Bertani Keren Tak Butuh Lahan Luas

  • 04 Nov 2025 09:01 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Dosen Universitas Mulawarman (UNMUL), Reza Prakoso Dwi Julianto, menyebut konsep 'Grow Your Own Food' (GYOF) tidak membutuhkan lahan luas. Ia mendorong anak muda mengubah mindset bahwa bertani adalah kegiatan yang keren dan penting untuk mendukung ketahanan pangan mandiri.

Disampaikan dalam Podcast RRI Samarinda, Kamis (30/10/2025), Reza menjelaskan inti dari konsep GYOF. "Bagaimana sih kita diminta untuk kita bisa memproduksi hasil makanan atau sayuran yang kita hasilkan sendiri. Jadi, kita setidaknya adalah bertani sendiri," ujarnya.

Ia menekankan hal ini perlu didorong kepada generasi muda. "Karena ada mindset adalah muncul bertani itu tidak keren. Padahal bertani itu sangat keren sekali," ujar Reza.

Reza, yang merupakan Dosen Program Studi Agroekoteknologi Faperta UNMUL, menepis anggapan bahwa GYOF butuh lahan besar. Ia menyebut pertanian bisa dilakukan dalam lingkup kecil. "Salah satunya kalau ada di konsep pertanian ada namanya urban farming. Ada juga kawasan rumah pangan lestari," katanya.

Bahkan, lanjutnya, media tanam bisa memanfaatkan barang-barang bekas. "Jadi kayak kaleng cat, kayak tempat-tempat galon Aqua itu bisa kita gunakan sebagai wadah untuk kita bertani," ucapnya.

Terkait hubungan GYOF dengan ketahanan pangan nasional, Reza menyebut empat pilar ketahanan. Keempat pilar itu adalah aksesibilitas (ketersediaan), keberlanjutan, gizi, dan ketercapaian. GYOF dinilai dapat memenuhi pilar-pilar tersebut.

Manfaat pertama adalah dari aspek gizi dan kesehatan. "Kalau kita bertani sendiri artinya kita me-manage tanaman kita supaya tanaman itu sehat," jelasnya. Hal ini berbeda dengan sayuran di pasar yang terkadang disemprot pestisida. "Kita mau metik cabai cabainya bisa kita pastikan bahwa dia adalah benar-benar organik."

Kedua, GYOF membuat pelakunya tidak terpengaruh oleh gejolak harga pasar. "Ketika harganya melambung tinggi sekali, kita masih bisa kok makan, makan sayuran, makan enak," ujarnya.

Ketiga, konsep ini relevan untuk kondisi Kalimantan yang memiliki keterbatasan akses di daerah pedalaman. "Ketika itu bisa bertani sendiri maka apa? Dia bisa menuhi pangan itu secara mandiri," katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....