BBPOM Samarinda Ingatkan SPPG Waspadai Zona Bahaya Suhu Pangan

  • 01 Sep 2026 15:57 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pengendalian suhu menjadi salah satu aspek penting dalam mencegah Kejadian Luar Biasa atau KLB keracunan pangan pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG diminta memastikan bahan pangan dan makanan matang disimpan pada suhu yang sesuai.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya BBPOM di Samarinda, Christine Natalia Panjaitan, menjelaskan ketidaktepatan suhu penyimpanan dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri. Karena itu, setiap dapur MBG harus memiliki termometer yang sesuai dan melakukan pencatatan suhu secara berkala.

Christine menyebut bahan pangan dingin yang akan segera diolah harus disimpan pada suhu kurang dari 5 derajat Celsius. Sementara bahan pangan beku seperti daging, ikan dan makanan laut yang belum akan digunakan perlu disimpan pada suhu beku sesuai persyaratan penyimpanan.

“Pemantauan suhu selalu gunakan termometer terkalibrasi dan catat hasilnya di formulir monitoring suhu,” kata Christine saat memberikan materi dalam Bimtek Pencegahan KLB Keracunan Pangan, pada Selasa 1 September 2026.

Christine juga mengingatkan adanya zona suhu berbahaya atau danger zone, yakni kisaran 5 hingga 60 derajat Celsius yang memungkinkan bakteri berkembang dengan cepat. Kondisi tersebut perlu dihindari terutama pada makanan siap saji yang tidak langsung dikonsumsi.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya BBPOM di Samarinda, Christine Natalia Panjaitan, saat menjelaskan danger zone. (foto: RRI/zul)

"Makanan yang sudah matang harus segera disajikan atau disimpan pada suhu yang tepat apabila tidak langsung dikonsumsi. Untuk makanan siap saji yang berada pada suhu ruang, pengelola harus memperhatikan batas waktu agar makanan tidak terlalu lama berada dalam kondisi yang memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme," ujarnya.

Menurut Christine, kapasitas tempat penyimpanan juga harus disesuaikan dengan jumlah bahan pangan yang dikelola setiap dapur. “Kita lihat jumlah kapasitas pangan kita, kemudian kita lihat tempat penyimpanan. KLB ini sering terjadi karena suhu penyimpanan yang tidak tepat,” ujarnya.

Karena itu, pengelola SPPG diminta melakukan evaluasi rutin terhadap fasilitas penyimpanan, termasuk ketersediaan chiller dan freezer. Pengendalian suhu yang konsisten dari bahan baku hingga makanan siap dikirim ke sekolah diharapkan mampu menekan risiko keracunan pangan dalam pelaksanaan MBG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....