PMI Samarinda dan Tanoto Foundation Dorong Integrasi Data Donor Darah Nasional

  • 16 Sep 2026 10:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pengelolaan data donor darah menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi Palang Merah Indonesia (PMI). Saat ini, data elektronik pendonor yang tersedia masih bersifat lokal sehingga informasi donor dari satu daerah belum sepenuhnya terhubung dengan data PMI di daerah lainnya.

Perwakilan PMI Kota Samarinda, Dokter Nurul Hidayati, menjelaskan sistem pendataan yang digunakan memang merupakan program dari PMI pusat, tetapi penerapannya masih menggunakan identitas yang berbeda di setiap daerah. Kondisi tersebut membuat riwayat donor seseorang belum dapat terintegrasi secara nasional. "Jadi memang walaupun itu program dari pusat, dari PMI pusat, tetapi tidak mencakup nasional. Datanya hanya lokal," ujar Nurul dalam program Halo Kaltim RRI Samarinda, dikutip Rabu 16 September 2026.

Menurutnya, setiap daerah memiliki identitas pendonor masing-masing. Sebagai contoh, data pendonor yang tercatat di PMI Samarinda berbeda dengan data pendonor yang tercatat di PMI Balikpapan. Padahal, seorang pendonor dapat melakukan donor darah di daerah yang berbeda. "Data dari PMI Samarinda itu beda dengan Balikpapan. Jadi memang beda," kata Nurul.

Ia menyebutkan, integrasi data secara nasional setidaknya di lingkungan PMI masih menjadi pembahasan. Dengan sistem yang terintegrasi, riwayat donor seseorang dapat diketahui meskipun donor dilakukan di lokasi yang berbeda. "Minimal datanya nasional untuk PMI dulu. Jadi tahu pendonornya, walaupun pendonornya di mana-mana, datanya satu," ucap Nurul.

Flyer kegiatan Halo Kaltim edisi Kamis, 3 September 2026, bersama perwakilan dari PMI Kota Samarinda dan Tanoto Foundation. (Foto: RRI Samarinda)

Nurul berharap integrasi tersebut dapat terwujud dan pada tahap berikutnya dapat terhubung dengan sistem informasi kesehatan yang lebih luas. Menurutnya, keterhubungan data akan membantu proses pendataan sekaligus memudahkan pemantauan riwayat donor darah seseorang.

Sementara itu, Sistem Strengthening Unit Coordinator Tanoto Foundation, Ardi Kusumo, menilai ketersediaan data yang valid memiliki peran penting dalam mendukung berbagai program kemasyarakatan. Tanoto Foundation, kata dia, menjadikan pendekatan berbasis data sebagai salah satu perhatian dalam menjalankan programnya. "Salah satu hal yang menjadi concern kami adalah berbasis data," ujar Ardi.

Menurut Ardi, kebijakan dan kegiatan yang disusun berdasarkan data yang valid dapat membantu lembaga maupun pemerintah memahami kebutuhan masyarakat secara lebih tepat. Data yang terkelola dengan baik juga dapat memudahkan masyarakat ketika membutuhkan layanan atau bantuan tertentu.

Ia berharap organisasi perangkat daerah dan berbagai lembaga terkait dapat memperkuat sinergi dalam pengelolaan data. "Kalau memang semua kegiatan, semua kebijakan itu bisa didasarkan kepada data yang valid, itu akan sangat membantu sekali, terutama bagi masyarakat ketika membutuhkan sesuatu," kata Ardi.

Digitalisasi dan integrasi data, lanjut Ardi, tidak hanya relevan untuk kebutuhan donor darah. Sistem data yang saling terhubung juga dapat mendukung berbagai layanan masyarakat, termasuk program yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan pengembangan anak usia dini. Dengan data yang lebih terintegrasi, lembaga terkait memiliki dasar informasi yang lebih jelas dalam merancang dan menjalankan program.

Pembahasan mengenai integrasi data tersebut menjadi bagian dari dialog Halo Kaltim yang berlangsung bersamaan dengan kegiatan donor darah dalam rangkaian RRI Fest 2026 di Studio Sikarut RRI Samarinda. Kolaborasi antara RRI, PMI, dan Tanoto Foundation dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama lintas lembaga, baik dalam aksi kemanusiaan maupun dalam mendorong pemanfaatan data untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....