Musim Kemarau dan Ombak Besar Tekan Penghasilan Nelayan Bontang
- 20 Agt 2026 10:19 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Bontang - Musim kemarau yang berlangsung di Kalimantan Timur turut memengaruhi aktivitas dan penghasilan nelayan di Kota Bontang. Kondisi gelombang yang masih tinggi membuat nelayan tidak dapat melaut secara normal sehingga hasil tangkapan dan pendapatan ikut menurun.
Nelayan Bontang, Saparuddin, kepada RRI, Kamis 20 Agustus 2026, mengatakan penghasilan nelayan saat ini tidak lagi memadai seperti pada kondisi musim normal. Menurutnya, memasuki Agustus, kondisi gelombang menjadi salah satu kendala utama yang membatasi waktu melaut.
“Penghasilan kurang karena musim ombak. Kadang setengah malam ombaknya baru reda, baru kita bisa keluar. Kadang ada hasil, kadang tidak sama sekali,” ujarnya.
Saparuddin menjelaskan, pada kondisi normal nelayan dapat melaut selama satu malam penuh. Namun, ketika gelombang tinggi, waktu melaut menjadi lebih singkat. Bahkan, nelayan terpaksa kembali ke daratan apabila kondisi laut tidak kunjung membaik.
Ia menyebut, salah satu cara yang dilakukan nelayan untuk menyiasati kondisi tersebut adalah menunggu hingga gelombang mereda. Jika memungkinkan, nelayan tetap berada di laut dan berlabuh sementara sebelum melanjutkan aktivitas penangkapan ikan.
“Kalau ombaknya tidak berhenti, kami pulang. Kadang berjangkar saja di laut setengah malam. Kalau ombak tidak berhenti, ya pulang begitu saja,” katanya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan keluarga nelayan. Saparuddin mengaku tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan ketika aktivitas melaut terganggu. Karena itu, pendapatan keluarga sangat bergantung pada kondisi laut dan hasil tangkapan.
Di sisi lain, Saparuddin mengatakan melaut bukan hanya persoalan mencari penghasilan, tetapi juga memiliki risiko keselamatan. Angin kencang dan gelombang tinggi menjadi tantangan yang harus dihadapi nelayan, terutama ketika perubahan cuaca terjadi saat berada di tengah laut.
“Kalau kita di laut mau lari juga tidak bisa. Namanya di laut dalam, kita tidak bisa ke mana-mana, tetap menunggu situasi reda,” ucap Saparuddin.
Menurut Saparuddin, risiko tersebut tetap dijalani sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga. Ia menyebut perjuangan di laut dilakukan demi memenuhi kebutuhan anak dan istri, meskipun kondisi cuaca membuat penghasilan tidak selalu dapat dipastikan.
Saparuddin juga mengungkapkan belum pernah menerima bantuan pemerintah ketika pendapatan nelayan mengalami penurunan. Ia mengaku sempat mengetahui adanya pembagian sembako kepada masyarakat, tetapi keluarganya tidak termasuk penerima.
Meski demikian, ia tetap berharap kondisi gelombang segera membaik sehingga nelayan dapat kembali melaut secara normal. Sebab, semakin terbatas waktu melaut, semakin besar pula dampaknya terhadap hasil tangkapan dan pendapatan keluarga nelayan.
Selain menangkap ikan, Saparuddin terkadang memperoleh penghasilan tambahan dari jasa penyeberangan menuju Pulau Beras Basah. Namun, aktivitas tersebut juga bergantung pada kesepakatan tarif dengan penumpang dan kondisi yang memungkinkan untuk berlayar.
Ia mengatakan tarif penyeberangan biasanya ditentukan berdasarkan kesepakatan antara nelayan dan penumpang. Jika harga yang disepakati masih memberikan keuntungan, perjalanan akan dilakukan.
Bagi Saparuddin, kondisi laut menjadi faktor utama yang menentukan penghasilan nelayan. Di tengah musim kemarau dan gelombang yang masih tinggi, nelayan harus menyesuaikan waktu melaut dengan kondisi cuaca sekaligus mempertimbangkan keselamatan sebelum mencari hasil tangkapan. ( Penulis Magang Sunesti)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....