Orang Tua Tunarungu Rasakan Dampak Sekolah Ramah Disabilitas di Samarinda

  • 03 Mar 2026 08:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penerimaan, komunikasi terbuka, dan empati lingkungan sekolah dapat memberikan dampak besar bagi anak disabilitas. Hal itu disampaikan Sri Wahyuningsih, orang tua dari siswa tunarungu kelas 7 di Madrasah Darussalam Internasional Samarinda.

Sri menceritakan, sebelum mendaftarkan anaknya, ia sempat berkeliling mencari sekolah yang bersedia menerima anak berkebutuhan khusus. “Tidak semua sekolah menerima anak ABK, meskipun berlabel inklusi,” ujar Sri kepada RRI, dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro1 Samarinda.

Ia mengetahui informasi tentang Madrasah Darussalam melalui teman, lalu mencari tahu secara mandiri sebelum akhirnya datang langsung ke sekolah untuk memastikan. “Saya tanya langsung, apakah anak saya dengan gangguan dengar bisa diterima. Pihak sekolah jujur mengatakan mereka bukan sekolah inklusi dan belum punya SDM khusus. Tapi mereka membuka kesempatan,” katanya, dikutip Selasa, 3 Maret 2026.

Menurut Sri, keterbukaan itu menjadi alasan kuat untuk mencoba. “Sekolah tidak menutup-nutupi kondisi mereka, tapi tetap mau menerima dan berusaha,” ucapnya.

Orang tua siswa tunarungu, Sri Wahyuningsih (kanan), saat dialog bersama RRI. (Foto: Tangkapan layar youtube RRI Samarinda)

Di awal masa sekolah, putranya sempat mengalami masa adaptasi yang tidak mudah. Lingkungan baru dan teman-teman yang belum mengenal kondisi tunarungu membuatnya perlu waktu untuk menyesuaikan diri. “Awalnya berat. Dia tidak kenal siapa-siapa,” kata Sri.

Sebagai ibu, ia aktif memberi pemahaman kepada anaknya sekaligus meminta dukungan sekolah untuk mengenalkan Rizki kepada teman-temannya. “Saya minta pihak sekolah memperkenalkan anak saya sebagai anak tunarungu supaya teman-temannya paham,” ujarnya.

Perlahan, suasana berubah. Sri mengaku selalu memperhatikan raut wajah anaknya setiap pulang sekolah. “Saya lihat dulu wajahnya ceria atau tidak. Alhamdulillah sekarang dia selalu cerita tentang kegiatan di sekolah,” katanya.

Ia juga bersyukur karena teman-teman putranya mulai memahami dan merangkulnya. Bahkan ada siswa lain yang mampu berbahasa isyarat karena memiliki orang tua tunarungu. “Temannya ada yang pintar bahasa isyarat karena orang tuanya juga tunarungu. Itu sangat membantu,” ujarnya.

Rekomendasi Berita