350 Siswa SMA Negeri 6 Palaran Belajar Budaya Dayak Secara Langsung di Pampang
- 11 Sep 2026 14:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sekitar 350 siswa SMA Negeri 6 Palaran mengikuti pembelajaran kontekstual di Lamin Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur. Pada kamis 10 September 2026, Kegiatan ini menjadi ruang belajar di luar kelas bagi siswa untuk mengenal secara langsung budaya Dayak, khususnya kehidupan dan tradisi masyarakat Dayak Kenyah.
Kepala SMA Negeri 6 Palaran, Jarnuji Umar mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata dan bermakna, dengan melihat serta berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran.
Menurutnya, pembelajaran tidak seharusnya hanya berlangsung melalui buku maupun penjelasan guru di ruang kelas. Kehadiran siswa di Pampang diharapkan dapat membuat mereka memahami budaya secara lebih utuh melalui pengalaman langsung.
"Kami ingin siswa tidak hanya mempelajari budaya dari buku atau materi yang disampaikan guru di kelas, tetapi mereka dapat datang langsung, melihat, mendengar, mengamati, dan berinteraksi dengan lingkungan budaya tersebut," kata Jarnuji.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran lintas mata pelajaran. Para siswa mempelajari berbagai aspek budaya Pampang melalui perspektif Sejarah, Ekonomi, Seni, Sosiologi, hingga Bahasa Indonesia.
Dari sisi sejarah, siswa diajak memahami perkembangan masyarakat dan budaya Dayak Kenyah serta bagaimana warisan tersebut tetap dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sementara dari bidang seni, siswa dapat mengamati langsung pertunjukan tari, musik, kostum, properti, hingga berbagai simbol dan makna yang terkandung di dalamnya.
Tidak hanya itu, siswa juga mengamati kehidupan sosial masyarakat, interaksi dengan wisatawan, nilai dan norma yang berkembang, serta perubahan sosial yang terjadi. Dari perspektif ekonomi, siswa mempelajari bagaimana budaya dapat menjadi potensi ekonomi melalui pariwisata, kerajinan, dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Jarnuji menambahkan, pembelajaran Bahasa Indonesia juga diterapkan melalui kegiatan observasi dan wawancara. Siswa diarahkan untuk menggali informasi, membedakan fakta dan opini, kemudian mengolah hasil pengamatan menjadi tulisan maupun produk informasi.
"Jadi, siswa tidak hanya melihat budaya, tetapi mereka belajar membaca sebuah realitas budaya secara lebih utuh dan kritis," ujarnya.
Antusiasme siswa terlihat selama mengikuti pembelajaran langsung di Lamin Pampang. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga melakukan pengamatan, berdiskusi dalam kelompok, mendokumentasikan kegiatan, serta menggali informasi sesuai tugas projek dari masing-masing mata pelajaran.

Menurut Jarnuji, pembelajaran di luar kelas membuat rasa ingin tahu siswa semakin kuat karena mereka dapat melihat secara langsung objek yang selama ini dipelajari secara teori. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konsep pembelajaran yang diberikan di sekolah memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata di tengah masyarakat.
Selain pengetahuan akademik, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, menjaga warisan budaya, menghargai keberagaman, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas menjadi sejumlah nilai yang ingin ditanamkan kepada siswa.
Jarnuji berharap kegiatan pembelajaran kontekstual tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan tidak berhenti sebagai kegiatan kunjungan semata. Menurutnya, lingkungan sekitar memiliki sumber belajar yang sangat kaya dan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman siswa.
"Yang kami bangun bukan sekadar tradisi outing, tetapi budaya belajar di mana siswa dapat menghubungkan teori dengan realitas kehidupan," katanya.
Ia berharap pengalaman belajar di Pampang mampu meningkatkan kecintaan dan kepedulian siswa terhadap budaya lokal Kalimantan Timur. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya dari buku maupun media sosial, tetapi memahami, menghargai, dan memiliki kepedulian untuk menjaga keberlangsungannya.
"Kami ingin siswa pulang dari Pampang bukan hanya membawa foto dan pengalaman, tetapi membawa pemahaman, rasa bangga, dan kesadaran bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga budaya lokal Kalimantan Timur," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....