BIMA Kemendiktisaintek Dorong PKM Unmul Olah Sampah Jadi Maggot
- 17 Agt 2026 16:19 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sampah organik di kawasan wisata selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Namun, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Mulawarman, sampah organik di Desa Budaya Pampang justru dikembangkan menjadi peluang pemberdayaan masyarakat melalui budidaya Maggot.
Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Budidaya Maggot dalam Mendukung Kebersihan dan Ketahanan Ekowisata Desa Budaya Pampang” merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun pendanaan 2026 yang didanai melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan penyaluran melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman.
Program ini merupakan kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Pertanian (Faperta) bidang Peternakan dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman. Tim terdiri atas Apdila Safitri, sebagai ketua, Karenina Dwi Yulianti, dan Ziya Ibrizah, sebagai anggota, serta melibatkan mahasiswa Peternakan, Muhammad Rifani Akbar dan Nadia Raihana.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Budaya Pampang. Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi pengelolaan sampah, pemilahan sampah organik, pengolahan dan fermentasi media pakan, teknik budidaya maggot, penerapan teknologi tepat guna, pendampingan produksi, manajemen usaha, branding, pengemasan, hingga pemasaran digital.
Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah, tetapi juga membangun peluang ekonomi berbasis potensi lokal. Hasil budidaya maggot dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi berupa maggot kering dan pupuk kompos atau kasgot.
Ketua Tim PKM, Apdila Safitri, mengatakan bahwa pendampingan menjadi bagian penting dalam memastikan program dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
“Pelaksanaan PKM tidak berhenti pada pemberian materi. Tim juga melakukan pendampingan kepada mitra dalam pengolahan sampah organik, budidaya maggot, pengelolaan usaha, hingga branding dan pemasaran digital. Pendekatan tersebut diarahkan agar masyarakat mampu mengembangkan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Apdila kepada RRI Samarinda.
Manfaat program juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketua Pokdarwis Desa Budaya Pampang, Yusak, mengatakan bahwa pengelolaan sampah merupakan salah satu persoalan utama di kawasan tersebut.
“Program ini sangat efektif, karena di Pampang memang permasalahan utamanya adalah pengelolaan sampah. Dengan adanya PKM ini, kami merasa sangat terbantu. Warga mendapatkan insight baru dan membuka peluang lapangan pekerjaan melalui budidaya maggot dan memasarkannya secara digital seperti pelatihan yang telah diberikan,” ujar Yusak.
Seluruh rangkaian kegiatan PKM telah diselesaikan pada 11 Agustus 2026. Program ini diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat sehingga pengelolaan sampah organik tidak hanya mendukung kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperkuat ketahanan ekowisata Desa Budaya Pampang. (Ziya Ibrizah).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....