Dari Sampah Jadi Tabungan, Mahasiswa Bangkitkan Kembali Bank Sampah Sungai Meriam

  • 24 Agt 2026 16:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Kutai Kartanegara - Sampah rumah tangga yang selama ini lebih sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Di Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, sampah mulai dilihat sebagai sesuatu yang masih dapat dikumpulkan dan memiliki nilai ekonomi.

Hal itu terwujud melalui program Bank Sampah gagasan Amerta Mahakam, Kelompok KKN Kolaborasi Universitas Mulawarman dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur. Program tersebut sekaligus ditandai dengan peluncuran Buku Tabungan Bank Sampah di Desa Sungai Meriam.

Ketua KKN Kolaborasi Amerta Mahakam Desa Sungai Meriam, Ekmal Muhammad Firyal, mengatakan Bank Sampah dirancang sebagai bagian dari edukasi keuangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Program kali ini kami menjalankan bank sampah yang terintegrasi dengan program kerja lainnya, dari sentra perikanan dan juga stunting. Sampah anorganik menjadi investasi dalam buku tabungan bank sampah yang kami luncurkan,” ujar Ekmal, dikutip rri.co.id, Senin, 24 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, masyarakat kini dapat membawa sampah yang telah dipilah dari rumah ke Bank Sampah di lokasi Sarimas Desa Sungai Meriam. Setiap setoran kemudian dicatat dalam buku tabungan sehingga masyarakat dapat mengetahui nilai ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan.

Menurut Ekmal, buku tabungan menjadi bagian penting karena masyarakat tidak hanya diajak memilah sampah, tetapi juga mulai mengenal kebiasaan mencatat dan mengelola sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

“Ini akan menjadi catatan dan membuat keuangan mandiri di keluarga Desa Sungai Meriam. Ini pertama kali bank sampah dijalankan dalam bentuk bangunan dan mempunyai buku tabungan, terintegrasi dan juga terorganisir,” ucapnya.

Selain mengubah nilai sampah menjadi rupiah, Ekmal mengatakan, sampah organik yang terkumpul dari warga juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan maggot sebagai bagian dari program Sentra Perikanan.

Maggot tersebut dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi pembudidaya ikan. Hasil perikanan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bergizi yang mendukung upaya pencegahan stunting.

Warga Desa Sungai Meriam saat menunjukkan buku tabungan sampah. (Foto: Universitas Mulawarman)

Melihat inovasi dari Kelompok KKN Amerta Mahakam, Sekretaris Desa Sungai Meriam, Sariati, menilai keberadaan Bank Sampah memang dibutuhkan untuk mengurangi penumpukan sampah rumah tangga.

“Sangat perlu diadakan karena kita sudah ada pengelolaan sampah yang dikumpulkan. Kalau bank sampah ini dihidupkan kembali, semakin banyak sampah yang bisa dikurangi, terutama yang menumpuk di TPS dan TPU,” ujar Sariati.

Selain mengurangi volume sampah, ia juga melihat Bank Sampah dapat menjadi sarana untuk membentuk kebiasaan masyarakat memilah sampah.

“Kalau misalnya dipilah, masyarakat sudah paham bahwa sampah ini bisa menghasilkan. Bisa juga dibuang dengan meminimalisir, bisa lebih sedikit dari dipilah, bisa diolah jadi pupuk, bisa dijadikan hasil ekonomi,” kata dia.

Sementara itu, Perwakilan Kecamatan Anggana, Linawati, turut mengapresiasi keberadaan Bank Sampah di Desa Sungai Meriam.

Ia juga berharap program ini tidak hanya berjalan di desa tersebut, tetapi juga mendorong agar konsep serupa dapat dikembangkan di desa-desa lain di Kecamatan Anggana.

“Sampah-sampah yang ada di Sungai Meriam bisa tertampung dan ini juga bisa untuk ekonomi masyarakat, untuk menambah pemasukan. Saya mendukung sekali. Kalau bisa bukan cuma di Sungai Meriam, tetapi seluruh desa yang ada di Kecamatan Anggana ini memiliki bank sampah,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....