengan harapan. Para pemudik berkumpul, membawa barang dan cerita, bersiap untuk perjalanan panjang yang akan menguji kesabaran mereka.
Mudik dengan kapal motor ke ulu Mahakam memang memiliki keunikan tersendiri. Setiap tahun, perjalanan ini menjadi semacam ritual. Bukan hanya tentang sampai ke tujuan, tetapi juga tentang proses, tentang pertemuan dengan orang-orang yang mungkin tidak dikenal namun memiliki tujuan yang sama.
Setiap tikungan sungai menyimpan kemungkinan—pertemuan, kenangan, atau bahkan refleksi diri.
Dan meskipun perjalanan ini tidak lagi seberat dulu, tantangan tetap ada. Cuaca, arus sungai, lalu lintas kapal besar, semuanya menjadi bagian dari pengalaman yang tidak bisa dipisahkan.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tetap konstan: keinginan untuk pulang.
Pagi di Mahakam Ulu terus berlanjut. Matahari mulai naik lebih tinggi, cahaya keemasannya memantul di permukaan air yang bergerak perlahan. Kapal terus melaju, membawa para penumpang semakin dekat dengan kampung halaman mereka.
Reporter radio itu menutup catatannya untuk sementara. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang hangat dan lembap.
“Perjalanan ini,” katanya dalam rekaman terakhirnya pagi itu, “adalah tentang menemukan kembali apa yang pernah kita tinggalkan. Sungai Mahakam bukan hanya jalur air, tetapi jalur ingatan.”
Di kejauhan, sebuah kampung mulai terlihat. Rumah-rumah panggung berdiri di tepian, dan beberapa orang sudah menunggu di dermaga kecil.
Kapal memperlambat lajunya.
Beberapa penumpang berdiri, mata mereka berbinar. Ada yang melambaikan tangan, ada yang tersenyum, ada pula yang hanya diam, menahan haru.
Perjalanan hampir selesai, tetapi cerita belum.
Karena setiap mudik adalah awal dari kisah baru, yang akan kembali dikenang ketika waktu memanggil mereka untuk pulang lagi.

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....