BGTK Kaltim Perkuat Pemahaman Guru PAUD melalui Gerakan Numerasi Nasional

  • 11 Sep 2026 12:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Webinar Etam Kayuh Bebaya bertema “Gerakan Numerasi Nasional di PAUD”, pada Kamis 10 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi guru dan tenaga kependidikan untuk memperkuat pemahaman serta penerapan numerasi sejak pendidikan anak usia dini.

Kepala BGTK Kaltim, Wiwik Setiawati, mengatakan peningkatan kapasitas dan kompetensi pendidik perlu terus dilakukan karena kebutuhan peserta didik terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi yang berlangsung cepat juga menuntut guru untuk terus memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan metode pembelajaran.

“Webinar Etam Kayuh Bebaya ini sebagai wadah kita untuk belajar bersama dan berbagi bersama. Ketika menghadapi peserta didik setiap hari, tentu diperlukan kapasitas, kemampuan, serta kompetensi yang harus selalu kita tingkatkan,” kata Wiwik.

Menurut Wiwik, perubahan zaman yang berlangsung dari era mesin ketik hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menunjukkan pentingnya kemampuan guru untuk beradaptasi. Pendidik tidak hanya dituntut menguasai metode pembelajaran, tetapi juga memahami kebutuhan generasi peserta didik yang terus berubah.

Wiwik menjelaskan Gerakan Numerasi Nasional telah dicanangkan pemerintah sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam menggunakan pengetahuan dan penalaran matematika. Namun, pemahaman mengenai numerasi masih perlu diperluas karena sebagian masyarakat masih menganggapnya sama dengan mata pelajaran matematika.

Numerasi merupakan kecakapan hidup yang dapat digunakan seseorang dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari, mengambil keputusan berdasarkan data, serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pengenalan konsep numerasi perlu dilakukan sejak fase pondasi, termasuk melalui pembelajaran di PAUD.

Dalam webinar tersebut, peserta juga diberikan ruang untuk berbagi praktik baik dan pengalaman penerapan numerasi di sekolah masing-masing. “Tidak hanya narasumber yang bisa berbagi, Bunda-bunda juga bisa menyampaikan praktik baik, solusi, atau permasalahan yang pernah dihadapi sehingga kita bisa belajar dan mencari solusi bersama,” ujar Wiwik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....