DLH Ungkap Pengelolaan Sampah Samarinda Masih Rendah, Masuk Empat Terbawah
- 03 Okt 2026 10:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pengelolaan sampah di Kota Samarinda masih tergolong rendah dibandingkan kabupaten dan kota lain di Kalimantan Timur. Berdasarkan neraca pengelolaan sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda yang dilaporkan ke kementerian, persentase sampah yang tercatat dikelola Samarinda masih di bawah 10 persen.
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, saat sosialisasi Pilot Project Pengolahan Sampah Organik di Rumah Tangga yang diikuti seluruh kelurahan secara daring, Jumat, 2 Oktober 2026.
Taufiq mengakui sejak dua tahun terakhir, pengelolaan sampah di Samarinda memang masih rendah. Pada 2024, baru 7,91 dari 100 persen sampah yang dikelola. Sementara pada 2025, sampah yang dikelola Kota Tepian hanya 8,19 persen.
"Jadi otomatis angka yang tidak terkelola ini sangat besar. 2024 di angka 92% dan 2025 di angka 91% persen. Bahkan kita berada di urutan empat terbawah dibandingkan kabupaten/kota lain. Di bawah kita itu ada Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu. Peringkat atas Balikpapan dan Bontang dengan angka pengelolaan sampahnya di 98 dan 93 persen," kata Taufiq.
Taufiq menjelaskan, rendahnya angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pengelolaan sampah di lapangan. Salah satu persoalannya adalah masih ada kegiatan pengelolaan sampah yang belum tercatat dalam sistem.
“Sebetulnya di lapangan praktik pengelolaan sampah itu sudah dilakukan dan banyak. Cuma datanya tidak terhimpun, dan itu sudah kami coba benahi,” ucapnya.
Selain persoalan data, DLH Samarinda menilai pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga juga perlu diperkuat. Karena itu, pihaknya mulai menjalankan pilot project pengolahan sampah organik dengan melibatkan masyarakat dari tingkat RT.
Program tersebut diawali dengan memilih lima rumah di setiap RT sebagai peserta aktif atau percontohan. Rumah yang terpilih akan diberi tanda sebagai bentuk komitmen untuk mengolah sampah organik dari rumah.
"Untuk target awal setiap RT kita pilih lima rumah sebagai peserta aktif pertama atau percontohan. Dari situlah gerakan ini kita mulai dan mudah-mudahan bisa menjadi satu kebiasaan baru atau new social norms yang berlaku di masyarakat," ujar Taufiq.
Taufiq mengatakan, program tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan sementara. Ia ingin pengolahan sampah dari rumah tangga menjadi kebiasaan masyarakat yang dilakukan secara konsisten.
Pilot project tersebut juga akan menjadi bahan evaluasi bagi DLH untuk melihat apakah model pengelolaan sampah dari rumah tangga dapat diterapkan di seluruh kelurahan.
“Pengolahan sampah mulai dari rumah tangga bukan hanya semata-mata program pemanis. Ini harus menjadi langkah yang kita laksanakan secara konsisten dan berkelanjutan,” ucap Taufiq, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....