Mahasiswa Disabilitas UMKT Rasakan Dukungan Kampus
- 01 Okt 2026 16:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Memasuki dunia perkuliahan menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Selain menghadapi lingkungan yang berbeda dari sekolah menengah, mahasiswa juga dituntut untuk lebih mandiri dalam menjalani berbagai aktivitas akademik maupun sosial di kampus.
Hal tersebut dirasakan Ambo Dalle, mahasiswa penyandang disabilitas fisik atau tunadaksa di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Ia mengaku sempat merasa ragu dan takut ketika pertama kali akan memasuki dunia perkuliahan.
“Pengalaman pertama saya jujur agak ragu dan takut saat ingin memasuki fase perkuliahan ini. Tapi setelah menjalaninya, alhamdulillah saya bisa menjalani dengan baik,” ujar Dalle dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Samarinda, dikutip Kamis 1 Oktober 2026.
Dalle mengatakan, dukungan dari lingkungan kampus membuatnya lebih mudah beradaptasi. Selain dukungan dari sesama mahasiswa, UMKT juga menyediakan sejumlah fasilitas yang membantu mahasiswa disabilitas menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, fasilitas tersebut antara lain jalur khusus bagi pengguna kursi roda dan lift sehingga mahasiswa disabilitas tidak harus menggunakan tangga untuk berpindah antarlantai.
“Di kampus ada dukungan dari mahasiswa disabilitas dan juga fasilitas. Contohnya ada jalur khusus kursi roda dan lift, jadi teman-teman disabilitas tidak perlu naik tangga,” katanya.
Menariknya, Dale mengaku awalnya tidak mengetahui keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di UMKT. Ia baru mengetahui adanya layanan tersebut setelah berada di bagian kemahasiswaan dan mendapatkan pendampingan dari pihak kampus.
“Saya awalnya tidak tahu. Setelah berada di kemahasiswaan, saya dibina dan dirangkul. Saya diberi tahu bahwa di UMKT sudah ada Unit Layanan Disabilitas,” ucap Dalle.
Pendampingan tersebut kemudian membuat Dale mendapatkan dukungan untuk terus mengembangkan diri selama menjalani perkuliahan. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Akuntansi di UMKT.
Sementara itu, relawan ULD UMKT, Juniati, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa disabilitas dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing individu. Setiap mahasiswa dapat memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatan yang diberikan juga perlu disesuaikan.
Juniati mengatakan, hingga saat ini mahasiswa disabilitas yang berada di lingkungan UMKT didominasi oleh penyandang disabilitas fisik dan mental. ULD juga terus mempersiapkan diri apabila ke depan terdapat mahasiswa dengan kebutuhan layanan yang berbeda.
“Sejujurnya belum ada tantangan yang besar. Di UMKT sendiri kebanyakan disabilitasnya lebih ke fisik dan mental. Untuk tunanetra, tunawicara, atau tunarungu belum ada,” ujar Juniati.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu dipersiapkan apabila terdapat mahasiswa tunarungu adalah kemampuan komunikasi. ULD berencana meningkatkan kemampuan relawan, termasuk mempelajari bahasa isyarat agar dapat memberikan layanan yang lebih sesuai.
“Kalau nanti ada kemungkinan mahasiswa dengan kondisi tersebut, mungkin kendalanya di komunikasi karena kami juga belum bisa bahasa isyarat. Ke depannya mungkin kami bisa belajar bahasa isyarat,” katanya.
Dalam menjalankan tugasnya, Juniati mengatakan dirinya lebih banyak mendampingi mahasiswa disabilitas sekaligus memastikan mereka memperoleh hak, peran, dan akses yang sama selama berada di lingkungan kampus.
“Tugas saya lebih kepada mendampingi dan memastikan mahasiswa disabilitas mendapatkan hak, peran, dan akses yang sama selama berkuliah tanpa membeda-bedakan,” ucap Juniati.
Selain pendampingan langsung, ULD juga berkaitan dengan pendataan dan administrasi mahasiswa disabilitas. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan mahasiswa dapat diketahui dan dukungan yang diberikan kampus dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing mahasiswa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....