Samarinda Utara Sudah Dilanda 6 Kali Karhutla Selama Kemarau
- 07 Sep 2026 07:28 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat seiring kondisi cuaca panas dan kering di wilayah Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Pemerintah Kelurahan Sungai Siring bahkan mencatat telah terjadi sedikitnya enam kali kebakaran lahan selama periode kemarau.
Kepala Seksi Pemerintahan, Ketentraman, dan Ketertiban, Kelurahan Sungai Siring, Yusriansyah, mengatakan pemerintah kelurahan bersama sejumlah pihak terus melakukan pemantauan terhadap lokasi-lokasi yang dinilai rawan terbakar. Patroli dilakukan secara rutin untuk mengantisipasi munculnya titik api, terutama di kawasan lahan kering, semak belukar, bekas tambang, dan area pertanian.
“Untuk mengatasi kebakaran ini sangat-sangat kita perhatikan. Pemerintah Kelurahan Sungai Siring mengadakan patroli,” ujar Yusriansyah, saat dialog bersama RRI dalam program Kentongan, Selasa 1 September 2026.
Menurutnya, patroli dilakukan sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan dengan menyisir sejumlah titik rawan kebakaran. Selain patroli, pemerintah kelurahan juga aktif menyosialisasikan pencegahan karhutla kepada masyarakat. Imbauan disampaikan secara langsung kepada warga maupun melalui grup komunikasi tingkat rukun tetangga (RT).
“Kami bersosialisasi kepada masyarakat, kepada warga, kepada grup-grup RT. Artinya, kami mengimbau jangan sampai membuka lahan dengan cara membakar,” kata Yusriansyah.
Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Tidak hanya pembukaan lahan dengan cara membakar, membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah juga menjadi perhatian serius pemerintah kelurahan.
“Membakar sampah juga dilarang keras. Kami sosialisasi terus karena itu sudah diatur dalam undang-undang,” ucap Yusriansyah.
Ia menegaskan, masyarakat yang melakukan pelanggaran dapat dilaporkan melalui aparat terkait, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Berdasarkan pemantauan pemerintah kelurahan, hingga awal September telah terjadi enam kejadian kebakaran lahan di wilayah Sungai Siring. Kondisi tersebut cukup menyulitkan petugas karena kebakaran terjadi ketika sumber air di sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan akibat kemarau.

“Jadi hingga hari ini sudah ada enam kali kebakaran lahan. Cukup menyulitkan juga. Artinya, kami bekerja sama dengan relawan-relawan untuk memadamkan kebakaran itu,” ujar Yusriansyah.
Salah satu kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di sekitar kawasan dekat bandara. Lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar setengah hektare. Lokasi tersebut bukan merupakan lahan pertanian, melainkan lahan yang tidak dikelola dan berada cukup dekat dengan permukiman warga.
“Yang paling besar ada di dekat daerah bandara. Itu sekitar setengah hektare. Itu cukup besar juga apinya,” kata Yusriansyah.
Untuk mempercepat proses pemadaman, pemerintah kelurahan mengandalkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta pihak terkait lainnya. Sejumlah titik sumber air, seperti sumur bor, embung, dan danau, telah dipetakan sebelumnya sehingga dapat segera digunakan ketika terjadi kebakaran.
“Kami dengan BPBD saling berkoordinasi. Titik-titik sumur bor, embung, atau danau sudah kami koordinasikan. Jadi, begitu mereka sampai ke Sungai Siring, mereka sudah menuju koordinat itu untuk mengambil air,” ucap Yusriansyah.
Menurutnya, pemetaan sumber air tersebut cukup membantu petugas dalam mempercepat penanganan kebakaran. Dengan mengetahui lokasi sumber air, petugas pemadam tidak perlu mencari titik pengambilan air ketika sudah berada di lokasi kejadian.
Terkait penyebab kebakaran, Yusriansyah menyebut terdapat sejumlah faktor. Salah satunya adalah kelalaian masyarakat, terutama aktivitas pembakaran sampah. Selain itu, kondisi bekas tambang juga dinilai berpotensi menjadi sumber munculnya api ketika memasuki musim kemarau.
“Ada berbagai macam. Mungkin salah satunya ada kelalaian dari masyarakat yang membakar sampah,” ujar Yusriansyah.
Ia menjelaskan, sejumlah kawasan bekas tambang masih memiliki kondisi yang berpotensi menghasilkan asap. Ketika kemarau berlangsung cukup panjang dan kondisi lingkungan semakin kering, api dapat merambat ke semak belukar di sekitarnya.
“Di bekas tambang itu masih ada asap-asapnya. Begitu musim kemarau yang agak panjang, api itu merambat ke semak-semak belukar,” kata Yusriansyah.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat Sungai Siring dan wilayah Samarinda Utara agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pemerintah mengingatkan bahwa kebakaran dapat bermula dari aktivitas sederhana, tetapi dengan kondisi lahan yang kering dan angin yang mendukung, api dapat dengan cepat meluas.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang. Pemerintah kelurahan bersama BPBD dan relawan juga akan terus melakukan patroli serta memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi karhutla.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....