KTH Mangrove Borneo Edukasi Petambak soal Status Lahan Rehabilitasi
- 01 Agt 2026 17:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kutai Kartanegara - Kekhawatiran masyarakat bahwa lahan tambak akan diambil setelah mengikuti program rehabilitasi menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan mangrove di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi tersebut membuat kelompok masyarakat perlu melakukan pendekatan dan dialog secara berkelanjutan dengan para petambak.
Ketua Kelompok Tani Hutan Mangrove Borneo, Andi Firmansyah, mengatakan sebagian petambak masih khawatir penanaman mangrove akan mengganggu aktivitas budidaya. Sebagian warga juga mempertanyakan status lahan serta kemungkinan adanya perubahan hak pengelolaan setelah mengikuti program rehabilitasi.
“Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah tambak akan diambil pemerintah jika mengikuti rehabilitasi mangrove. Karena itu, kami terus memberikan penjelasan bahwa program ini bertujuan memulihkan ekosistem dan tidak serta-merta mengambil tambak masyarakat,” ujar Firman pada Jumat, 31 Juli 2026.
Selain persoalan status lahan, masyarakat juga mempertanyakan kemungkinan kompensasi apabila kawasan tambak terdampak kegiatan eksplorasi minyak dan gas. Desa Sepatin berada di kawasan pesisir Delta Mahakam yang memiliki aktivitas industri migas sehingga persoalan tersebut menjadi perhatian petambak.
Firman menjelaskan, berdasarkan pengalaman di lapangan, terdapat lahan tambak yang tetap memperoleh kompensasi meskipun telah mengikuti kegiatan rehabilitasi mangrove. Informasi tersebut menjadi salah satu bahan edukasi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program.
Tantangan lain berasal dari kondisi alam, terutama pasang surut air dan keberadaan predator di kawasan pesisir. Kelompok masyarakat harus menyesuaikan kegiatan pembibitan dan penanaman dengan kondisi lingkungan agar tingkat keberhasilan rehabilitasi dapat meningkat.
"Minat masyarakat untuk mengikuti rehabilitasi mulai meningkat sejak diterapkannya pola tanam yang memadukan mangrove dengan tambak atau silvofishery," ujar Firman. Pola tersebut dinilai mampu menjaga fungsi produksi tambak tanpa mengabaikan pemulihan ekosistem mangrove.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....